Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 97 ° Gaun yang pas


__ADS_3

"Tidak ada apa-apa. Bibi hanya ingin mengerjai ku. Jadi membuatku kesal." Banu mirip bocah kecil yang menggerutu. Mili tergelak melihatnya. "Kenapa kamu menertawakan ku?"


"Tidak," bantah Mili sambil menahan tawa.


"Padahal jelas-jelas kamu menertawakan ku," tuding Banu. Mili melingkarkan lengannya pada pinggang Banu.


"Iya. Kamu seperti bocah kecil kalau menggerutu seperti itu," ujar Mili. sambil masih dengan sisa tawa.


"Aku menggemaskan?" tanya Banu lucu.


"Benar." Mili mengangguk.


"Ya, aku memang menggemaskan. Ayo, kita berangkat melihat gaun pengantin." Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Kendaraan itu melaju mulus di atas aspal kota. Hingga akhirnya tiba di tempat mereka untuk melihat gaun pengantin.


Setibanya di sana, karyawan langsung menunjukkan beberapa gaun. Mili menoleh pada Banu. "Yang mana?"

__ADS_1


"Pilih saja. Lalu aku akan coba lihat, kamu cocok yang mana."


"Mari Nona saya bantu memakainya," kata karyawan pada Mili. Gadis ini mengangguk. Mereka menuju ke ruang ganti yang berbentuk tirai melingkar. Sementara Banu duduk di sofa menunggu dengan tenang wanita ini mencoba gaun.


Banu mendongak ketika seseorang keluar dari tirai ruang ganti. Rupanya itu bukan gadisnya. Karyawan tempat ini keluar tanpa Mili. Banu mencoba menjulurkan kepala untuk mencari Mili. Namun tirai masih tertutup dan gadis itu tidak muncul.


"Sebentar lagi Nona akan selesai." Karyawan itu tersenyum penuh arti ketika mengatakan itu. Banu yang hendak memaksa untuk melihat ke dalam tirai, urung. Dia memperbaiki duduknya dan siap dengan kejutan yang sebentar lagi di perlihatkan. "Nona sudah selesai, Tuan."


"Ya." Banu siap untuk menyaksikan. Perlahan tirai di buka. Sosok Mili muncul berbalut gaun pengantin yang indah di tubuhnya. Bola mata Banu mengerjap. Seperti yang ia bayangkan sebelumya, Mili akan terlihat luar biasa cantik dengan memakai gaun pengantin berwarna putih bersih berhiaskan kristal itu.


"Ya," sahut Banu cepat setelah sadar dari rasa terpukau.


"Apa ini sudah pas dan bagus?" tanya Mili seraya menyentuh gaunnya.


"Tentu. Tentu itu sangat bagus dan indah untukmu, sayang." Banu tersenyum. Dia mengacungkan jempol pada Mili. Setelah melihat ini, Mili baru bisa lega.

__ADS_1


"Syukurlah. Aku sempat bingung melihatmu tertegun dan tidak mengatakan apa-apa," ujar Mili. Banu tersenyum mendengar ini.


"Saya bantu membuka gaun ini," ujar karyawan itu.


"Ya, terima kasih."


"Ee ... bisa bawakan lagi gaun pengantin yang lain?" tanya Banu seraya berdiri. Ini membuat Mili dan karyawan itu heran. Melihat reaksi Banu tadi, sepertinya gaun ini sudah pas dan bagus, tapi kenapa Banu minta di bawakan gaun yang lain?


Meksipun begitu, karyawan itu tetap pergi mengambil gaun yang lain. Banu mendekat pada gadis itu.


"Kamu tidak suka gaun ini?" tanya Mili terheran-heran.


"Suka. Aku hanya ingin melihatmu jika memakai gaun yang lain," ujar Banu. Mili mengangguk mendengar itu. Tanpa meminta ijin, tangan Banu menyentuh gaun Mili dan membantu gadis ini membukanya. Ini membuat Mili terkejut.


...____...

__ADS_1


__ADS_2