
Jantung Mili berdetak tak karuan. Masih tiga hari yang lalu ia bertemu pria ini. Hatinya yang sakit karena di lupakan masih terasa. Kenapa harus bertemu lagi?
Banu mendongak, "Ya, aku mau beli beberapa roti," jawab Banu. Mili menelan ludah dulu sebelum kembali bicara.
"Silakan Anda pilih dulu," kata Mili mempersilakan. Kemudian dia memilih kembali ke pos kasirnya lagi. Sepertinya Banu lupa lagi dengan wajah Mili. Kejadian tiga hari yang lalu pun tidak bisa di ingatnya.
Mili melayani pembeli lain yang lebih dulu berdiri di depan meja kasir. Namun pikirannya terbagi dengan keberadaan Pak Banu do sana. Dadanya terasa sesak. Seakan-akan oksigen di dalam ruangan ini menipis. Mili merasa sulit bernapas. Ia harus berulang kali menghela napas demi menyelamatkan napasnya.
Setelah memenuhi nampan berwarna putih di tangannya. Banu mendekat ke arah meja kasir. Pembeli tadi sudah pergi. Banu meletakkan mapan di atas meja dan menatap ke depan.
"Sudah selesai memilihnya?" sapaan khas pada pembeli saat di depan meja kasir.
"Ya," sahut Banu datar. Mili menarik nampan putih itu lebih dekat padanya. Lalu membungkus roti satu persatu. Banu melihat dengan seksama.
"Rotinya lima ya. Semuanya ...." Mili menyebutkan nominal total belanjaan Banu. Pria ini mengeluarkan kartu kredit. "Saya terima kartu kreditnya." Mili menerima kartu itu dengan tetap tidak menatap langsung ke arah Banu.
"Mili! Sebentar lagi ganti dengan anak di dalam ya?" Senior Mili memberi informasi dari pintu di belakangnya.
"Ya," sahut Mili dengan terpaksa tersenyum.
Mili? Namanya pernah aku dengar, di mana? Banu merasa tidak asing.
"Pakai tanda tangan atau pin?" tawar Mili terpaksa menatap mata Pak Banu.
"Pin," jawab Banu.
"Ya. Silakan." Mili menyerahkan mesin EDC pada Banu. Mili melihat ke arah lain demi kenyamanan customer saat menekan tombol pin.
"Sudah," jawab Banu. Mili kembali menoleh. Ia menyelesaikan pembayaran dengan kartu kredit. Lalu menyerahkan kartu itu pada Banu.
"Ini kartunya, lalu ini belanjaannya." Mili menyerahkan kresek belanja pada Banu. "Terima kasih. Silakan datang kembali," ujar Mili. Banu yang tengah memasukkan kartu kredit ke dalam dompetnya mendongak.
"Ya." Setelah itu Banu pun pergi. Dalam waktu yang sama juga, Mili meninggalkan pos kasir menuju ke belakang. Senior yang tadi bicara dengannya heran melihat kasir kosong.
Mili masuk ke dalam toilet dan menumpahkan air matanya di sana. Rupanya gadis ini menahan tangis sejak tadi. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan Pak Banu.
Mungkin usahanya untuk mengingatkan Pak Banu pada dirinya belum terlalu banyak. Namun ia sadar, alasan mengenal Pak Banu saat dia menjadi roh adalah hal yang mustahil. Dia akan di anggap gila. Maka Mili merasa wajib mundur.
__ADS_1
Mili mengusap matanya berulang kali karena air mata. Setelah puas menangis, Mili mencuci muka.
"Tidak. Tidak apa-apa. Anggap saja semua hal manis dan romantis saat masih berdua dulu adalah mimpi. Ya. Itu memang mimpi. Mimpi indah yang tidak bisa di lupakan." Mili menatap cermin seraya menguatkan dirinya sendiri.
Setelah yakin dia bisa menghapus jejak air mata, Mili keluar.
"Mili!" panggil senior. Dia lupa! Pos kasir ia biarkan kosong tadi.
"Ah, maaf Kak. Maafkan saya." Mili langsung membungkuk mengaku salah. Ia tidak punya pilihan lain selain langsung mengaku.
"Ya, itu memang salah. Ada apa?" tanya senior tidak langsung marah karena Mili langsung meminta maaf.
"Aku agak tidak enak badan. Aku agak mual tadi. Jadi langsung lari ke toilet." Mili mencari alasan.
"Apakah parah?" Senior khawatir.
"Tidak. Mungkin karena telat sarapan saja. Enggak begitu pusing sih."
"Ya sudah. Eh, pembeli yang kamu layani tadi menjatuhkan kartu kreditnya. Enggak keburu ketemu orangnya karena setelah orang itu pergi, baru ketahuan kalau ada kartu kredit yang jatuh," jelas senior.
"Semoga saja pembeli itu datang ke sini lagi," kata Mili berbeda dengan keinginan yang sebenarnya. Tentu ia rindu bertemu Pak Banu, tapi jika tetap saja tidak bisa saling mengenal, itu rasa percuma.
**
Dirga sudah berjalan ke sana kemari mencoba mencari seseorang. Ya, dia mencari Mili. Dia ingin tahu siapa sebenarnya Mili karena bisa muncul di rumah sakit yang sudah di rahasiakan oleh pihak direktur. Namun sayangnya Dirga tidak menemukan gadis itu.
Tok! Tok!
"Masuklah!" Setelah Dirga mengijinkan, Hilda masuk ke dalam ruangan.
"Saya datang, Pak."
"Hilda. Aku ingin tahu soal Mili. Gadis yang pernah aku inginkan informasi tentangnya. Sejak Banu muncul, gadis itu tidak pernah aku temui tempat biasanya."
Mili? Kenapa orang ini selalu mencari tahu tentang Mili? Apa bagusnya dia? cela Hilda dalam hati.
"Cari tahu, apa yang terjadi padanya."
__ADS_1
"Baik Pak." Hilda mengangguk.
"Oh, ya. Apakah kamu sudah membuat reservasi tempat makan siang?" tanya Dirga.
"Sudah. Saya sudah memesan tempat makan siang atas nama Anda siang ini. Saya juga sudah mendapat balasan dari sekretaris Pak Banu, bahwa beliau setuju untuk makan siang dengan Anda," jelas Hilda.
"Baiklah. Beri aku alamat tempat makan siang. Aku akan berangkat sebentar lagi," kata Dirga.
"Baik, Pak." Hilda mengirim lokasi makan siang mereka berdua melalui wa.
**
Banu juga sudah bersiap berangkat di ruangannya.
"Mengajak makan siang. Tidak tahukah Dirga, bahwa kita tidak sedekat itu untuk bisa makan siang bersama," kata Banu sambil merapikan kemejanya.
"Jika Anda merasa janji ini tidak penting, lebih baik Anda menolaknya Pak," kata Raka mengingatkan.
"Menolak? Tidak. Aku tahu dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Aku harus bersikap seperti bisa di tipu olehnya. Dengan begitu, dia akan lengah dan membuka sendiri akal busuknya pada ku," kata Banu percaya diri.
"Apa Anda berpikir dia adalah orang yang menyebabkan kecelakaan Anda waktu itu?" tanya Raka.
"Ya. Aku punya feeling jika melihat ia berada di depanku, aku merasa ada musuh besar yang sedang mengincar kepalaku."
"Jika begitu, sebaiknya Anda tidak menjalin hubungan di luar pekerjaan dengan Pak Dirga, Pak," ujar Raka cemas.
"Tenanglah, Raka. Aku tahu harus apa. Ayo, kita berangkat sekarang menuju resto yang Dirga pilih."
Mereka berdua pun menuju ke tempat yang sudah di janjikan. Rupanya Dirga sudah menunggu di sana.
"Oh, Banu. Akhirnya kamu datang juga!" seru Dirga.
"Maaf membuatmu menunggu, Dirga," kata Banu sambil menarik kursi.
"Tidak apa-apa. Aku tahu seorang CEO sepertimu sangatlah sibuk. Berbeda dengan ku bukan?" ujar Dirga seakan mengejek.
"Ya, itu benar. Kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya menjadi orang sibuk melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh," balas Banu.
__ADS_1
..._____...