Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 85 ° Memanas


__ADS_3

Mendengar perkataan Banu, wajah Cahaya terlihat merah tanpa sadar. Banu tersenyum melihat itu. Dia tahu, itu artinya bibi sangat gugup mendengar kabar yang ia bawa.


Bibir Cahaya tersenyum samar. Sebenarnya perempuan ini bahagia, tapi dia berusaha untuk menutupinya. Ini justru terlihat lucu di mata Banu. Namun dia tidak menyadari bahwa dirinya juga kadang terlihat seperti itu ketika bersama Mili.


 


***


 


Siang hari.


Rumah Bani terlihat lengang. Bibi keluar bersama Haras. Banu duduk di sofa sambil menonton tv. Saat itu ponselnya berdering. Itu Raka.


“Ada apa? Aku sudah pulang. Kamu tidak perlu mengecek keberadaan ku lagi.” Tanpa mendengarkan kata-kata Raka terlebih dahulu, Banu langsung bicara.


“Maaf, Pak. Saya hanya mendapat perintah dari Bu direktur menelepon Mili untuk menanyakan keberadaan Pak Banu. Karena waktu itu Pak Banu tidak bisa di hubungi. Juga direktur tidak punya nomor Mili, jadi saya yang menghubungi Mili untuk bertanya tentang Pak Banu,” ujar Raka menjelaskan. “Sekarang saya hendak membicarakan hal lain, Pak.”


“Hal lain. Apa itu?” tanya Banu merasa suara Raka terdengar serius.

__ADS_1


“Ini soal Pak Dirga.”


“Dirga? Ada apa?” Banu langsung meraih gelas dan minum terlebih dahulu. Ini pasti perkara penting.


“Sepupu saya Hilda bilang, keadaan di sana tidak aman. Jadi Hilda minta perlindungan dari Anda.”


“Apa mereka sudah tahu kalau Hilda memberikan bukti itu padaku?” tanya Banu. Suasana menjadi tegang. Jika ini soal Dirga, pasti itu hal yang rumit dan membahayakan.


“Belum, Pak. Namun saya rasa mungkin sebentar lagi mereka akan mencari tahu soal itu. Karena kemarin dia mendengar Pak Dirga akan mencari tahu siapa saja yang punya akses masuk ke dalam ruangannya."


“Lalu apa keinginan Hilda?”


“Dia meminta dipindah tugaskan ke perusahaan lain. Dia tidak ingin satu gedung dengan Pak Dirga. Saya rasa itu benar. Karena situasi ini membahayakan sepupu saya.”


“Terima kasih Pak Banu.”


“Aku yang harus berterima kasih pada sepupumu. Karena berkat dia, aku punya kartu untuk melawan Dirga. Katakan pada dia, lain kali kita akan makan malam bersama.”


“Baik Pak.”

__ADS_1


Ada apa dengan Hilda?


 


****


 


Kejadian setelah rapat.


Jika Banu masih bisa tetap bersikap tenang dengan mencari kekasihnya, berbeda dengan keadaan Dirga yang murka karena ternyata dia juga kena batunya. Bukan hanya Banu yang di serang, dia juga mendapatkan serangan balik dari pria itu.


"Kurang ajar! Sialan!" Dirga marah-marah di ruangannya. Hari ini dia sempat ke ruangannya untuk membawa beberapa barang yang belum di  selesai. Semua orang-orangnya duduk tanpa bicara apa-apa sambil mengalihkan pandangan dari Dirga yang sedang marah-marah. "Kenapa laporan itu bisa ada di tangan Banu?!" teriak Dirga. Semua mulut orang-orang ini bungkam. Mereka tidak berani menjawab. "Kenapa kalian diam saja dan tidak bisa menjawab, Hah?!"


Mereka pun tetap diam.


"Ayo, jawablah!" teriak Dirga tidak sabar.


"T-tenangkan diri Anda, Pak Dirga," ujar salah satu memberanikan diri untuk bicara meskipun terbata-bata.

__ADS_1


"Tenang? Kamu bilang aku harus tenang?" Ekor mata pria ini terarah pada pria paruh baya yang sudah mengumpulkan keberanian untuk bicara. Melihat tatapan mata tajam ini, pria itu makin menunduk.


... _____...


__ADS_2