Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 51 ° Hati yang melunak


__ADS_3

Banu hendak masuk ke mobil ketika suara bibi menghentikannya.


"Banu!" seru Cahaya. Banu mengentikan tangannya untuk membuka pintu mobil.


"Ada apa Bi?"


"Bibi bisa ikut denganmu?" tanya Cahaya.


"Ikut denganku? Bibi tidak menunggu Haras?" Banu melihat ke sekitar. Mobil Haras memang belum datang.


"Tidak. Mobil yang dia pakai sedang ada di bengkel," jawab Cahaya.


"Oh, ya? Baiklah. Bibi bisa ikut dengan ku." Banu mengijinkan.


Din, Din! Terdengar suara klakson di pintu gerbang yang terbuka.


"Itu Haras datang. Bibi tidak perlu ikut denganku." Banu menunjuk mobil Haras dengan dagunya. Melihat ini Cahaya panik. Dia jadi gugup.


Haras turun dari mobil.

__ADS_1


"Hai Haras!" sapa Banu akrab. Kepala pria itu mengangguk menanggapi sapaan adik atasannya. "Bibi bilang mobil mu ada di bengkel," tanya Banu heran. Haras melirik Cahaya.


"Ya, tadinya begitu." Haras menjawab.


Suasana di antara mereka terasa aneh. Karena Cahaya yang biasanya terlihat tangguh dan percaya diri, kini menjadi gugup dan panik.


Banu mencoba memperhatikan dengan seksama suasana baru ini. Setelah mengamati mereka berdua beberapa detik, Banu mengerti.


"Apa kamu sudah melakukannya, Haras?" tanya Banu melihat pria itu. Haras terkejut. "Nasehatku untuk mu itu." Banu mencoba mengingatkan. Cahaya melihat mereka dengan tidak mengerti.


"Ya. Aku sudah menyatakan perasaan ku pada direktur," jawab Haras tanpa ragu. Namun dia mengatakannya dengan tetap sopan. Cahaya melebarkan bola matanya karena terkejut.


"Oh, ya? Apa artinya aku sudah bisa memberi selamat?" tanya Banu sambil melihat pada bibinya.


"Kenapa? Apa Bibi malu aku mengetahui soal Haras yang mencintai Bibi?" Banu sungguh iseng hari ini. Apakah itu karena dia juga tengah bahagia?


Bibir Cahaya menipis geram.


"Sudah. Bibi tidak perlu ikut aku. Ada Haras yang datang. Apa bibi berniat ikut aku karena gugup bertemu Haras?" goda Banu.

__ADS_1


"Banu, diam." Cahaya harus menutup mulut keponakannya.


"Baiklah. Aku berangkat lebih dulu." Banu masuk ke dalam mobil. "Selamat Haras. Kamu bisa meluluhkan hati Bibiku. Karena aku lihat wajah merona tadi. Jika begitu, hati bibiku mulai melunak. Jadi dia tidak akan mengganggu ku dengan Mili."


Banu tersenyum senang dan puas. Ternyata jadi Mak comblang bukan tindakan spontan. Dia punya tujuan yang lebih besar dari itu.


Lampu lalu lintas berwarna merah. "Apa yang di lakukan Mili sekarang ya?" Banu sudah memikirkan gadis itu pagi ini. "Sebaiknya aku segera meneleponnya." Tangannya sibuk menekan tombol.


Belum selesai menekan tombol panggil, tak sengaja ia melihat gadis itu di samping mobilnya. Dengan scooter yang biasa ia pakai, Mili berada dekat dengannya.


Banu hendak membuka jendela kaca mobil, tapi mobil di belakang sudah membunyikan klakson. Ternyata lampu sudah berganti warna hijau. Bahkan Mili sudah mendahuluinya.


"Oh, tidak. Aku harus mengejarnya." Banu menancap gas dan mengejar Mili. Karena merasa tidak ada masalah atau apa, jalan scooter Mili tampak lambat.


Mili masuk ke dalam toko bahan-bahan kue. Ia mengambil lembur karena ada pesanan untuk nanti. Jadi sepagi ini sudah berangkat kerja.


Setelah menunjuk semua bahan yang ia butuhkan, Mili menuju ke kasir.


"Berapa semua?" tanya Mili. Kasir menyebutkan nominal. Mili mengaduk isi tas untuk mencari dompet.

__ADS_1


"Pakai ini," kata seseorang seraya menyodorkan black card.


..._________...


__ADS_2