Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 38 ° Ada harapan?


__ADS_3

"Jadi Bapak mengikuti saya?" tegur Mili. Banu diam. Kemudian menghela napas.


"Ya, aku memang mengikuti mu." Banu mengaku. "Jangan bertanya kenapa. Tidak ada alasan untuk itu." Banu langsung menyetop Mili untuk bertanya. Gadis ini urung menggerakkan bibirnya.


Ini sungguh mengejutkan untuk Mili. Dia semakin takjub.


Sebenarnya tadi ia hanya mengetes pria ini mengikutinya atau tidak. Namun nyatanya itu benar. Pak Banu sedang mengikutinya.


Mili menatap lurus-lurus pria ini. Menurutnya sangat menakjubkan, kalau pria ini mengikutinya.


Untuk apa? Apakah Pak Banu ingat tentang dirinya? Tidak. Mata pria itu bukan menatapnya karena sudah ingat. Tatap mata itu hanya sebuah tatapan kebingungan.


"Itu aneh," kata Mili datar menanggapi. Lalu Mili berlalu.


"Jadi kamu pernah bekerja di perusahaan ku?" tanya Banu yang menyerap informasi dari Raka tadi siang. Dia tidak ingin Mili pergi.


Kakinya berhenti melangkah. Pasti Kak Raka yang memberitahu Pak Banu. Mili menoleh pada Pak Banu.


"Apa karena kita satu perusahaan jadi aku merasa mengenal mu?" tanya Banu lagi masih menanyakan soal itu.

__ADS_1


"Mungkin. Anggap saja begitu," jawab Mili lalu memutar tubuhnya dan hendak melangkah lagi.


"Kenapa memberi jawaban ambigu, Mili?!" teriak Banu. Sesaat Mili tersentak. Kakinya mendadak berhenti. Dia tidak berpikir Pak Banu akan meneriakinya. Ini membuatnya menoleh dengan menatap heran dan protes.


Ada apa dengan pria ini? Mili menatap lurus-lurus pria ini.


"Jawab aku, kenapa aku merindukan rumah kecil mu itu?" tanya Banu kesal.


"Itu memang rumah yang kecil." Mili tahu diri. Dia tidak marah. Itu kenyataannya.


Namun daripada hanya kesal dan berniat mengejek, Banu lebih mirip putus asa.


"Justru itu. Kenapa aku merasa ingin kembali ke rumah kecil mu daripada ingin pulang ke rumahku yang mewah. Apa? Apa? Apa penyebab itu?" Pak Banu merasa frustasi. "Tolong, kamu bisa mengatakan apa saja yang bisa membuat aku lega." Banu menjeda kalimatnya. "Darimana perasaan rindu itu?"


Mili terdiam. Bola matanya masih menatap Pak Banu lurus-lurus.


"Saya bisa mengatakan apa saja?" tanya Mili. Banu mengangguk pelan. "Apa saja meski itu mustahil?"


"Ya, katakan saja." Banu pasrah. Daripada gadis ini hanya diam terus menerus. Mili menghela napas.

__ADS_1


"Baiklah. Kita bisa saling mengenal saat Anda dalam keadaan koma," ungkap Mili. "Anda datang pada saya sendiri waktu itu."


"Keadaan koma? Bukankah aku tidak bisa melakukan apa-apa?" tanya Banu mengernyitkan dahi. Dia tidak ingat semasa masih tidur dalam keadaan koma. Namun menurut Cahaya, dirinya hanya tidur nyenyak.


"Bukan tubuh Bapak, tapi arwah Bapak," imbuh Mili merasa konyol sendiri. Namun ia berharap pria ini percaya. Mili berharap.


Hah?


"Arwah?" tanya Banu merasa aneh. Bola matanya mengerjap. Lalu ia menatap Mili dengan pandangan tidak percaya. "Kamu serius dengan ucapan mu?"


Mili sudah menduga ini. Dia akan tampak konyol di depan orang lain dengan tuduhan bicara sembarangan.


"Saya sudah mengatakan apa saja seperti yang Anda katakan. Jika itu tidak sesuai harapan Anda, maaf. Saya tidak bertanggung saja dengan itu. Permisi." Dia sudah mengatakan kenyataannya.


Kini Mili meyakinkan diri untuk pergi. Ia berniat meninggalkan pria ini tanpa banyak bicara. Mili menghapus harapannya untuk bisa di ingat oleh pria ini. Membiarkan Banu yang termangu.


Di sudut samar jalanan ini ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka. Rupanya Banu sedang di awasi. Interaksi mereka sudah di amati oleh seseorang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2