
Haras bisa memahami bagaimana perasaan gadis ini sekarang. Maka dari itu, Haras merasa keberatan jika Cahaya menemui Mili. Karena dia yakin hal ini akan terjadi.
"Menjauh dari Pak Banu? Saya rasa Anda salah. Saya tidak dekat dengan Pak Banu," kata Mili.
"Bukankah kalian sering bertemu?" desak Cahaya.
"Pak Banu bukan sengaja menemui saya. Pak Banu hanya datang ke toko ini dan membeli roti."
"Aku tidak tahu bagaimana dengan itu, tapi aku mohon kamu menjauh darinya," pinta Cahaya.
Mili diam. Menjauh? Aku tidak pernah mendekati Pak Banu. Aku sudah menyerah kalau kita itu pernah punya hubungan yang spesial.
"Maaf, sepertinya ada yang keliru," kata Mili. Cahaya menatap gadis ini. "Saya tidak tahu sejauh mana Anda tahu tentang saya dan Pak Banu, tapi sepertinya kalian salah paham. Saya dan Pak Banu tidak punya hubungan apa-apa."
"Aku banyak mendapat informasi soal kedekatan kalian berdua. Banu hanya bisa dekat dengan perempuan yang mampu membantu dia melindungi perusahaan dari orang-orang jahat. Kerja sama dia dengan perempuan yang punya posisi kuat bisa menguatkan perusahaan." Cahaya tampak emosional saat membicarakan perusahaan.
__ADS_1
Meskipun apa yang di bicarakan Cahaya tidak penting, Mili menutup bibirnya tidak memotong kalimat Cahaya sama sekali. Dia menunggu Cahaya menyelesaikan kalimatnya.
"Mungkin informasi yang Anda dapatkan adalah keliru," ujar Mili setelah yakin Cahaya selesai menjelaskan.
Cahaya melirik Haras. Mendadak dia ragu juga.
"Saya dan Pak Banu tidak dekat. Apalagi hubungan asmara. Jadi saya rasa Anda tidak perlu melakukan pembicaraan serius semacam ini. Karena saya tidak akan mengusik Pak Banu. Kita tidak dalam hubungan yang bisa mengganggu keseimbangan perusahaan." Mili menjeda kalimatnya.
"Ibu bisa menahan Pak Banu atau melarangnya kesini. Saya tidak masalah dengan itu. Jadi sebaiknya kita selesaikan pembicaraan ini. Seperti yang sudah anda ketahui, saya juga orang miskin. Jadi sebaiknya saya harus segera kembali bekerja kalau tidak mau di pecat." Mili mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Sudah saya tegaskan tadi seperti itu. Jika Anda mau saya tidak mengusik Pak Banu, tenang saja. Saya memang tidak ingin mengusik Pak Banu. Saya tidak punya urusan dengannya. Permisi." Mili membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat.
Kaki Mili melangkah mendekat ke meja kasir. Senior baru saja mengantarkan pesanan dan kembali ke pos kasir.
"Oh, kamu sudah selesai bicara dengan mereka?" tegur senior. Mili sudah kembali ke pos kasir.
__ADS_1
"Ya, aku kan janji tidak lama." Mili tersenyum. Senior berdiri di dekat Mili sambil melirik ke arah meja dekat dengan tempat Mili berbicara tadi. "Bincang-bincang kita selesai."
Namun senior masih melihat Cahaya dan Haras di meja tadi.
"Tapi mereka masih ada di sana," kata senior. Ada pembeli yang mendekat ke meja kasir.
"Biarkan saja. Sebentar lagi mereka pulang."
"Jadi urusan kalian sudah selesai?" selidik senior. Senior yang sejak tadi memperhatikan, sempat melihat wajah muram Mili yang tengah membelakangi orang-orang itu.
"Tidak. Sejak awal, kita tidak punya urusan. Mereka hanya keliru saja," kata Mili tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. "Terima kasih ibu ..." Mili tersenyum pada pembeli.
"Mereka mendekat, Mili," bisik senior memberi kode pada Mili dengan tiba-tiba.
...___...
__ADS_1