
Esok pagi di Bougenville patisserie.
Dia langsung datang karena ada pria sedang bertamu ke rumah ku? tanya Mili dalam diam.
"Mili ... kamu mendengarkan aku?" tegur seseorang yang sepertinya sudah berulang kali memanggilnya.
"Y-ya?" Seperti baru bangun dari mimpi, Mili menoleh ke arah senior dengan wajah bingung.
"Kamu melamun?" selidik senior.
"Hmm ..." Mili hanya tersenyum. Tidak mengaku, tapi juga tidak membantah. "Ada apa, senior?" tanya Mili.
"Ada pesanan. Banyak. Nanti kamu bantu di belakang. Nanti kasir di ganti anak yang lain."
"Baik," sahut Mili siap. Aku melamun? Hhh ... belakangan Pak Banu mempengaruhiku. Mili menggelengkan kepalanya.
Klinting! Suara lonceng berbunyi dari pintu. Mili menoleh sambil tersenyum. "Selamat datang ..." Suara Mili tenggelam di akhir kata-katanya. Orang yang baru saja muncul dari pintu sungguh mengejutkannya.
Kepala Mili mengangguk sopan pada Cahaya dan Haras.
***
__ADS_1
Masih dengan memakai seragam toko roti ini, Mili duduk tepat di dekat dinding kaca. Cahaya juga ada di sana. Duduk tepat di depan Mili.
Setelah meminta ijin untuk berbicara, Mili mengajak mereka duduk di tempat ini. Untung saja toko tidak terlalu ramai.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Cahaya basa-basi.
"Baik. Seperti yang Anda lihat." Mili menjawab dengan baik. Cahaya melihat ke sekitar. Mili melihat itu. Sepertinya Cahaya mengamati dengan baik tempat ini. Itu sedikit mengintimidasi.
Senior melihat dengan cemas pertemuan ini. Sambil bekerja, dia sesekali melihat ke arah Mili. Ingin tahu ada apa?
"Jadi kamu hanya seorang karyawan toko roti, ya?" terkesan merendahkan. Namun Mili tahu itu mungkin karena ia sempat berbohong mengaku sebagai teman Pak Banu.
Melihat nama toko ini, Cahaya ingat bahwa Banu pernah sengaja membelikan roti dari sini untuknya.
Ternyata mereka sudah lama bertemu. Aku tidak menyadarinya, batin Cahaya.
"Apa kamu tahu kenapa aku sengaja ke sini dan ingin bicara denganmu?" tanya Cahaya.
"Tidak," jawab Mili singkat. Tidak ada pikiran apa-apa. Bahkan dia sendiri terkejut dengan kemunculan presdir.
"Tidak ya ..." Cahaya menganggukkan kepala. "Padahal Banu sering menemui mu."
__ADS_1
Dari sini, Mili yakin sekretaris Presdir sudah menggali banyak informasi tentang dirinya.
"Jika itu maksudnya adalah datang membeli sesuatu di toko ini, ya. Pak Banu sering ke sini," jawab Mili.
Dia tidak menduga kalau gadis ini tidak mengaku langsung sering bertemu Banu.
"Aku pikir kamu harus tahu kalau Banu punya peranan penting dalam perusahaan," kata Cahaya mulai akan menjelaskan banyak hal. "Apa yang ia lakukan sangat berpengaruh pada perusahaan."
"Saya tahu Pak Banu adalah CEO di perusahaan Mandala. Namun apa maksud Presdir. Maaf, maksud saya ibu mengatakan itu pada saya?" tanya Mili merasa penjelasan itu tidak penting baginya.
Hhh ... Cahaya menghela napas.
"Aku mengatakan itu kalau sebenarnya Banu tidak boleh sembarangan dekat dengan seseorang. Jadi aku minta, kalian jangan terlalu dekat," kata Cahaya.
Mata Mili melebar sekilas. "Maksud ibu?"
"Jauhi Banu. Dia tidak bisa dengan wanita yang punya keadaan seperti ini. Walaupun Banu harus mendapatkan pasangan, seharusnya wanita itu bisa mendukungnya dari banyak segi," jelas Cahaya.
Haras melirik Mili yang terdiam. Ia yakin gadis itu sakit hati mendengarkan itu.
..._____...
__ADS_1