
Hilda menemui Raka yang sedang berdiri di area parkir.
"Kamu sudah mendapatkannya?" tanya Raka.
"Jangan sampai aku terseret dengan nama Pak Dirga, Raka. Aku sudah melakukan ini demi atasan mu," desis Hilda.
"Kalau kamu tetap bisa di ajak kerja sama seperti ini, aku yakin Pak Banu akan mempertimbangkan lagi untuk pemecatan mu," kata Raka.
"Ishh." Hilda berdecak kesal.
"Oh, ya. Jangan sesekali memberi informasi tentang Mili pada Pak Dirga lagi," pesan Raka. Hilda menoleh cepat.
"Sekarang kamu jadi bodyguard-nya?" cibir Hilda.
"Bukan aku, tapi Pak Banu."
"Pak Banu? Maksudnya?" tanya Hilda tidak mengerti. Raka yang sejak tadi bicara sambil melihat ponsel, kini mendongak menatap sepupunya ini.
"Jika kamu mengusik Mili, kamu akan berurusan dengan Pak Banu," terang Raka.
__ADS_1
"Jadi Pak Banu dan Mili ..." Hilda tidak bisa meneruskan bicaranya. Ia mendadak kesal sendiri. "Ishh. Beruntung sekali hidup si yatim piatu itu." Hilda melipat tangannya dengan wajah masam.
"Justru karena dia di ganggu orang-orang seperti mu, keberuntungannya terus saja datang. Jadi jika kamu iri, berhenti mengganggunya. Karena dia akan terus beruntung kalau kamu melakukannya," kata Raka.
"Huh," cibir Hilda.
"USB ini akan aku duplikat. Setelah itu kau bisa kembalikan ke tempat semula."
"Cepatlah. Aku juga akan celaka jika Pak Dirga tahu soal ini ...," ujar Hilda cemas.
"Ya, aku tahu."
**
Banu melangkah di lorong perusahaan. Saat itu bertemu dengan Dirga.
"Halo Banu," sapa Dirga. Banu melirik.
"Ya," sahut Banu tidak terlalu antusias.
__ADS_1
"Rapat dengan eksekutif akan di adakan sebentar lagi, aku harap kamu sudah melakukan pekerjaan mu sebagai orang dengan jabatan penting dan tanggung jawab besar dengan baik," ujar Dirga penuh dengan senyuman palsu.
"Tentu saja. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku harap kamu juga menyiapkan semuanya dengan baik. Karena mungkin saja keberuntungan mu berkurang atau bahkan tidak ada kali ini," balas Banu.
"Keberuntunganku berkurang?" tanya Dirga.
"Ya. Bisa saja aku segera mendepak mu keluar dari perusahaan saat ini juga. Bahkan sebelum rapat para eksekutif pusat datang," gertak Banu.
"Huh, apa yang bisa kau lakukan?" tanya Dirga remeh.
"Banyak. Seperti menunjukan pada semua orang kecurangan mu dan para anggota mu. Kamu pikir bisa lolos dari tim audit?" ujar Banu membuat Dirga memasang wajah masam.
"Bersenang-senanglah lebih dulu. Karena setelah waktu itu tiba, kamu akan menerima apa yang sudah kamu perbuat," desis Banu. Lalu ia berjalan meninggalkan Dirga yang mengerutkan keningnya.
"Apa yang di rencanakan Banu? Sialan," umpat Dirga. Tiba-tiba ia merasa cemas. Dirga segera kembali ke ruangannya. Ia memeriksa sesuatu. Dugaannya benar. Ada yang tidak beres.
"Kemana USB itu? Aku yakin sudah meletakkannya di sini." Dirga panik seraya terus mencari USB itu. Ketika jarinya sampai di ujung laci, ia menemukannya. Ternyata USB itu masuk terlalu dalam hingga terlihat seakan hilang. "Ini black box mobil Banu saat kecelakaan. Jika ini sampai tersebar di luar, aku bisa tamat."
Dirga diam sejenak sedang berpikir.
__ADS_1
"Lalu yang di sebut Banu curang apa? Dia tidak tahu soal dana yang di gelapkan itu kan?" tanya Dirga cemas. "Tidak mungkin dia tahu tentang itu. Karena Banu baru saja bangun dari komanya. Mungkin ia hanya menggertak saja. Huh," cibir Dirga.
..._______...