Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 91 ° Putusan


__ADS_3

Ternyata itu bibi Cahaya.


"Kamu harus menerima telepon ini karena pasti sangat penting," paksa Mili seraya menyodorkan ponsel itu pada Banu.


"Pasti bibi hanya ingin menggangguku," kata Banu enggan. Dia masih tidak menerima handphone yang di sodorkan Mili. Bola mata Mili langsung melotot. "Baik. Baiklah nyonya Banu," goda Banu yang membuat Mili merah karena tersipu. Namun gadis itu mencoba menahan diri untuk tidak berpaling.


Banu akhirnya menerima ponsel yang di serahkan Mili.


"Halo Bi. Ada apa? Bibi mengganggu kencan ku yang penting," kata Banu terus terang.


"Ini juga sama pentingnya dengan kencan mu," desis bibi kesal.


"Ada apa?"


"Keputusan dari tim pengawas sudah ada. Aku mendapatkan lebih dulu informasi dari lainnya. Selamat Banu. Kamu bisa kembali ke perusahaan lagi karena mereka menemukan orang yang mengaku suruhan Dirga untuk mengacaukan kantor cabang."


"Benarkah?" tanya Banu tersenyum menang. Dia juga membagi tatapan kebahagiaan itu pada Mili. Sementara Mili hanya mengerjap karena tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ya. Bibi hanya mau mengatakan kabar itu. Jadi silakan berkencan lagi dengan gadismu," kata Cahaya.

__ADS_1


"Terima kasih Bibi," ujar Banu riang. Setelah menutup telepon, Banu menatap Mili. "Hari ini, banyak hal baik terjadi padaku." Mili menoleh dan mendengarkan. "Keputusan tim pengawas sudah keluar."


"Apa ... rencana Pak Dirga berhasil?"


"Tentu saja tidak. Raka sudah bekerja keras untuk itu."


"Jadi kamu tidak melakukan apa-apa?"


"Tentu saja tidak." Banu meraih tubuh Mili dan memeluknya dari samping. Mili membiarkan pria itu memeluknya berulang kali. "Aku akan kembali ke perusahaan. Bukan tidak ada sanksi, tapi aku tetap di aktifkan kembali sebagai CEO."


"Selamat kalau begitu, tapi ... kenapa dengan wajahmu?" tanya Mili menatap Banu.


"Itu konsekuensi karena kita berdua memang harus bekerja," kata Mili sesuai dengan keadaan mereka sekarang.


"Kalau begitu ... seharusnya kita tinggal bersama," usul Banu dengan wajah menatap langit-langit apartemen. Mili hanya diam seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa soal itu. "Kamu setuju?"


"Aku tidak tahu," jawab Mili singkat.


"Kamu tidak setuju?" tanya Banu melihat Mili enggan membicarakan ini.

__ADS_1


"Bukan." Mili menjawab tanpa ragu. Banu menunggu Mili bicara. "Direktur belum tentu setuju."


"Soal Bibi itu urusanku. Untuk kamu, siapkan dirimu saja menjadi pengantinku," kata Banu siap.


"Jadi kamu mau memaksa Direktur?"


"Tidak. Karena sebentar lagi mereka akan menikah, jadi aku akan meminta bantuan Haras untuk menyetujui pernikahan kita. Meskipun sebenarnya tidak perlu karena aku yakin bibi setuju. Namun karena kamu kurang yakin, sebaiknya kita bertemu dengan bibi. Kamu setuju?"


Mili mengangguk.


***


Keputusan dari tim pengawas turun. Kerja keras tim pengawas membuahkan hasil. Dirga dinyatakan bersalah karena terbukti menggelapkan dana. Bahkan banyak dana di rekening antek-antek Dirga yang terlihat mustahil. Itu membuat penyelidikan makin ketat.


Semua orang yang terkait dalam rekening itu menjadi tersangka penggelapan dana. Mereka di periksa satu persatu. Namun bisa di pastikan semuanya akan masuk dalam penjara.


Untung saja Hilda sudah resign sebelum mereka sempat mencari jejak. Jika tidak, mungkin dia juga tidak aman dan menjadi salah satu tersangka. Karena bisa saja mereka melemparkan kesalahan padanya.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2