
"Rapat tadi, Pak Dirga membeberkan sejumlah hal yang membuat Pak Banu tampak buruk di depan pengawas."
"Aku rasa pak Banu bukan orang yang seperti itu. Dia orang yang bekerja dengan baik," bela Mili. Setahu dia begitu.
"Kamu benar. Itu semua hanya akal-akalan Pak Dirga untuk menyingkirkan Pak Banu dari kursi CEO. Pria itu sangat berambisi untuk naik ke atas, Mili."
"Pak Dirga memang jahat. Bukankah kecelakaan itu juga karena dia." Mili ingat apa yang di katakan pak Dirga sewaktu menjadi arwah.
"Ya, tapi kita belum bisa menemukan bukti kejahatan Pak Dirga soal kecelakaan itu. Hilda hanya memberikan bukti kejahatan Pak Dirga yang lain."
"Hilda?"
"Ya. Mengejutkan bukan? Dia sudah berubah, Mili. Aku rasa dia tidak lagi sejahat dulu."
"Oh, itu lebih baik."
"Oke Mili, tolong bilang pada Pak Banu untuk menerima telepon dari direktur. Karena direktur Cahaya kebingungan mencari Pak Banu yang belum pulang sejak tadi siang."
"Baik Kak. Aku sampaikan."
Tok! Tok! Suara ketukan terdengar tepat setelah Mili menutup telepon.
"Mili! Kamu belum selesai?"
"Sebentar lagi!" sahut Mili seraya menyegerakan mengganti pakaiannya.
"Cepat keluar kalau selesai!"
__ADS_1
"Iya!" Dengan terburu-buru, Mili berganti pakaian. Setelah selesai, ia keluar. Begitu keluar, dia langsung menghampiri Banu yang duduk di sofa. Pria itu menoleh.
"Ayo duduklah," pinta Banu. Mili patuh. ia duduk di samping Banu.
"Kenapa tidak cerita soal tadi siang di kantor?" tanya Mili yang membuat pria itu terkejut.
"Apa?"
"Pak Banu di nonaktifkan dari perusahaan karena Pak Dirga ya ..." ucap Mili dengan wajah sedih.
"Darimana kamu tahu itu?" Banu terkejut.
"Kak Raka menelepon saya."
"Raka?! Dasar bocah itu," umpat Banu kesal.
"Itu tidak penting."
"Mungkin tidak penting bagi Pak Banu memberitahu saya atau tidak karena saya tidak bisa membantu, tapi setidaknya saya tahu kalau sekarang Pak Banu sedang bersedih, jadi saya bisa menghibur Pak Banu," kata Mili emosional.
"Maaf." Banu menggenggam tangan Mili. "Maafkan aku. Menurutku itu bukan kabar baik, jadi aku tidak perlu membagi denganmu."
"Perempuan itu lebih suka kalau pasangannya membagi rasa sedih dan bahagianya," kata Mili.
"Iya. Maafkan aku, ya ...," mohon Banu membuat Mili salah tingkah.
"Pak Banu jangan meminta maaf. Kalau begini, saya yang tidak nyaman." Mili canggung. Banu tertawa.
__ADS_1
"Hmmm ... sepertinya ada yang perlu di perbaiki," ujar Pak Banu tiba-tiba seraya menyentuh dagunya.
"A-apa?" Mili mengerjapkan bola matanya kebingungan.
"Aku tidak suka panggilan itu."
"Panggilan yang mana, Pak?"
"Itu. Yang barusan," tunjuk Banu ke udara.
"Yang barusan Pak Banu?"
"Itu. Aku rasa panggilan itu tidak tepat lagi. Aku tidak suka kamu memanggilku Pak Banu," ujar Banu menegaskan.
Mili baru mengerti. "Jadi ... saya harus memanggil apa?" tanya Mili.
"Sayang, hubby, babe, atau honey ... Atau apapun yang menunjukkan aku adalah kekasihmu," kata Banu memberikan banyak pilihan. Ini membuat Mili mengerjapkan bola matanya karena takjub. Lalu sejurus kemudian, Mili tergelak mendengar itu. "Aku terlihat sangat antusias ya?" tanya Banu sadar.
"Benar, Anda ..."
"Stop. Berhenti memanggil Anda." Banu meletakkan jari telunjuknya pada bibir Mili. "Karena kamu adalah gadisku, kamu bisa memanggilku dengan mesra. Banu melepaskan telunjuknya dari bibir Mili.
"M-mesra?"
..._____...
__ADS_1