
Mendengar nama Mili di sebut oleh Raka, Banu teringat sesuatu.
Aku pikir kenapa nama itu tidak asing, ternyata Raka pernah menyebut nama itu.
"Kamu mengenalnya?" tanya Banu menunjuk Mili dengan dagunya.
"Ya, Pak. Dia teman saya," sahut Raka yang kini sudah duduk. Banu melirik. Dia memperhatikan gadis itu lagi. Mili yang mendengar sendiri kalau sedang di bicarakan dua pria ini, diam.
"Kamu pernah menyebut namanya di depan ku bukan?" tanya Banu mengejutkan. Brak! Mili tidak sengaja menyenggol kotak tisu di dekatnya hingga jatuh ke lantai dan menimbulkan suara berbisik. Beberapa orang di dalam toko roti menoleh sekilas. Namun sejurus kemudian mereka tidak peduli.
"Nama dia, Pak?" tanya Raka tidak percaya. Mili merunduk mengambil kotak tisu yang jatuh. Tangannya sedikit gemetar saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Pak Banu dengan Mili. Itu membuatnya gugup dan menyenggol kotak tisu.
Apakah dia mengingatku? harap Mili.
"Ya. Aku lupa tentang apa, tapi kamu pernah menyebut namanya di depannya ku," ujar Banu mencoba mengingat-ingat.
"Emm ... Mungkin."
"Pasti begitu. Karena tidak mungkin aku mengenalnya kalau bukan mendengar namanya dari kamu," kata Banu merasa puas dan yakin. Raka tersenyum. Ia melirik Mili. Dia yakin hati Mili pasti campur aduk mendengarnya.
"Kenapa Pak Banu datang ke sini? Saya pikir karena ada pekerjaan penting." Raka masih ingin tahu kenapa pria ini bisa datang dan mengacaukan pedekate-nya ke Mili.
"Tidak. Aku sedang ingin keluar tapi tidak tahu tujuan. Jadi aku ingin minum denganmu." Banu yang tadinya menunduk ke arah gelasnya, kini mendongak melihat Raka. "Tenyata kamu memang sedang sendirian. Jadi aku rasa tepat untuk datang ke sini."
Hhh ... ternyata hanya sedang iseng saja, keluh Raka dalam hati.
**
Keperluan toko menipis. Mili mendapat tugas untuk belanja. Dari pekerjaan yang di luar takarannya seperti ini, kadang Mili mendapat bonus. Jadi dia suka-suka saja saat mendapat perintah di luar pekerjaannya.
Scooter inventaris jadi alat transportasi untuk belanja. Semua sudah di siapkan dengan cepat oleh supermarket tempat ia belanja.
"Semua sudah rapi di atas motornya, Mbak," kata cowok yang membantunya menata di motor.
__ADS_1
"Oke. Terima kasih ya ..." Setelah membayar, Mili bergegas kembali ke toko roti lagi. Lampu merah di depan menghadang jalannya untuk lanjut. Sebuah mobil yang baru saja datang, ikut berhenti di sampingnya. Mili menoleh sekilas sekedar jenuh menunggu lampu merah berganti hijau.
Deg!
Dia terkejut saat di dalam mobil yang ada di sampingnya adalah Pak Dirga. Jendela mobil itu terbuka dan menunjukkan wajah si pengendara dari luar. Degup jantungnya berdebar. Ia merasa tidak aman. Ia ingin segera kabur. Namun lampu lalu lintas masih berwarna merah.
Dirga sendiri tidak sengaja menoleh ke samping. Awalnya dia tidak begitu peduli dengan gadis yang naik scooter di sampingnya. Namun entah mengapa dia ingin melihat lagi.
Bola mata Dirga mengamati gadis yang memakai helm itu. Andai saja helm itu punya kaca, Mili akan menutupnya agar wajahnya tidak terlalu kentara.
Pak Dirga sepertinya masih melihat ke arahku, batin Mili.
Wajahnya tidak asing, siapa dia? Dirga menggosok dagunya dengan jari. Mencoba mencari nama di balik wajah itu. Sayangnya ia belum menemukan sama sekali siapa dia. Akhirnya ia mencoba mengabaikan.
Lampu merah berganti kuning.
"Tunggu. Bukankah itu gadis yang ada di rumah sakit?" gumam Dirga sambil menoleh ke arah Mili lagi.
Lampu kuning kini berganti menjadi hijau. Mili langsung menancap gas untuk menjauh dari mobil Dirga. Sementara itu, Dirga yang sadar bahwa gadis ini adalah Mili pun segera tancap gas. Mencoba mengejar gadis itu.
"Sial. Kenapa aku harus bertemu dengan pria itu?" keluh Mili.
Mata tajam Dirga fokus melihat ke arah Mili di depan sana. "Benar. Dia gadis yang dekat dengan Presdir. Aku harus bisa mengajaknya bicara." Dirga berambisi mendapatkan Mili.
Laju scooter Mili makin kencang juga. Meskipun ia tidak mengerti kenapa pria itu mengejarnya, tapi firasatnya mengatakan, kalau dia harus menjauh darinya. Mili mencoba mencari jalan lain agar Dirga terkecoh.
Dirga kebingungan karena Mili melewati gang-gang. Kini dia kehilangan motor Mili. Dirga memperlambat jalan mobilnya karena sudah tidak bisa melihat jejak gadis itu.
"Sial. Dia menghilang. Apa dia tahu aku mengikutinya? Ataukah dia memang berhenti di daerah sekitar sini?" Dirga menepikan mobil dan melihat ke sekitar. Dia tidak mengenakan scooter gadis itu. "Oke. Cukup mencari dia. Aku sudah tahu dia masih ada di sekitar sini." Dirga menjalankan mobilnya lagi.
Sementara itu, Mili yang lewat gang kecil akhirnya bisa keluar dan tiba di sebuah jalan besar yang tidak begitu ramai. Karena masih diliputi rasa seperti di kejar-kejar orang, Mili menjalankan scooter-nya agak tergesa-gesa.
Brak!
__ADS_1
Karena ingin segera menjauh dari tempat itu, tidak sengaja menabrak mobil yang hendak mundur. Mili sampai terantuk kepala motor karenanya. Bahkan bodi scooter sempat tergeser karena benturan agak keras. Bahkan belanjaan Mili hampir jatuh berserakan ke aspal. Untung saja tali yang mengikat kuat itu menahannya.
Semua orang yang ada di sana menoleh. Namun karena tidak ada korban, mereka mengabaikan.
"Oh, tidak. Kenapa mobil ini mendadak muncul sih," sungut Mili. Dari kaca spion, pemilik mobil menoleh. Dia sadar bahwa ada yang menabrak bodi belakang mobilnya. Maka dari itu mobil langsung berhenti mendadak.
Pintu mobil pun terbuka. Sepertinya si empu mobil turun dari mobil untuk melihat keadaan bodi belakang mobil miliknya.
"Kenapa orang itu turun? Kalau begini kan jadi panjang ceritanya," keluh Luna. Namun saat pria itu sudah menampakkan seluruh wajahnya, Mili terkejut. Dia Banu!
Bola mata Mili terpaku melihat sosok pria ini. Sementara itu Banu melangkah mendekat ke arah Mili.
"Ternyata kamu. Kamu lagi," ujarnya kesal. Mili terkejut mendapat teguran itu.
"M-maaf," ujar Mili.
"Jadi kamu akan mengganti kerusakan mobil-ku?"
"Hah?"
"Ya. Kamu tidak sedang berpikir akan kabur dari masalah ini kan?" tanya Banu mengerutkan keningnya. Mili melihat bodi belakang mobil milik pria ini. Memang tergores dan sedikit penyok.
"Tidak," jawab Mili pasrah.
"Baik. Kamu harus mengganti kerusakan yang sudah kamu perbuat sekarang."
"S-sekarang?" tanya Mili terbata.
"Ya. Bodi mobilku lecet dan penyok. Kejadian itu sekarang, jadi bukannya di perbaiki sekarang?" desak Banu garang.
"Berapa harga perbaikannya?" tanya Mili.
"Itu sekitar 1 jutaan," jawab Banu tenang.
__ADS_1
"S-satu juta?!" tanya Mili terkejut. Bola matanya melebar mendengar Pak Banu menyebutkan nominal.
...______...