
"Ya. Bukankah sepasang kekasih saling memanggil dengan mesra?"
"Benar, tapi saya ... belum terbiasa."
"Jika kamu kesulitan sebut saja namaku," kata Banu mengambil jalan cepat. Mili mengerjap. "Kamu pasti tidak asing dengan namaku, kan? Jadi panggil saja namaku." Lagipula aku butuh bibirmu memanggil namaku kelak. Di saat waktunya tiba. "Cobalah." Banu menunggu Mili mengucapkannya.
"Emm ... B-banu?"
"Ya! Panggil saja begitu." Banu sampai menjentikkan jarinya karena senang.
"Ini terdengar sangat ... Tidak nyaman." Mili masih canggung.
"Lalu tambahkan sayang di sana," imbuh Banu dengan wajah datar tapi penuh perintah di sana. Ini lucu menurut Mili. Gadis ini sampai tergelak tiba-tiba. "Kamu menertawakan aku," tuding Banu.
"Sepertinya Anda, e ... Banu ... sa ... yang ..."
__ADS_1
Mendadak Banu langsung memeluk Mili. Gadis ini melebarkan matanya. "Benar seperti itu. Aku senang." Banu puas dengan tutorial memanggil dengan mesra ini. Mili tersenyum. Ini benar-benar terlihat lucu baginya.
"Sebentar." Mili berusaha mendorong tubuh Banu. Pria ini akhirnya melepas pelukannya. "Sepertinya kamu harus pulang."
"Kamu mengusirku?" tanya Banu tidak percaya.
"Untuk hari ini, iya. Apalagi ini sudah malam. Bisa-bisa aku di gerebek warga jika kamu ... terus saja di sini." Mili menunjuk dada Banu.
"Aku masih rindu, Mili," rengek Banu. Meskipun tadinya sedikit kecewa di usir oleh Mili, dia mengerti setelah mendengar penjelasannya. Namun tetap saja dia masih ingin tetap tinggal disini.
"Aku bukan anak kecil, Mili. Bibi tidak bisa mengatur-atur ku." Banu menunjukkan sikap membangkangnya.
"Bukan seperti itu maksudnya. Bu direktur tahu kalau kamu ... ada di sini, tapi karena tidak bisa menghubungi ponsel kamu, beliau menghubungi kak Raka. Jadi aku rasa ... Lebih baik kamu pulang. Kalau tidak, image-ku mungkin akan terlihat lebih buruk dari sekarang. Bukannya direktur tidak menyukai aku?" Mili mulai membiasakan diri menyebut aku dan kamu untuk percakapan mereka. Karena Pak Banu sendiri menginginkan itu.
"Walaupun Bibi tidak setuju, aku akan tetap memperjuangkan mu. Bibi hanya perlu berdiri di belakang ku saja. Bukan untuk mengatur siapa yang harus berada di sampingku. Karena aku sudah memilih kamu untuk jadi perempuan yang paling penting untukku." Tampak Banu berapi-api ketika mengatakannya.
__ADS_1
"Iya, aku tahu kesungguhan mu itu." Tangannya terangkat menyentuh pipi pria ini. "Namun akan lebih baik jika aku dan kamu tetap mendapat restu dari bibi. Bukan begitu?"
Banu melirik ke arah jari-jari Mili yang mengelus lembut pipinya. Pikirannya tidak lagi fokus pada obrolan mereka.
"A-aku tahu, tapi jika ..." Banu jadi gugup.
"Tidak. Malam ini kamu harus pulang, Banu sayang ...," tegas Mili seraya mendekatkan wajahnya pada pria ini. Napas Banu tercekat. Hasratnya naik ke atas ubun-ubun membuatnya kalang kabut. Segera Banu menyentuh tangan Mili dan menggenggamnya. Menghentikan gerakan Mili yang memprovokasinya.
"Baik. Aku akan pulang. Jangan menyiksaku seperti ini," bisik Banu penuh permohonan.
"Me-nyiksa?" tanya Mili kurang mengerti. Matanya melebar dan bergerak-gerak bingung. Dia tidak paham apa yang sedang terjadi pada pria ini sekarang.
Benar. Ini menyiksaku, Mili, pekik Banu dalam hati.
..._____...
__ADS_1