
Banu melangkahkan kaki menuju ruangan milik Cahaya. Setelah mendengar kabar soal perempuan itu mendatangi Mili dari Raka, dia bergegas menemui bibinya.
Brak!
Tanpa mengetuk, Banu membuka pintu ruangan dengan keras. Di dalam ruangan, Cahaya yang sedang melihat ke layar komputer di depannya, langsung menoleh cepat ke arah pintu.
"Banu?" Melihat ternyata itu keponakannya, Cahaya tidak langsung marah. Beliau justru heran. "Kenapa kamu tidak mengetuk pintu? Bahkan membuka pintu dengan keras dan tidak sopan," tegur Cahaya. Ekspresi wajahnya datar.
"Itu seperti apa yang sudah bibi lakukan. Aku juga tidak perlu mengatakan permisi untuk sesuatu yang menurutku benar," ujar Banu menyindir tindakan Cahaya pada Mili.
"Apa maksud mu?" tanya Cahaya menghentikan pekerjaannya. Ia juga melepas kacamata yang dipakainya. Kalimat Banu tidak dimengerti olehnya.
"Kenapa bibi menemui Mili?" tanya Banu dengan rahang mengeras ingin meluapkan amarah. Dia ingin langsung tahu alasan Cahaya tanpa perlu berputar-putar.
Mendengar nama gadis itu, Cahaya sedikit tersentak. Menurutnya tidak ada yang tahu soal ini kecuali gadis itu dan Haras.
__ADS_1
"Oh, gadis itu?" tanya Cahaya yang merasa tidak perlu lagi bersembunyi. "Jadi gadis itu mengadu padamu?" raut wajah Cahaya terlihat tenang.
"Tidak. Dia bukan orang yang seperti itu. Aku yang tidak setuju bibi menemuinya,” sahut Banu cepat. Dia tidak ingin Mili di cap sebagai pengadu.
"Apakah kamu benar-benar mengenalnya?" tanya Cahaya. Dia yakin pria ini tidak kenal dengan Mili.
"Aku bertanya karena aku mengenalnya, Bibi ..." ujar Banu gusar.
“Bibi baru tahu kamu mengenal gadis ini.” Cahaya yakin gadis itu berbohong soal mengenal Banu dulu.
"Apa kamu tahu siapa sebenarnya gadis itu?" Cahaya melipat tangannya.
Banu diam. Dia memang tidak mengenal persis siapa gadis itu. Banu tidak bisa menjawab dengan tegas.
“Katakan saja apa tujuan bibi. Jangan membuatku pusing mencari jawabannya sendiri." Banu tidak sabar.
__ADS_1
“Hhh ... tidak banyak yang bisa di bicarakan dengannya. Kamu tahu, dia itu orang yang mengatakan pada Dirga tempat kamu masih dalam keadaan koma waktu itu. Dia berkhianat. Itu sangat berbahaya. Dirga bisa melakukan apa saja pada kamu yang tidak bisa melakukan apa-apa waktu itu.” Jika ingat waktu itu, Cahaya begitu emosional. Dia merasa pantas marah dan memecat gadis itu secara sepihak.
“Lalu bibi menyuruhnya menjauhi ku?” desak Banu. “Kenapa? Aku berhak dekat dengan siapa saja.”
“Kamu masih ingin dekat setelah dia ingin mencelakai mu dengan mengungkap keberadaan mu saat koma pada musuh?" tanya Cahaya heran. Keningnya berkerut.
"Jangan menjadikan itu alasan untuk menekannya menjauh dari ku bibi. Katakan saja tujuan bibi yang sebenarnya." Nada bicara Banu naik. Dia kesal. "Kenapa Mili harus menjauhi ku?!"
"Kamu tidak bisa dekat dengannya. Kamu harus menikah dengan Mofa. Dengan begitu, posisimu akan semakin kuat, Banu. Kamu tidak bisa bermain-main. Kamu harus kuat melawan orang-orang perusahaan yang ingin mencelakai mu. Aku yakin setiap hari mereka mengincar mu, Banu. Bibi cemas." Cahaya berapi-api saat mengatakannya. Cukup emosional ekspresi perempuan ini.
Banu diam. Banu tidak bisa marah lagi. Semua yang bibi lakukan hanya untuk dirinya dan perusahaan. Namun jalan orang yang merawatnya selama ini keliru.
...____...
__ADS_1