
"Sebaiknya kalian segera kembali ke ruangan kalian. Pekerjaan kalian masih banyak, bukan? Berbeda denganku yang kini bisa bersantai," kata Banu seraya tersenyum. Pria ini terlihat benar-benar santai.
"Ini mengecewakan Pak Banu. Kenapa Anda juga di nonaktifkan? Bukannya jelas sekali kalau Pak Dirga yang bersalah. Seharusnya hukum jatuh hanya pada dia saja," keluh Raka.
"Benar Banu. Seharusnya hukuman jatuh hanya pada Dirga. Dia harus di keluarkan karena merugikan perusahaan. Dia ..." Cahaya ikut bicara.
"Bibi, tenanglah." Banu meletakkan tangannya pada kedua lengan Cahaya. Ini membuat Cahaya mengentikan kalimatnya. "Tim pengawas tidak akan lama menemukan soal kecurangan Dirga. Karena bukti yang aku berikan itu mutlak dari kesalahan Dirga dan orang-orangnya. Aku tidak merekayasa-nya. Mereka butuh pembuktian sedikit lagi dan itu akan membawa semua orang itu keluar dari sini."
"Baik, baik. Bibi percaya."
"Oke. Aku akan pulang sebentar lagi. Lanjutkan pekerjaan kalian," ujar Banu menasehati.
***
Di ruangan kerja Banu. Dia tidak langsung pulang karena masih harus membereskan sisa perkejaan. Juga mengumpulkan barang-barangnya untuk di bawa pulang.
"Apa rencana Pak Banu selanjutnya? Aku yakin Pak Dirga pasti akan mengaburkan bukti-bukti itu," ujar Raka cemas.
__ADS_1
"Tidak semudah itu, Raka. Aku sudah menyiapkan semua. Meski Dirga bisa lolos, tapi semua orang di sana tidak. Mereka tidak akan mudah membiarkan hanya diri mereka yang akan di jatuhi hukuman. Mereka pasti akan mengajak Dirga untuk ikut dengan mereka."
"Ya. Orang serakah seperti mereka tidak akan bisa setia. Mereka juga bisa menusuk dari belakang dan berkhianat bila perlu," kata Raka setuju.
"Benar. Daripada diam dan menutupi kesalahan Dirga dan terancam keluar dari perusahaan yang bagus ini, mereka memilih membuka mulut untuk membeberkan semua. Itulah pola pikir manusia seperti mereka," imbuh Banu
"Itu benar." Raka mengangguk setuju. "Saya sedih karena harus di tinggal lagi oleh Pak Banu," kata Raka. Ya. Ini kedua kalinya.
"Hahahaha ..." Banu tertawa. Ini terdengar lucu di telinganya, karena Raka seperti anak kecil yang sedang merajuk untuk memintanya tidak pergi. "Jangan khawatir. Ini tidak akan lama," ujar Banu menepuk pundak sekretarisnya.
"Saya boleh bertemu dengan Pak Banu?" tanya Raka.
"Anda akan menjauh ke luar negeri?" selidik Raka.
"Tidak. Karena aku tidak bisa meninggalkan dia disini sendirian."
"Dia? Siapa Pak?" tanya Raka tidak paham.
__ADS_1
"Dia. Gadis kesayanganku," ujar Banu dengan wajah berseri-seri. Senyumnya mengembang seakan seseorang ada di hadapannya.
"Oh, dia ..." Raka akhirnya bisa mengerti siapa yang di maksud Pak Banu. Itu Pasti Mili. Gadis itu. "Jadi Anda akan menikmati liburan Anda yang tidak menentu ini dengan Mili di sini?"
"Ya, tapi ... ke luar negeri sepertinya menyenangkan." Banu mendapat ide baru.
"Anda akan mengajak Mili?" tanya Raka.
"Ya. Menurutmu dia mau?" Banu ingin tanah pendapat Raka.
"Jika melihat dia tipe orang pekerja keras, saya rasa dia tidak mau."
"Kenapa?" tanya Banu yang langsung serius ingin mendengarkan Raka. Karena ini informasi penting.
"Dia tentu tidak ingin meninggalkan pekerjaannya, Pak."
"Oh, ya. Dia sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Aku harus memikirkan cara untuk bisa membujuknya. Oke. Aku pergi Raka," ujar Banu setelah merasa siap.
__ADS_1
"Baik, Pak."
..._____...