
"Kantor cabang yang seharusnya di perhatikan perkembangannya, menjadi anak tiri karena CEO kita kurang bisa memaksimalkan pengembangan," ujar Dirga tanpa ragu langsung menuduh Banu.
Semua mulai fokus pada pembahasan baru ini. Terutama pendukung Dirga. Mereka siap ikut menyerang Banu.
Dia langsung menyebutku. Rupanya dia tidak sabar untuk menduduki kursi ini, ucap Banu di dalam hati.
"Jadi ada anak perusahaan yang tidak berkembang bagus dalam tahun ini?" tanya pengawas serius.
"Ya," sahut Dirga begitu yakin.
"Apa yang kamu katakan, Dirga?” sergah Cahaya.
Semua menoleh pada Cahaya dengan tatapan heran. Tatapan mencela juga di tunjukan oleh orang-orang yang tidak menyukai Banu. Mungkin Cahaya terlalu bersemangat membela Banu, hingga ia lupa harus menutup mulut dulu dan mendengarkan dengan baik apa yang akan di bahas oleh Dirga lagi.
__ADS_1
Sikap ini di anggap tidak sopan karena di anggap menyela pembicaraan.
"Oh, maaf. Silakan di lanjutkan," ujar Cahaya langsung menyadari kekeliruannya. Banu melihat bibinya yang di cibir oleh orang-orang itu. Dia ikut sakit hati melihat sikap mereka, tapi Banu berusaha tetap tenang. Dia tidak boleh termakan provokasi Dirga.
Haras di kursi belakang mengepalkan tangannya tidak terima melihat Cahaya mendapat cibiran. Namun dia berusaha mengendalikan diri. Ia harus bisa menjaga kewibawaan Cahaya sebagai direktur.
Raka sendiri menjadi tegang dengan pembahasan yang di katakan Hilda mulai mencuat. Dia tidak tahu apa yang akan di lakukan Pak Banu soal ini.
"Anak perusahaan itu sebenarnya punya prospek yang bagus ke depannya, tapi karena lengah dan kurang memperhatikan, kini anak perusahaan itu terlihat kurang memuaskan,” jelas Dirga seakan dia bisa melihat sendiri keadaan itu. Namun tidak aneh dia bisa mampu menjelaskan dengan baik, karena dirinya sendiri yang menyebabkan terjadinya kemunduran pada anak perusahaan itu.
"Metode dasar penanganan semacam ini sudah ada dalam rumus perusahaan, tapi menurut saya ... Pak Banu yang bertanggung jawab atas kepentingan perusahaan inilah penyebab utamanya. Beliau lalai. Saya bicara terus terang saja. Sejak kecelakaan yang di alami dan membuat Pak Banu koma dalam beberapa bulan, kinerja beliau menurun. Banyak anak perusahaan yang kurang mendapat perhatian.” Dirga melihat ke arah kawan-kawannya.
Banu mulai mengerti. Tujuan Dirga adalah menyerang kelemahannya dalam segi kesehatan. Dia memang kehilangan sebagian memori di dalam otaknya. Itu bisa di anggap, dia cacat.
__ADS_1
"Saya punya bukti kesalahan yang sekarang masih perlu di ulas lebih dalam lagi. Sekretaris Hilda," sebut Dirga memanggil sekretarisnya. Hilda mendekat. Dirga memberi perintah pada Hilda untuk membagikan laporan yang sudah di siapkan Banu untuk memojokkannya.
Satu persatu orang-orang di meja rapat mendapat hasil laporan dari Hilda. Cahaya menerima laporan itu dengan tangan gemetar. Hilda yang melihat itu langsung menunduk. Ia yang tahu pasti bahwa ini semua hanyalah sebuah rekayasa, iba melihat direktur Cahaya gemetaran.
Pasti beliau takut terjadi apa-apa pada keponakannya, batin Hilda. Setelah selesai, Hilda kembali ke kursinya.
Semua orang mulai membaca laporan yang sudah di berikan oleh sekretaris Dirga.
Di kursinya, Banu tetap tenang dan tak gentar. Dia memang tidak tahu persis apa yang ada di dalam laporan itu karena dia tidak di beri berkas seperti yang mereka terima.
..._____...
__ADS_1