Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 71 ° Mengaku salah


__ADS_3

Pria dengan wajah culas ini sudah menempatkan orang-orangnya di kantor cabang, guna membuat kericuhan semacam ini. Karena sebenarnya kantor itu tidak akan bisa menjadi buruk seperti sekarang jika tidak dicurangi.


Haras kembali mengetatkan rahang ingin meraup mulut Dirga dan menghempaskan ke tanah. Raka menoleh pada Banu. Pria ini masih saja diam di saat semua sudah merasa di awan-awan sudah berhasil memojokkannya.


"Benar. Bagaimana mungkin mereka bisa bergerak jika atasan saja tidak peduli." Satu orang memulai lagi sikap setuju pada pernyataan Dirga.


"Ya. Itu benar." Mulut-mulut lain menggaungkan sikap setuju mereka.


Cahaya melihat Banu yang melihat mereka semua dengan tatapan tenang.


Kenapa kamu diam saja, Banu? Mereka sedang mengkritik mu. Bahkan menuduh mu. Kenapa kamu tidak menggerakkan mulutmu sedikit pun? Cahaya menggeram dalam hati melihat sikap Banu. Dia yang benar-benar tidak tahu menahu soal kantor cabang yang di anggap buruk tahun ini. Karena laporan yang selalu ada adalah semuanya dalam keadaan stabil.

__ADS_1


"Hmmm ... " Banu tersenyum tipis dan samar. Hampir-hampir tidak terlihat. Namun karena musuh Banu selalu memperhatikan pria dirinya, mereka menemukan senyuman tidak wajar itu.


Kening Dirga mengerut. Semua orang di sana juga mengerjapkan mata melihat Banu setenang itu.


Senyuman apa itu? Putus asa? Atau dia punya kartu as untuk menyangkal tuduhan yang sudah aku buat? tanya Dirga merasa cemas sendiri.


“Apa yang sebenarnya terjadi Pak Banu? Kenapa tiba-tiba ada laporan seperti ini? Bahkan ketika direktur Cahaya mengatakan semua baik-baik saja, ternyata Pak Dirga menemukan ada yang tidak benar pada anak perusahaan. Apa Anda sedang menyembunyikan sesuatu agar jabatan Anda tetap ada di tangan Anda?” tanya tim audit dengan mata nyalang menatap Banu. Dirga dan orang lain ikut menyoroti kursi Banu.


"Untuk soal kantor cabang yang dikatakan Pak Dirga berkembang tidak bagus karena masalah kesehatan saya, saya pribadi meminta maaf pada pengawas dan semua eksekutif yang ada di sini.” Banu berdiri dan membungkukkan badan. "Maafkan saya."


Banu? Cahaya mengepalkan tangannya. Ia yang tahu bagaimana tabiat keponakannya langsung melebarkan matanya.

__ADS_1


“Hoo ...” seruan takjub dan terhenyak kaget meluncur dari bibir semua orang.


Dirga langsung melebarkan matanya. Mengaku? Banu mengaku salah? tanya Dirga kebingungan. Bola matanya melihat Banu dengan tatapan keheranan. Namun sikap dan ekspresi Banu tetap sama. Kepalanya masih menunduk sedikit. Ekspresinya juga tampak sebagai orang yang salah.


Apa-apaan ini? Meski mencoba tenang melihat Banu tampak tidak ingin menyangkal, Dirga mengerjapkan matanya berulang kali. Tidak. Kamu tidak mungkin menyerah semudah itu. Dirga tidak sabar menunggu kalimat Banu selanjutnya. Pria ini yakin bahwa sebentar lagi Banu akan menyangkal.


Orang-orang di dalam ruang meeting keheranan dengan perubahan pria ini. Banu yang di kenal begitu angkuh dan dingin meskipun kerjanya sangat baik, membuat orang tidak percaya bahwa pria ini mampu menundukkan kepalanya bahkan membungkuk sekaligus meminta maaf. Ini Banu yang tidak biasanya.


Sejenak, seluruh orang di dalam ruangan hanya bisa melihat Banu yang masih berdiri di tempatnya.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2