Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 63 ° Sebuah cerita di waktu itu


__ADS_3

"Pak Banu datang pada saya waktu itu karena ingin meminta tolong."


"Tolong? Apa itu?"


"Soal kecelakaan Pak Banu waktu mau berangkat ke luar negeri."


"Kamu tahu itu?" Banu terheran-heran.


"Awalnya tidak tahu, tapi Pak Banu yang menceritakan pada saya. Jadi saya tahu semuanya."


Pak Banu mengangguk-anggukkan kepala.


"Pak Banu bilang kalau kecelakaan itu adalah suatu kesengajaan. Bukan murni kecelakaan." Saat mengatakan ini, Mili sempat ragu. Apakah ini akan berdampak baik atau buruk jika mengatakan semua yang ia ketahui dulu.


"Jadi aku mengatakan padamu ada yang sengaja mencelakai ku?" tanya Banu terkejut.


Kepala Mili mengangguk. Banu mengerutkan kening memikirkan hal itu. Cerita Mili sepertinya membuat Banu berpikir keras.

__ADS_1


"Apa Pak Banu tidak ingat?" selidik Mili. Banu yang menunduk tengah memikirkan sesuatu hanya diam. "Pak Banu," tegur Mili lembut. Banu mengerjapkan mata. Seakan baru tersadar.


"Sebaiknya kita duduk dulu. Kamu pasti lelah berjalan-jalan seperti ini," kata Banu.


"Ini kegiatan cukup ringan yang saya lakukan hari ini, Pak. Saya hanya berjalan pelan. Bahkan lebih berat pekerjaan saya di toko daripada ini," jelas Mili.


Tidak mungkin sekarang ia merasa lelah. Apalagi ia jalan dengan Pak Banu. Pria yang kini memberikan hatinya pada Mili.


"Begitukah? Sudah aku bilang, jika kita menikah lebih baik kamu berhenti bekerja dan melayani ku saja," kata Banu lagi-lagi menggombal.


Mili tersenyum tipis. Itu impian yang besar. Dia tidak mau berpikir jauh. Namun rona merah tampak di pipinya.


"Pak Banu bisa, makan makanan yang seperti itu?" tanya Mili heran. Secara itu adalah makanan jalanan. Untuknya, tentu tidak asing. Lalu bagaimana dengan pria kaya ini?


"Memangnya kenapa?"


"Pak Banu orang kaya. Jadi makan di tempat seperti ini mungkin terlihat tidak nyaman. Jadi saya sarankan untuk memperingati Bapak dulu, daripada nanti kecewa."

__ADS_1


Sambil mengingatkan, langkah keduanya sudah dekat dengan food truck itu.


"Aku tidak masalah. Apalagi itu makan denganmu. Momen kebersamaan kita itu yang terpenting," kata Banu sambil tersenyum. Mili melambung Dia bahagia. "Ayo, kita duduk di sana." Pak Banu menarik tangan Mili untuk duduk di bangku-bangku yang sudah di sediakan oleh pemilik food truck itu.


Menu yang di sediakan adalah makanan ringan. Bukan nasi dan semacamnya. Mungkin hanya roti dan salad.


"Apa aku mengatakan siapa yang mencelakai ku?" tanya Banu penasaran. Misteri tentang siapa dia saat Mili mengenalnya dulu perlahan mulai terkuak.


Namun ia perlu mencadangkan banyak stok percaya yang banyak. Karena akar dari cerita Mili adalah dirinya menjadi arwah.


"Ya. Pak Banu merasa ada seseorang yang merencanakan kecelakaan itu. Dia adalah Pak Dirga," ungkap Mili.


"Dirga?" Dari raut wajah Banu, nama itu tidak lagi asing masuk dalam golongan orang-orang yang mencelakainya. Dia musuh sejak dulu.


"Pak Banu sudah tahu?" tanya Mili yang tidak menemukan euforia bahwa orang yang ada di balik kecelakaan dirinya adalah Dirga.


"Belum, tapi aku merasa kemungkinan besar dia adalah orang yang pasti punya tujuan buruk pada ku. Lalu, apakah aku punya bukti?" tanya Banu menggebu.

__ADS_1


Mili diam sambil memegang gelas minuman di tangannya.


..._____...


__ADS_2