
Haras dan Raka membiarkan kedua orang ini di dalam ruangan. Mereka tidak ingin mencampuri kebahagiaan yang sedang di rasakan direktur mereka.
"Jadi kamu lah yang pertama di hubungi oleh Pak Banu?" tanya Haras.
"Ya. Mungkin karena aku adalah orang paling dekat selain direktur. Bukan dekat secara emosional, tapi dekat karena aku adalah bawahannya."
"Kenapa Pak Banu bisa langsung bergerak normal padahal beliau sudah lama koma?" tanya Haras merasa aneh.
"Itu mungkin suatu mukjizat, Senior. Keberuntungan memihak pada Pak Banu. Sebaiknya Senior bisa tanyakan pada pihak rumah sakit. Bagaimana keadaan Pak Banu setelah pulih dari koma," usul Raka.
"Tentu. Karena sadarnya dia dari koma terlalu mendadak. Seolah-olah dia di bangunkan tepat di saat Direktur membutuhkannya," imbuh Haras.
Di dalam ruangan, keadaan juga sama seperti yang di luar. Cahaya begitu bahagia bisa melihat keponakannya kembali.
"Kenapa bibi tidak tahu kalau kamu akan sadar dari koma, Banu?" tanya Cahaya takjub sambil memijit lengan keponakannya dengan gemas.
"Anggap saja ini sebuah kejutan," kata Banu sedikit asal. Dia juga tidak mengerti kenapa ia bangun dari koma tiba-tiba. Bahkan tanpa drama apa-apa. Namun dia sengaja tidak menghubungi bibi Cahaya demi menjaga kehebohan.
Di ruang perawatan sebelum Banu muncul di perusahaan. Matanya terbuka perlahan. Ia akhirnya bisa melihat semua hal yang ada di dalam ruang perawatan, selanjutnya. Setelah melihat ke kanan dan kiri, ia mencoba melihat ke arah tubuhnya sendiri. Banyak selang pada tubuhnya yang terhubung dengan mesin mesin di kepala ranjang.
Krek! Pintu terbuka. Banu yang sudah bangkit dari tidurnya melihat ke arah pintu.
"Oh, Anda bangun?! Ini keajaiban!" seorang perawat takjub atas kembalinya kesadaran Pak Banu. "Saya harus menghubungi direktur."
"Tidak. Jangan menghubungi siapapun. Jangan katakan pada siapa-siapa kalau aku sudah bangun," cegah Banu segera.
"B-benarkah tidak apa-apa?" tanya perawat itu ragu.
"Tidak apa-apa. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku tidak akan menuntut mu. Tolong sekarang lepaskan selang yang ada pada tubuhku," kata Banu tegas dan meyakinkan. Akhirnya perawat itu mendekat ke arah Banu dan membantu membuka semua selang di tubuh Banu. "Bisa aku minta tolong telepon seseorang?" pinta Banu.
"Ya, Pak. Saya bisa membantu Anda." Perawat itu menyanggupi. Ternyata Banu meminta menelepon Raka.
"P-pak Banu?" Sesampainya di ruang perawatan, Raka juga terkejut dan takjub. "Bapak sudah sadar?"
__ADS_1
"Kamu membawa pakaian yang aku minta?" tanya Banu tanpa menjawab. Pria ini sudah membersihkan diri sendiri tadi.
"Ya. Saya membawanya. Meskipun perasaan saya campur aduk antara percaya dan tidak percaya Anda sudah bangun, saya tetap membeli ini di butik." Raka menyerahkan tas kertas yang berisi pakaian untuk Pak Banu.
"Aku akan berganti pakaian. Jaga pintu. Jangan ada yang sampai masuk."
"Siap, Pak."
"Bagaimana keadaan perusahaan, apakah baik-baik saja?" tanya Banu dengan mengganti pakaiannya.
"Tidak, Pak. Pagi ini ada rapat para eksekutif."
"Apa itu soal ingin mengganti posisiku?" tebak Banu tepat.
"Ya. Saat ini direktur Cahaya kewalahan harus mengulur waktu hingga Anda bangun dari koma," jelas Raka.
"Bibi pasti sudah lelah," gumam Banu. Ponsel Raka berbunyi. Mili! teriak Raka senang di dalam hati. Banu yang sudah selesai berpakaian melirik. "Cepat angkat telepon itu segera dan selesaikan bicara dengan cepat," perintah Banu dengan kalimat dingin.
"Siapa dia? Cepat bicara atau matikan ponselmu," tegas Banu. Raka terkejut. Ia sempat terdiam sejenak. Tertegun mendengar kalimat Pak Banu. "Kita harus segera ke tempat rapat, Raka," desis Banu.
"Ya, Pak." Raka patuh meski dia kebingungan dengan respon Pak Banu mengenai Mili. "Halo, Mili. Maaf. Aku tidak bisa bicara sekarang. Disini akan ada rapat, aku sibuk." Raka terdengar tergesa-gesa.
"Ya, Kak maaf."
Klik. Raka menutup ponselnya dengan perasaan tidak menentu. Ada apa ini? Kenapa Pak Banu tidak mengingat Mili sama sekali? Maafkan aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, Mili. Kamu pasti sakit hati jika tahu respon Pak Banu.
Kembali di ruangan Cahaya.
"Entah bagaimana perjalanan mu hingga sampai sadar, Banu. Aku sangat bersyukur kamu kembali. Keadaan perusahaan kacau karena kamu tidak ada. Namun sekarang aku bisa tenang." Bibi Cahaya terdengar sangat lega.
"Maafkan aku, Bi. Pasti bibi lelah dan kewalahan menangani semuanya sendirian," kata Banu merasa bersalah.
"Aku tidak sendiri Banu. Ada Haras yang menemaniku. Dia bawahan yang setia," ujar Cahaya.
__ADS_1
"Soal Haras, apa bibi yakin dia bawahan yang setia?"
"Apa yang kamu tanyakan, Banu? Tentu saja dia orang yang setia." Nada bicara Cahaya meninggi menanyakan pertanyaan keponakannya. Beliau tidak terima Haras di pandang buruk oleh keponakannya. "Meskipun dia lebih muda dariku, aku yakin akan kesetiaannya padaku.'
"Menurut bibi, apa dia adalah bawahan yang setia, atau ... dia adalah pria yang setia?" Banu mengulang pertanyaan dengan lebih jelas. Cahaya melebarkan mata dengan wajah sedikit memerah.
"A-apa yang kamu katakan? Soal apa ini?" tanya Cahaya gugup. Banu terdiam dan mengamati bibinya.
"Baiklah. Percakapan kita usai. Aku harus bekerja."
"Tidak. Kamu baru saja sadar dari koma. Kamu harus beristirahat, Banu. Jangan membantah."
"Jangan bibi. Aku tidak boleh beristirahat karena di luar sana banyak yang mengincar ku. Aku tidak bisa tenang. Aku harus langsung bekerja."
"Hhh ... " Cahaya memijit kepalanya. Banu mendekat sambil menepuk punggung tangan Bibinya.
"Aku tahu bibi pasti khawatir, tapi tetap tenanglah. Aku tidak akan kalah lagi dari mereka."
"Kamu satu-satunya keluarga bibi. Jadi bibi harap kamu harus hati-hati. Bibi tidak ingin kehilangan dirimu," kata Cahaya memohon.
"Aku tahu bibi. Jika begini, apa sebaiknya kita menambah anggota keluarga saja?" tanya Banu sambil mengusap dagunya.
"Menambah anggota keluarga? Apa maksudmu?" tanya Cahaya bingung. Banu melirik pintu keluar.
"Ya, jika ada satu lagi anggota keluarga, sepetinya keluarga kita makin kuat dan aman."
"Apa kamu menyuruh bibi melakukan kencan buta dengan salah satu anak pengusaha biar kita berdua aman?" Bibi Cahaya melipat tangan dengan pandangan tidak setuju.
"Hmmm ... " Banu tersenyum tipis. "Itu tidak mungkin. Apa artinya aku ada jika aku menjual bibi dengan cara seperti itu," dengus Banu. "Tidak perlu mencari pria yang seperti itu. Cukup bibi cari saja pria baik yang mencintai bibi, juga yang bibi cintai. Soal perusahaan, aku yakin bisa mengatasinya," kata Banu penuh sayang pada bibi yang menggantikan peran orangtua untuknya.
..._______...
__ADS_1