Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 54 ° Ruangan Banu


__ADS_3

Mili melebarkan mata melihat perempuan itu. Ia takut direktur makin marah padanya.


Banu tahu itu membuat Mili panik.


"Ikut aku. Kamu akan terhindar dari direktur," kata Banu. Mili tidak menjawab. Namun ia tidak menolak saat tangannya ditarik Banu masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, Mili diam saja tidak mengerti. Sebenarnya sedang apa?


"Seru ya, bersembunyi seperti ini," ujar Banu senang. Mili mendongak ke samping. Pria itu tersenyum padanya. Mili langsung melihat ke depan lagi.


Kenapa dia tersenyum kesenangan seperti itu? Apa benar-benar karena aku? Mili menggelengkan kepalanya.


Banu yang melihat itu heran. Namun dia hanya diam memperhatikan.


Ting! Pintu lift terbuka. Banu menarik tubuh Mili dengan lembut untuk keluar dari lift.


"Selamat pagi Pak Banu." Mili? Raka yang ingin menyapa Pak Banu di kejutkan oleh munculnya Mili dari balik punggung Pak Banu.


"Pagi Raka," sahut Banu.

__ADS_1


"Kamu Mili?" tanya Raka tidak yakin.


"Ya. Dia Mili. Aku yang membawanya," kata Banu mewakili Mili untuk menjawab. Mili melebarkan mata pada Raka.


"Oh, ya." Raka tahu dia harus diam karena ini sudah kehendak atasan.


Melihat dari seragam dan bawaan yang di pegang Mili, Raka mulai paham kalau gadis ini sedang mengantarkan pesanan. Mungkin Pak Banu sengaja memesan roti dari toko tempat Mili bekerja, untuk bertemu gadis ini.


"Aku akan ada di dalam beberapa waktu. Tolong tahan siapa saja yang datang. Ayo Mili," ajak Banu seraya mendorong punggung gadis itu lembut untuk masuk ruangannya.


"Baik, Pak." Raka menunduk. Ia melihat keduanya masuk ke dalam ruang kerja Pak Banu. "Kenapa wajahnya kaku sekali? Apa dia gugup karena pria yang di nantinya begitu ingin dekat dengannya? Dasar Mili. Dia lucu." Raka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.


Sementara itu di dalam ruangan Banu.


"Duduklah. Kamu pasti lelah. Dan maaf sudah membuatmu datang ke sini," kata Banu meraih tas berisikan roti yang Banu pesan. Lalu menekan bahu Mili agar duduk.


Mili akhirnya duduk.


"Oh, ya. Lebih baik buka topi kamu. Di sini tidak akan ada yang tahu siapa kamu." Banu mengusulkan.

__ADS_1


"Ah, iya." Mili melepaskan topinya.


Tok! Tok! Pintu di ketuk. "Banu!" Kedua orang di dalam ruangan terkejut. Mili panik. Namun sebelum sempat Mili bersembunyi, pintu sudah terbuka.


"Apakah kamu ..." Bola mata Cahaya tertambat ke arah sofa. Dimana Mili tengah duduk di sana. Banu melirik. Mili tengah sedikit pucat karena panik.


Raka pasti tidak bisa menahan direktur masuk.


"Selamat siang." Mili beranjak berdiri. Ia berusaha tetap tenang dan sopan.


"Siang," sahut Cahaya. Haras di tempatnya juga ikut terkejut dengan adanya gadis ini di sini.


Pandangan Cahaya beredar ke sekitar. Dia mencoba melihat situasi. Kemungkinan gadis ini sedang mengantar pesanan roti yang ada di meja Banu. Karena gadis ini juga masih memakai seragam kerjanya.


"Aku pikir aku salah lihat. Ternyata benar aku melihat dia tadi," kata Cahaya pada Banu.


"Ya. Bibi tidak salah. Aku memang mengajak Mili ke ruanganku," kata Banu mengaku.


"Tidak. Itu tidak seperti yang Anda bayangkan." Mili langsung menyerobot untuk klarifikasi. Dia tidak ingin perempuan ini makin marah karena dia terlihat dekat dengan Banu.

__ADS_1


...___...


__ADS_2