
"Mungkin aku yang bodoh. Mana mungkin aku bisa melihat roh Pak Banu bukan?" Mili memaksakan untuk tersenyum. "Semua itu hanyalah mimpi indah yang datang sekilas. Kamu tidak mungkin percaya bahwa roh pak Banu selama ini selalu bersama ku, bukan? Oke, tidak apa-apa. Itu artinya aku normal. Karena tidak mungkin aku berpacaran dengan hantu atau roh!" teriak Mili kesal. Ujung matanya berair. Menggunakan punggung tangannya, Mili menghapus air mata.
Karena terluka, kini Mili menjejali dirinya dengan kalimat-kalimat pernyataan yang menghilangkan kisah dia dan Pak Banu semasa menjadi roh.
Raka jadi iba.
"Mau makan siang denganku?" tanya Raka.
"Aku mau kerja, tapi jika Kak Raka mau mentraktir ku, aku mau," kata Mili dengan mata agak merah.
"Ya. Aku mau mentraktir mu," kata Raka seraya tersenyum.
**
Meskipun tadi sempat down saat bertemu Pak Banu yang ternyata tidak mengingatnya setelah bangun dari koma, Mili masih punya sedikit keberuntungan. Untung saja ada Raka yang baik hati mentraktirnya makan siang. Jadi siang ini dia bisa berhemat.
"Wahh ... makan kamu lahap sekali," kata Raka sambil tersenyum.
"Akwu harrs makwan banywak karwena tidwak ingwin hatwiku berwantakwan," sahut Mili dengan mulut penuh dengan makanan.
"Kunyah dulu yang benar. Jangan bicara dulu," kata Raka menunjuk pipi Mili yang menggembung karena mulutnya penuh.
Mili mengangguk setuju. Ia mengunyah dengan baik makanannya, lalu menelannya perlahan.
"Aku harus makan banyak karena aku tidak mau hatiku berantakan." Mili mengulang kalimatnya.
"Ya, ya. Bagus. Makanlah yang banyak. Aku yang akan membayar semuanya," kata Raka. Mili mengacungkan jempol pada Raka.
Ponsel di saku Raka bergetar. Ia mengambil ponsel itu. Pak Banu! Sungguh panjang umur pria itu. Baru saja dibicarakan sudah muncul meski hanya lewat telepon.
Namun ini waktu yang tidak tepat.
"Mmm ... sepertinya aku harus pergi. Apa kamu tidak ingin tambah makanannya?" tanya Raka.
"Ini sudah banyak. Kakak bisa pergi kalau memang ada perlu." Mili mempersilakan pria ini pergi.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan membayarnya terlebih dahulu. Aku pergi ya, Mili." Raka menyentuh kepala Mili sambil tersenyum. Ini sempat membuat Mili tersentak kaget.
"Oh, ya."
"Lain kali aku akan mentraktir kamu makan lagi."
"Oke, oke. Aku akan menantikannya."
"Dah, Mili."
"Dah." Mili melambaikan tangan. Tubuh Raka pun mulai menjauh dari meja. Ia melihat punggung pria ini sampai menghilang di pintu.
"Hhh ... Meskipun ditraktir makan, rasa sedihku tetap ada, Kak Raka. Bagaimana mungkin Pak Banu lupa padaku. Ini sungguh menyebalkan." Mili mengusap air matanya yang berada di ujung mata.
**
Ini tiga hari setelah pertemuan Mili dan Banu yang menyakitkan. Pria itu tidak mengenalnya sama sekali. Kebahagiaan Mili bertemu dengan Pak Banu hanya sebatas mimpi saja.
Rintihan kesakitan terdengar dari kamar Banu. Pria itu masih memejamkan mata saat bibirnya mengerang sakit. Sepertinya Banu tengah mengalami mimpi buruk.
"Hh ... hh ..." Sambil duduk di atas ranjang, Banu mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal bagai habis lari maraton. "Lagi-lagi ... hhh ... Lagi-lagi aku mimpi seperti itu," keluh Banu.
Tangan Banu menyingkap selimut dan mulai turun dari ranjang. Ia minum air dari botol di meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya.
Glek! Glek! Glek! Ia meminum air itu dengan cepat. Seakan-akan berharap bahwa mimpi itu bisa langsung lenyap mengikuti air yang ia minum.
"Kenapa aku selalu bermimpi ke tempat itu? Tempat di mana aku bertemu gadis gila yang mengaku kita berciuman. Mungkin aku terlalu marah padanya sampai harus terbawa mimpi."
Glek! Glek!
Banu meneguk lagi air dan mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan.
"Sial kenapa aku kesana lagi waktu itu? Padahal tempat itu bukan tempat yang bagus untuk di datangi lagi. Hhh ... begini ini jika terlalu banyak bekerja. Jadinya stres." Banu menemukan cara sendiri untuk memenangkan dirinya. Yaitu mengakui kalau semua itu karena dia terlalu memforsir otaknya yang baru saja pulih dari koma.
Saat ia ingin minum lagi, air di dalam gelas itu habis. Jadi Banu keluar dari kamar untuk mengambil air minum di dapur.
__ADS_1
"Banu?" tegur Cahaya yang melihat keponakannya turun dari lantai 2. "Mau kemana?" Cahaya mendekat. Rupanya perempuan ini baru saja dari datang entah dari mana. Ia langsung menjulurkan tangannya menyentuh kening pria ini. "Kamu berkeringat dingin." Cahaya jadi cemas.
"Ya," sahut Banu lemah. "Aku butuh minum, Bi."
"Ya. Aku ambilkan." Cahaya berjalan menuju dapur dengan Banu mengikutinya dari belakang. Setelah meletakkan tas tangan di atas meja, Cahaya mengambilkan air dari dispenser. "Nih cepat minumlah." Cahaya menyodorkan gelas berisi air itu.
Ini beberapa kalinya Banu meneguk air. Hingga rasanya perutnya penuh.
"Kamu bermimpi lagi?" tebak Cahaya. Dia sudah berulang kali melihat keponakannya bermimpi buruk. Bibir Banu tersenyum tipis. Seakan enggan bercerita. "Coba kamu istirahat dulu. Besok ambil libur."
Banu menoleh pada bibinya. Apa bibi tahu dia kelelahan karena bekerja?
"Baiklah." Namun Banu memenuhi keinginan bibinya.
***
Meskipun hari ini ia sudah memberi kabar pada Raka bahwa dia mengambil libur, toh Banu bukan tetap di rumah dan istirahat. Pria ini justru mengeluarkan mobil dan ingin keluar.
Ternyata Banu bukan hanya butuh tidur, dia butuh refreshing. Dalam perjalanan yang tidak jelas ini, Banu teringat satu tempat.
"Sepertinya aku mau mampir ke toko roti kecil itu sebentar."
Meskipun dia sudah bermimpi buruk di kejar seseorang berulang kali di tempat yang tidak jauh dari toko roti, nyatanya Banu tetap menuju kesana. Banu menjalankan mobil ke arah toko roti yang ada di jalan besar. Tidak begitu jauh dari pemukiman rumah Mili.
Hari ini toko roti yang di gabung dengan cafe ini terlihat sedikit ramai. Namun itu tidak mengurungkan niat Banu untuk singgah.
Karena sudah pernah ke toko ini, Banu melangkah dengan yakin. Berjalan menuju meja tempat memesan menu. Karena masih ada orang yang memesan, Banu berinisiatif untuk melihat memilih roti dulu.
"Terima kasih besok datang lagi ya ...," ujar kasir dengan ramah seraya menyerahkan bungkusan kertas ke pembeli.
"Sama-sama, Mili." Pembeli itu tersenyum karena sudah di layani sepenuh hati.
"Selanjutnya," kata Mili sambil menoleh ke samping. Pria itu tidak mendengar panggilannya. Sepertinya dia sibuk memilih roti. Karena berdiri agak menyamping, Mili tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas.
Mili berinisiatif untuk mendekat. "Anda mau membeli roti?" tanya Mili. Pria itu menoleh. Deg, deg, deg. Pak Banu?!
__ADS_1
...______...