
Dengan segala usaha, Hilda mencoba menemukan apa yang tengah dicari atasannya. Ia segera menyampaikan informasi yang telah ia dapatkan pada Dirga.
"Sepertinya gadis itu sudah berhenti bekerja, Pak." Siang ini Hilda menghadap pada Dirga.
"Berhenti?" tanya Dirga mengerutkan keningnya.
"Ya."
"Kenapa berhenti?"
"Sepertinya masa kontraknya sudah berakhir, Pak."
"Bukannya dia adalah orang yang dekat dengan Banu? Apa aku salah?" gumam Dirga. Ia mulai meragukan pemikirannya sendiri.
"Namun ada rumor lain soal gadis itu Pak," imbuh Hilda. Dia punya informasi samar yang hanya dia dengar dari orang tertentu.
"Apa?"
"Ada yang bilang, kalau gadis itu bukan berhenti karena masa kontrak, melainkan karena di berhentikan secara sepihak."
"Di berhentikan?"
"Ya. Dan yang melakukannya bukan pihak personalia, melainkan pihak Presdir Pak."
"Cahaya?" tanya Dirga melebarkan mata terkejut.
"Ya. Untuk tepatnya karena apa, saya tidak menemukan informasi apa-apa. Berhentinya tepat sebelum rapat para pejabat eksekutif perusahaan dan pemegang saham waktu itu," terang Hilda.
Bibir Dirga tersenyum. Dia menyadari bahwa itu setelah ia bertemu Cahaya di rumah sakit. Bahkan saat ia berpikir bahwa kenapa gadis itu tidak di keluarkan dari tim mereka.
"Baiklah. Terima kasih Hilda. Kamu memang sekretaris yang kompeten," puji Dirga. "Kamu boleh keluar sekarang."
"Baik Pak." Hilda menuju pintu keluar.
"Jika Presdir turun tangan langsung, itu artinya gadis itu memang istimewa. Ini makin menarik. Kemungkinan gadis itu punya hubungan dengan Banu makin kuat." Dirga menyeringai mendapati pemikiran itu. "Aku harus mencari tahu lebih banyak. Mungkin saja gadis itu punya rahasia Banu."
__ADS_1
**
Bukan hanya toko roti. Tempat kerja Mili juga merangkap menjadi cafe. Hingga jika malam weekend seperti ini, toko sangat ramai.
Sejak tadi Mili kesana kemari mengantar pesanan. Dari satu meja ke meja lain. Karena ini bukan toko roti besar. Semua orang melakukan pekerjaan dengan gotong royong. Mungkin hanya koki saja yang tidak melakukan pekerjaan lainnya.
"Hhh ... sepertinya semua meja sudah menerima pesanan." Mili menghela napas lega. Kepuasan pelanggan memang nomor satu. Telepon dalam saku apron-nya berdering. Mili mengintip ke layar ponsel. Ternyata itu Raka. Mili mengambil ponselnya dan menekan tombol warna hijau. "Ya, halo Kak Raka."
"Halo, Mili. Aku pikir kamu tidak akan menerima teleponku," kata Raka terdengar riang di seberang.
"Sebenarnya aku masih bekerja Kak, tapi ada jeda waktu untuk menerima telepon. Ada apa?"
"Masih bekerja? Syukurlah. Aku mau ke tempatmu bekerja." Nada lega terdengar jelas di dalam suara Raka.
"Oh, ya? Di sini ramai. Mungkin aku tidak bisa menemani kakak." Mili melihat ke sekitar. Tidak ada kursi kosong.
"Tidak masalah. Aku tetap akan datang kesana. Lihatlah di dinding kaca," pinta pria itu. Mili melihat ke arah dinding kaca. Raka sudah berdiri di depan toko roti. Dia melambaikan tangan menunjukkan keberadaannya. Mili tersenyum.
"Hhh ... ternyata Kakak sudah ada di depan. Baiklah, aku akan menyisakan kursi untuk kakak kalau ada. Masuklah." Klik. Setelah meminta masuk, Mili memutus sambungan telepon. Lalu ia mencoba mencari tempat untuk pria itu. Namun ternyata hanya ada satu di pojok dekat kasir. Kursi dan meja dengan ruang yang sempit.
Klinting! Suara Lonceng tatkala pintu di buka, terdengar. Raka muncul dari pintu. Pria itu tersenyum. Mili berjalan mendekat.
"Ada satu tempat yang tersisa. Jarang di tempati karena berada di pojok dan sempit. Itu disana." Mili menunjuk tempat yang ia temukan tadi. Raka menoleh. Bibirnya tersenyum. "Apa kak Raka mau?"
"Tidak apa-apa. Itu tempat yang bagus," sahut Raka senang. Menurut pria ini tempat itu justru strategis. Karena bisa melihat keseluruhan kegiatan Mili saat gadis itu sedang melayani pembeli.
Setelah yakin bahwa Pak Banu tidak mengenal Mili sama sekali, Raka berniat mendekati gadis ini lagi. Ia masih ingin menjadi pria yang bukan hanya sekedar seorang teman bagi Mili.
Mungkin dia mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Oke. Silakan Kakak duduk di sana. Ini menunya. Pesan yang kakak mau lalu panggil aku," kata Mili seraya menyerahkan buku menu berwarna soft purple.
"Baik, Mili." Raka senang akhirnya dia bisa datang ke toko ini setelah banyak pekerjaan menghalanginya. Ia pun duduk membaca menu. Setelah melewati proses pemilihan, Raka akhirnya memilih salah satu minuman.
Namun ia tidak beruntung. Saat ingin memanggil Mili, ada karyawan lain yang mendekatinya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan pria itu pada Raka. Awalnya dia ingin menolak dan meminta menemui Mili, tapi saat ia menengok, gadis itu tengah sibuk juga. Akhirnya Raka memberikan pesanannya pada karyawan yang lain.
Tidak lama kemudian minuman yang ia pesan datang. "Terima kasih." Raka melihat ponselnya menyala. Itu artinya ada orang yang sedang meneleponnya. "Siapa?"
Raka meraih ponselnya dan membaca,"Pak Banu?" Raka terkejut membaca nama yang tertera di layar. Ternyata itu bos. "Kenapa weekend seperti ini Pak Banu meneleponku? Pasti ada kerjaan penting. Ini menyebalkan. Sudah lama aku tidak mengunjungi Mili," keluh Raka.
Namun dia tidak bisa mengabaikan karena itu adalah atasan. Akhirnya tangannya memilih menekan tombol hijau pada handphone.
"Ya, Pak Banu."
"Raka? Kamu punya kekasih?" tanya Banu sungguh mengejutkan. Raka sampai perlu menjauhkan ponselnya dari telinga untuk memastikan bahwa itu benar Pak Banu. "Benar. Ini benar nama pak Banu. Pasti salah dengar," lirih Raka pada diri sendiri. Kemudian dia mendekatkan lagi ponsel itu pada telinganya.
" ... Raka, kamu dengar apa yang aku tanyakan?" Sepertinya Pak Banu memanggil nama Raka berulang kali.
"Ya Pak."
"Apa kamu punya kekasih?" Banu mengulangi pertanyaannya.
"K-kekasih?" tanya Raka terbata.
"Ya. Ini weekend. Setiap anak muda pasti akan kencan dengan kekasihnya."
"Oh, itu. Sayang sekali saya belum punya kekasih Pak." Meski bingung dengan pertanyaan bosnya, Raka menjawab dengan sopan.
"Jadi sekarang kamu ada di mana?"
"Emmm ..." Raka ragu memberitahu lokasi dia sekarang.
"Share lokasi kamu sekarang," pinta Banu. Raka melebarkan bola matanya karena bingung. Namun kata-kata atasannya adalah sebuah perintah. Raka tidak bisa mengabaikan.
"Ya, Pak." Raka pun langsung mengirim lokasinya berada. "Kenapa dia ingin tahu aku ada dimana ...," keluh Raka tidak mengerti. Namun dia harus lega karena setelah ia mengirim lokasi toko roti ini, Pak Banu tidak lagi meneleponnya. Jadi malam ini ia tidak akan di sibukkan oleh pekerjaan dadakan.
Setelah lima belas menit kemudian, Raka dikejutkan oleh sebuah suara.
"Ternyata benar kamu sendirian," tegur seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
__ADS_1
...____...