
Raka datang setelah di hubungi oleh Haras melalui telepon kantor. Dia langsung melesat ke ruangan direktur Cahaya.
"Saya datang," kata Raka tepat di depan pintu. Haras ada di sana.
“Tetap di sini. Aku akan memberi tahu direktur," kata Haras lalu masuk ke dalam ruangan. Sementara Raka menunggu di depan pintu.
"Ya."
Haras masuk ke dalam ruangan. "Raka sudah datang direktur,” ujar Haras memberi tahu. Cahaya yang tadinya menunduk karena mengerjakan sesuatu, kini mendongak sembari membetulkan letak kacamata kerjanya.
“Ya. Suruh dia masuk," perintah Cahaya. Raka berjalan masuk saat Haras membukakan pintu untuknya.
"Silakan duduk,” kata Cahaya mempersilakan. Raka mengikuti arahan beliau. Setelah itu, Cahaya ikut duduk di sofa.
“Aku yakin kamu pasti tahu kenapa aku memanggilmu kesini.”
“Apa ini tentang Pak Banu?” tebak Raka. Karena yang menghubungkan dia dengan direktur utama ini pasti karena dia adalah sekretaris Pak Banu. Tidak ada yang lain.
“Ya. Namun sebelum itu aku mau tanya padamu.” Cahaya melipat tangannya. Raka sedikit terintimidasi oleh direktur dan juga bibi Banu atasannya ini. “Apa kamu dekat dengan gadis bernama Mili?”Pertanyaan direktur membuat Raka terkejut.
Mili. Nama itu tidak asing bagi Raka. Namun mengapa direktur bertanya soal gadis itu padanya?
“Maaf. Apa Mili yang direktur tanyakan pada saya ini adalah karyawan baru itu?”
“Ya. Aku bertanya tentang dia.”
“Benar. Saya mengenalnya."
Cahaya mengangguk. Apa yang dikatakan Haras benar.
"Dia teman sekolah sepupu saya,” jawab Raka seadanya. Direktur Cahaya mengerutkan kening. Teman sekolah? “Kalau boleh tahu, kenapa Anda bertanya tentang dia? Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan yang sebentar lagi kita bahas, direktur? Maaf kalau saya lancang.”
Raka tidak bisa diam saja saat direktur menanyakan tentang Mili. Dimana gadis itu tidak ada hubungannya sama sekali. Begitu pikir Raka. Ia heran.
“Apa kamu tahu kalau dia itu karyawan yang masuk ke dalam perusahaan ini melalui jalur spesial,” kata Cahaya. Ia sengaja membuka rahasia ini.
“Jalur spesial?” tanya Raka makin tidak paham.
“Mungkin dia satu-satunya yang hanya tamat SMA, tapi bisa masuk dalam jajaran karyawan elit perusahaan ini.”
__ADS_1
Raka mulai paham apa yang di bicarakan direktur Cahaya padanya.
Jadi Mili bisa masuk ke perusahaan ini karena seseorang? Siapa itu?
“Apa aku salah bahwa kamu tahu soal ini?” tebak Cahaya melihat kejanggalan respon Raka tentang ini.
Mungkin Mili bisa masuk karena koneksi Pak Banu. Bukankah gadis itu terus saja mengatakan hal aneh jika itu tentang Pak Banu. Raka cepat tanggap.
“Ada hal yang tidak saya ketahui soal Pak Banu. Mungkin seperti gadis ini yang di rekomendasikan langsung oleh Pak Banu, Direktur.” Raka mencoba berpura-pura tahu. Dia ingin tahu banyak hal lagi tentang hubungan Mili dan Pak Banu.
Cahaya tersenyum.
“Simpan informasi ini,” tegas Cahaya.
“Siap Bu direktur.” Raka menundukkan kepala demi bersikap sopan pada orang nomor satu di perusahaan ini.
“Soal pembicaraan kita selanjutnya, kamu berada di pihak mana Raka?" tanya Cahaya.
"Saya kurang mengerti direktur."
"Sebentar lagi, akan ada rapat para eksekutif. Mereka akan membicarakan soal pergantian CEO baru."
"Posisi Pak Banu terancam?"
"Ya."
"Itu dulu. Jika kamu tetap ingin menjadi bawahan Banu, dengarkan baik-baik apa yang aku katakan. Jika ada yang menginginkanmu, beri dia kesempatan. Ikuti apa yang diinginkannya. Lalu awasi dia dan laporkan padaku."
"Jadi kemungkinan mereka mengincar saya?"
"Mungkin. Karena kamu tahu segalanya tentang Banu. Kamu pasti tahu baik buruknya keponakan ku. Jadi mereka ingin menggali banyak informasi dari kamu. Namun aku berharap tidak ada yang menggantikan Banu," ucap Cahaya dengan mata sedih.
"Bukankah jika benar ada CEO baru, bukankah tidak ada gunanya menggali informasi soal Pak Banu dari saya."
Cahaya menoleh pada Haras. Ia menghela napas. Mungkin rasa sedih membuat beliau tidak mampu melanjutkan bicara.
"Yang direktur hadapi mungkin bukan hanya orang yang berpikiran biasa. Banyak hal lain yang akan di incar. Mungkin itu bisa di mulai dari pergantian CEO ini."
Raka mulai menyadari situasi ini. Kemungkinan kecelakaan Pak Banu bukanlah kecelakaan biasa. Pasti ada dalang di balik itu semua. Senyap merambat ruangan ini sebentar.
__ADS_1
"Apa kesehatan Pak Banu belum pulih, direktur?" tanya Raka yang sebenarnya tidak pernah tahu dimana sebenarnya atasannya di rawat. "Saya juga ingin menjenguk Pak Banu."
Cahaya menatap pria yang lebih muda dari Banu.
"Maafkan aku, Raka. Meskipun kamu adalah sekretaris Banu, aku belum bisa memberi tahu dimana Banu di rawat. Aku takut akan ada hal yang tidak di inginkan."
"Tidak apa-apa, direktur. Saya mengerti."
"Aku akan memberi mu tugas, Raka."
Pria ini mendengarkan dengan seksama.
"Awasi dia untukku. Aku takut dia berbohong kalau dia mengenal Banu. Jadi aku tidak perlu menyuruh Haras untuk melakukannya. Dia cukup punya banyak tugas yang di emban," perintah Cahaya.
"Saya rasa Mili itu gadis yang bersih, direktur. Saya mengenalnya dengan baik."
Cahaya melirik ke arah Haras.
"Namun sebagai bawahan, saya wajib melakukan perintah Anda. Saya akan melaksanakan tugas dari Anda dengan sepenuh hati."
Tidak ada yang tahu bahwa Banu muncul dan ikut duduk di sebelah direktur.
"Jadi akan ada rapat para eksekutif? Bibi, kamu pasti kesulitan mempertahankan aku dalam situasi ini. Meksipun aku senang bisa satu atap dengan Mili, tapi aku juga lelah harus dalam keadaan koma terus. Namun jalan kembali ke tubuhku tidak pernah aku temukan."
Banyak pertanyaan yang ada di benak Raka sekarang. Dia berjalan menjauhi ruangan direktur sambil berpikir.
"Mili mengenal Pak Banu? Darimana? Bukankah selama ini Pak Banu tidak pernah dekat dengan wanita manapun?" Raka bermonolog. Ada banyak hal janggal di sini. Mili gadis dengan strata yang jauh berbeda dari Banu. Itu perbedaan yang begitu mencolok. "Sepertinya aku harus mencari anak itu. Aku ingin bertanya banyak hal."
Banu mengikuti kemana Raka pergi. Karena pasti akan mempertemukannya dengan gadis itu. Sebab sekarang Raka mencari anak itu.
"Dari sekian banyak orang, kenapa justru Raka yang di beri tugas untuk mengikuti Mili. Sudah benar bibi itu menyuruh Haras yang melakukannya. Lalu kenapa harus tiba-tiba di ganti. Bibi tidak tahu perasaanku. Meski dia orang kepercayaan ku, jika itu urusan dengan Mili, aku tidak akan percaya," keluh Banu sambil terus mengikuti Raka.
Tiba-tiba Raka merasakan bulu tengkuknya berdiri.
"Kenapa aku merasa dingin di sini?" tanya Raka seraya melihat ke sekitar. Ia pun menyegerakan kakinya untuk pergi.
...__________...
__ADS_1