Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 86 ° Mencari penyebar informasi


__ADS_3

"Seharusnya kamu bisa mencerna dulu kata-kata mu sebelum keluar dari mulut mu itu Pak Tua," tuding Dirga dengan gurat kemarahan yang jelas. "Kamu tahu apa yang di laporkan bocah kecil itu pada tim pengawas?"


Pria ini gugup di tekan oleh sorot mata dan suara yang menusuk itu. Akhirnya dia memilih diam seraya tetap menunduk.


Semua orang di sana tahu bahwa yang di laporkan Banu pada tim pengawas adalah hal penting. Itu bahkan akan menentukan mereka akan di keluarkan dari perusahaan besar ini atau di penjara.


"Sialan!"


Brak! Lagi-lagi Dirga menendang meja. Kasihan sekali meja itu selalu menjadi sasaran kemarahannya.


"Harusnya kalian jangan diam saja saat Banu menunjukkan semua laporan itu!!" Tidak henti-hentinya Dirga menyalahkan mereka.


"B-bukannya semua laporan ada pada Anda Pak Dirga," ujar salah satu pria yang tidak senang sejak tadi di salahkan oleh Dirga. Ekor mata Dirga melirik tajam. Pria itu sedikit gentar. Namun orang di sebelahnya langsung ikut bicara untuk membelanya.


"Benar. Laporan tentang dana yang masuk pada rekening kita seharusnya aman di tangan Anda, kenapa justru jadi begini?”

__ADS_1


"Ya. Bukannya Anda bilang semua akan aman Pak Dirga, tapi kenapa jadi seperti ini?"


"Ya, ya. Bagaimana ini? Semuanya terancam bahaya karena keteledoran Pak Dirga dan orang-orangnya."


"Bukan hanya Pak Dirga yang tidak aman, kita juga akan terseret dalam kasus ini."


"Bukankah seharusnya kita tidak perlu menyerang Pak Banu? Cukup lakukan hal yang bisa membuat kita kaya saja."


Berkat orang pertama yang protes, beberapa yang lain tersulut untuk ikut menyuarakan suaranya. Keberanian menyelimuti untuk menunjukkan rasa tidak puas. Mereka beramai-ramai menunjukkan kurang respek dengan sikap Dirga yang marah-marah. Bahkan seperti menyalahkan mereka tanpa merasa dia sendiri ikut bertanggung jawab atas kebocoran rahasia yang di beberkan Banu pada tim pengawas.


Jadi sekarang mereka harus menemukan siapa yang sudah membocorkan rahasia ini. Karena data-data masih ada di tempatnya, berarti kemungkinan Banu hanya mendapat salinannya.


Untung saja Hilda tidak ada di sana. Dia yang hendak masuk, urung. Sebelum pergi, dia harus menguping pembicaraan terlebih dahulu untuk tahu gerakan mereka.


Gawat. Kemungkinan Pak Dirga akan mencurigai ku. Aku harus mencari Raka. Dia harus tahu kalau situasi di sini berbahaya.  Terutama untuk aku.

__ADS_1


Hilda segera pergi dari sana untuk mencari sepupunya.


**


Weekend.


Karena sulit menemukan Raka di dalam perusahaan, Hilda langsung menyerbu rumah Raka yang masih sepupunya setelah pulang kerja.


"Tumben sekali kamu datang ke rumah," ujar Raka saat asyik di depan komputer dengan heran. Dia juga tidak punya acara kencan. Setelah dia patah hati karena Mili di dekati Pak Banu, Raka memilih tidak memikirkan soal cinta dulu.


"Aku mau bicara serius, Raka."


"Aku harap ini bukan main-main," kata Raka tidak terpancing. Hilda langsung menceritakan semua yang dia dengar. Hingga setelah semuanya di ceritakan, Raka langsung menelepon Pak Banu, hanya saja pria itu belum bisa di hubungi. Sepertinya pria itu sedang bersama Mili. Jadi dia tidak berani menganggu.


...____...

__ADS_1


...____...


__ADS_2