Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 70 ° Mengumpulkan omong kosong


__ADS_3

"Jadi penyebab utama kegagalan ini adalah Pak Banu?" tanya pengawas yang lain menegaskan maksud dari kalimat Dirga.


"Ya. Seperti yang Anda katakan," ujar Dirga seraya mengangguk. Wajahnya yakin sekali ketika mengatakannya. "Mungkin memang sudah banyak prestasi pak Banu dalam menjalankan perusahaan selama ini, tapi setelah kecelakaan yang menimpa beliau, saya rasa kinerja pak Banu tidaklah unggul seperti biasanya," kata Dirga seraya mengedarkan pandangan ke seluruh orang-orang yang ada di meja rapat. Itu kode untuk mereka ikut bicara.


Aku tidak unggul? Lucu. Teruslah bicara sesukamu Dirga. Banu tersenyum dalam hati mendengar ocehan Dirga.


"Itu benar.” Mulut seseorang mulai terbuka. Banu melirik pada orang yang mulai mengikuti jejak Dirga untuk menyerangnya. “Kesehatan sungguh penting dalam ... mengemban sebuah tanggung jawab.” Sudut mata Banu terlihat tajam hingga membuat orang itu sedikit gugup. Lalu di bawah meja, dia menowel rekan lain untuk ikut bersuara.


"Benar. Saya rasa juga demikian,” imbuh pria tua di sebelah orang tadi. Hingga yang lainnya pun menganggukkan setuju dengan pendapat Dirga dan beberapa orang lainnya.

__ADS_1


Satu persatu mereka mulut mereka mulai terbuka. Mengemukakan pendapat mereka tentang Banu yang sebenarnya hanya akal-akalan saja. Rupanya banyak musuh yang ingin menjegal Banu agar jatuh.


Para cecunguk-cecunguk ini ..., geram Banu dalam hati. Wajah mereka begitu gembira mengira sudah mencapai puncak untuk menggulingkan aku. Apa mereka tidak pernah terpikir bahwa kemungkinan bocornya riwayat rekening mereka yang mustahil itu ada? Banu menipiskan bibir. Tangannya bersidekap mengamati satu persatu orang di dalam ruang meeting.


"Bukankah banyak faktor yang menjadi penyebab setiap perkembangan sebuah kantor cabang menurun? Bukan hanya dari CEO-nya saja," tegas Cahaya yang langsung memberi pembelaan pada keponakannya.


Tenanglah bibi, pinta Banu dengan tatapannya.


Dirga menoleh dengan sorot mata remeh pada Cahaya. Dasar wanita pengganggu, cibir Dirga dalam hati.

__ADS_1


Dia tahu bahwa Cahaya pasti akan membela Banu karena dia keponakan wanita itu. Namun dia tidak peduli karena yakin inilah kesempatan dia menang.


"Maaf, direktur. Apa Anda tidak membaca beberapa hal di laporan yang ada di tangan Anda? Di sana tertulis bahwa mereka tidak pernah mendapat kunjungan sama sekali dari pihak perusahaan ini. Mereka berkata surat protes mereka juga tak pernah di tanggapi oleh CEO kita. Lampiran email yang mereka kirimkan juga ada di sana," kata Dirga dengan mata seakan menunjuk pada laporan yang di bagikan tadi. Cahaya melihat ke arah copy-an dari bukti-bukti yang menunjukkan kelalaian Banu.


"Memang mungkin banyak faktor yang menyebabkan suatu anak perusahaan menjadi tidak berkembang, tapi semua itu karena tidak ada perhatiannya dari pemegang wewenang, yaitu Pak Banu sebagai CEO," jelas Dirga dengan mata tajam menusuk pada Cahaya. "Sebagai orang paling tinggi jabatannya seharusnya Anda tahu permasalahan ini, tapi nyatanya ... Huh." Senyum menyepelekan Cahaya meluncur begitu saja. "Anda juga kecolongan." Dirga mengetuk meja pelan, tapi dengan penuh tekanan.


Cahaya mengatupkan mulut karena apa yang di katakan Dirga benar. Dia tidak tahu keadaan kantor cabang seperti itu. Memang tidak ada yang tahu, kecuali mereka, orang-orang Dirga sendiri.


..._______...

__ADS_1


__ADS_2