
"Kak Raka tahu kalau ada presdir dan sekretarisnya disini?" tanya Mili heran.
"Ya. Sebenarnya aku sudah ingin masuk ke dalam tadi, tapi melihat ada Haras di dalam, aku enggak jadi masuk. Ada apa mereka menemui mu?" Raka tidak bisa tenang.
"Tentu saja tentang Pak Banu. Kita bicara di sana saja. Aku ada jam istirahat sebentar lagi." Mili tidak ingin terlihat tidak serius bekerja jika berbincang saat masih jam kerja. Apalagi bukan soal pekerjaan. "Sebentar lagi pesanan Kakak datang."
"Oh, baiklah."
***
Mili meneguk minuman yang ia bawa. Dia dan Raka ada di satu meja. Mili sudah menceritakan semuanya.
"Jadi presdir pikir kamulah yang mendekati Pak Banu?" tanya Raka.
"Ya. Aku rasa begitu," jawab Mili malas.
"Jadi sebenarnya bagaimana?" tanya Raka yang memang kurang mengerti.
"Aku tahu akulah yang ingin bertemu Pak Banu. Namun setelah dia bilang aku konyol saat mengatakan bahwa kita pernah bertemu saat dia masih jadi arwah dan pernah bercium ... an." Mendadak Mili menghentikan kalimatnya. Dia sadar tidak seharusnya dia bicara soal itu. Itu memalukan.
"Kalian sudah pernah berciuman?" tanya Raka yang cepat tanggap.
__ADS_1
"Lupakan itu. Yang penting adalah, aku tidak lagi berharap dia mengenalku seperti dulu," kata Mili seraya mengibaskan tangannya. Raka diam.
Ternyata aku benar-benar tidak ada harapan, batin Raka.
"Jadi presdir mengancam mu?"
"Tidak. Hanya memintaku untuk menjauhi Pak Banu saja." Mili meneguk minumannya. "Sungguh konyol. Seharusnya kan bibi Pak Banu itu membawa uang banyak dan menyuap aku untuk menyuruhku menjauhi pak Banu kan? Seperti yang ada di drama-drama."
Mili masih sempat bercanda. Walaupun begitu, raut wajahnya terlihat sedih. Raka tidak bereaksi. Dia menghela napas menjeda kalimatnya.
"Sepertinya pria itu akan di jodohkan. Seperti yang ada di drama juga." Tersirat senyum sedih. "Karena ingin menguatkan posisi dalam perusahaan, Pak Banu harus menikah dengan wanita yang bisa menunjangnya."
"Pak Banu di jodohkan?" tanya Raka terkejut.
"Tidak. Aku juga harus kembali ke kantor," kata Raka bersiap pergi.
Sementara itu di ruangan Pak Banu.
Tanpa tahu kalau Mili tengah tadi di interogasi bibinya, Banu sedang mengamati berkas milik Mili yang sudah di letakkan Raka di atas mejanya.
"Mili ... Wajahnya tidak jauh beda dengan yang aku lihat secara langsung. Dia tetap manis," gumam Banu tanpa sadar bahwa ia sedang memuji gadis itu.
__ADS_1
Tidak ada yang aneh dengan berkas milik gadis itu. Semua sesuai. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa bisa dia merekomendasikan gadis ini pada perusahaan?
Banu melirik pada arlojinya.
"Ini waktunya makan siang. Sebaiknya aku ke toko roti." Banu menutup berkas milik Mili dan meletakkan ke dalam lemari dokumen di sudut ruangannya.
Saat itu, Cahaya sudah muncul di depan pintu ruangannya.
"Mau kemana Banu?" tanya Cahaya.
"Aku mau keluar sebentar Bi," jawab Banu.
"Makan siang?"
"Ya," sahut Banu beralasan. Karena sebenarnya ia ingin ke toko roti.
"Baguslah. Sebaiknya kita makan siang bersama," kata Cahaya.
"Tidak, Bi. Aku sedang ..."
"Sepertinya tidak ada jadwal dengan tamu, berarti kamu bisa meluangkan waktu makan siang dengan bibi. Ini sangat jarang terjadi, Banu," bujuk Cahaya.
__ADS_1
"Baiklah." Banu mengalah.
...____...