
Banu diam. Dia tengah memikirkan sesuatu.
"Sejujurnya ... aku merasa ada sebagian ingatan ku yang hilang," ungkap Banu. Cahaya melebarkan mata terkejut. Haras juga merasakan hal sama. Memori hilang?
"Be-benarkah? Kenapa dokter tidak bilang pada Bibi?" tanya Cahaya marah dan tidak terima. Tidak menduga ada kejadian itu. Haras ikut mendengarkan dengan baik. Namun setelah melihat keadaan Banu, Cahaya ragu. "Memori mana yang hilang? Kamu tidak tampak seperti orang yang hilang ingatan."
Cahaya tampak mengamati keponakannya. Bahkan Haras ikut mengamati. Mili yang ada di samping pun melirik.
"Aku tidak paham memori yang mana yang hilang. Karena aku masih mengenal bibi, Haras ataupun Raka. Aku juga masih mengenal Dirga. Dia tetap menjadi orang yang tidak aku sukai," ujar Banu menjelaskan. "Bahkan Mofa teman kecil ku dulu, aku tetap ingat."
Mofa? Siapa itu? tanya Mili di dalam hati. Dia yakin itu nama perempuan. Dia tidak pernah mendengar nama itu.
"Lalu?" kejar Cahaya yang kini terlihat cemas melihat keadaan Banu.
"Jadi mungkin dulu ku memang mengenal Mili. Namun memori ku hilang. Karena saat aku datang ke rumah Mili malam itu, aku merasa tidak asing dengan suasananya," jelas Banu.
"Rumah Mili?" tanya Cahaya terkejut.
__ADS_1
Mili terkejut Pak Banu menceritakan kisah itu. Cahaya melihat ke arah Mili dan Banu dengan heran. Dilihat dengan tatapan menyelidik, Mili risih. Ia merasa tertangkap basah sudah pernah berduaan dengan pria ini di dalam rumahnya.
"Ya. Saat aku tahu rumah Mili, aku jadi ingin kesana lagi," tambah Banu tanpa tahu kalau itu makin membuat Cahaya curiga.
"Kalian tidak melakukan sesuatu kan?" selidik Cahaya. Haras ikut tegang mendengarnya.
"Tidak," sahut Mili cepat. Ia menggerakkan kedua tangan sekaligus kepalanya.
"Tentu saja kita melakukan sesuatu," ujar Banu. "Kita tidur bersamaan."
"Apa?!" teriak Cahaya kaget.
"Ada apa?" tanya Banu heran. Padahal dia berkata jujur.
"Maaf, Banu. Bisa lebih jelas mengatakannya. Karena kalimat mu ambigu," pinta Haras ingin Cahaya tenang.
Mili menatap Pak Banu dengan tajam. Banu tersadar bahwa kalimatnya membuat semua orang berpikiran lain dari kenyataan.
__ADS_1
"Kalian berpikir aku sudah tidur dengan Mili?" tebak Banu membuat kedua perempuan ini mendelik hebat.
"Tolong ralat semuanya pak Banu," tegur Mili menahan geram. Dia sudah tidak bisa di ajak bicara lagi. Banu tergelak mendengarnya. Cahaya juga sudah hampir meradang.
"Kalian salah paham. Maksud ku adalah ... aku dan Mili tidur dalam waktu yang sama, tapi tidak di tempat yang sama." Banu menjelaskan dengan sejelas-jelasnya sambil melirik Mili yang mau meledak. Mili menipiskan bibir geram. Banu ikut tersenyum.
Ini membuat Cahaya menghela napas lega dengan kentara.
"Lain kali bicara yang jelas, Banu," protes Cahaya geregetan.
"Kalau yang sebenarnya terjadi adalah yang Bibi pikirkan, lalu kenapa?" tanya Banu seperti sengaja ingin membuat bibinya tegang lagi
"Apa maksud mu?" tegur Cahaya gusar. Mili menatap Banu di sampingnya tidak mengerti.
"Kalaupun aku memang tidur dengan Mili, memangnya kenapa?" tanya Banu sungguh mengejutkan.
Mili langsung spontan melebarkan mata. Begitu pula Cahaya. Bahkan wajah Cahaya seakan meradang hendak marah. Sementara itu Banu terlihat biasa saja sudah mengatakan hal itu barusan.
__ADS_1
..._____...