
Mendapat pertanyaan kenapa dirinya membuka baju, Banu heran.
"Bukankah kamu menyuruhku mengganti baju karena karena ini basah?" tanya Banu heran menunjuk ke arah kemejanya.
"Saya tahu, tapi kenapa Anda membuka baju sekarang?" geram Mili masih tidak mau melihat Pak Banu.
"Lalu kapan? Besok?"
"Bukan begitu. Seharusnya Anda membuka baju setelah saya keluar dari ruangan ini," gerutu Mili kesal.
"Oh, ini." Banu baru tersadar. Ia menatap dirinya sendiri dengan kemeja yang kancingnya sudah terlepas. Dadanya sedikit terlihat telanjang. Gadis ini malu melihat itu.
"Ya, maaf."
Mili menghela napas lega. Namun saat ia berbalik, ternyata Banu justru melepas kemejanya. Kini dada pria ini sudah terlihat semua. Banu setengah telanjang di depan Mili.
"Ah!?" Gadis ini terkejut. Dia langsung menunduk. "B-bagaimana bisa Anda justru melepas kemeja dari tubuh Anda, Pak?" tanya Mili tidak habis pikir. Tangannya Masih memegang kemeja putih.
"Karena terlanjur, jadi sekalian saja aku ganti baju sekarang," jawab Banu seenaknya. Mili diam sambil komat-kamit geram. "Berikan kemejanya padaku," pinta Banu.
"Ya," sahut Mili. Ia menjulurkan tangannya untuk menyerahkan kemeja pada Pak Banu. Namun karena Mili masih tidak ingin menoleh, ia hanya meraba-raba di udara.
Banu melihat itu seraya menghela napas. "Apa yang sedang kau lakukan?" tegur Banu.
"Saya sedang menyerahkan kemeja pada Bapak," sahut Mili tidak mengerti.
"Seharusnya kamu menyerahkan itu dengan melihat ke arahku," ujar Banu.
"Saya tidak mau," tegas Mili. Dia pun masih mencoba meraba-raba. Banu gusar. Ia mendekat untuk mengambil kemeja itu dari tangan Mili, agar gadis ini tidak kelamaan meraba-raba udara.
Namun saat Banu mendekat, sesuatu terjadi.
Tubuh Banu yang mendadak mendekat membuat Mili berjingkat. Hingga Mili menjatuhkan kemeja sementara tangannya yang lain menyentuh dada bidang pria ini dengan tangan kosong.
Hah?! Mili menyadari kalau tangannya tengah menyentuh tubuh telanjang Pak Banu. Seketika itu Mili tersentak kaget. Hingga ia ingin kabur. Namun sialnya langkahnya tersandung kaki meja, Mili di pastikan jatuh terjungkal ke lantai.
Bruk!
Dia yakin dia sudah terjatuh di lantai tadi, tapi kenapa dia tidak merasa sakit? Mili membuka mata. Pak Banu sedang menahan tubuhnya. Wajah mereka dekat sekali hingga terpaan napas Pak Banu terasa.
__ADS_1
Kilasan mereka berciuman waktu itu kembali muncul di benak Mili.
Mili langsung menunduk. Jantungnya berdetak kencang. Dadanya berdebar. Hatinya yang ingin menutup diri dari mencintai pria ini terbuka lagi. Mili menggigit bibirnya karena tiba-tiba perasaan sedih membumbung tinggi.
Banu melepaskan tubuh Mili dari dekapannya. "Kenapa kamu ceroboh sekali, sih?" tegur Pak Banu.
"M-maafkan saya," ucap Mili terbata. Bukan gugup. Dia sedang menahan diri dari tumpahan air mata di pipinya. Namun sekeras apapun ia menahan, air matanya tetap jatuh berderai.
"Kamu ... Kenapa kamu menangis?" tanya Banu yang langsung panik melihat air mata itu.
"Tidak. Saya tidak apa-apa." Mili langsung mengusap air mata itu cepat-cepat. Namun air matanya tetap saja mengalir.
"Pasti kamu malu karena jatuh," tebak Banu.
"Tidak. Bukan," sangkal Mili.
"Oke, maaf. Kamu pasti menangis karena aku memaksa untuk mengganti baju di sini. Maaf," ujar Banu memaksa diri untuk meminta maaf.
"Saya tidak apa-apa, Pak," sangkal Mili lagi.
"Tapi kamu ..."
"Oke. Aku tidak pernah melihat mu menangis. Lagipula aku juga tidak peduli dengan itu." Banu mengambil sikap cuek.
"Jadi bapak datang kesini untuk mengambil kartu kredit yang terjatuh atau untuk menagih biaya ganti rugi?" tanya Mili.
"O, jadi kartu kredit ku terjatuh di sini?" Banu seperti baru tahu kalau kartu kreditnya terjatuh.
"Anda tidak sadar? Anda tidak memblokirnya?" tanya Mili cemas dan heran bercampur jadi satu.
"Aku pikir terjatuh di tempat lain, tapi tentu saja sudah aku blokir," terang Banu.
"Bapak tunggu di sini, saya akan berikan kartu kredit Anda," kata Mili langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Banu.
"Apa dia menangis karena melihat ku?" tanya Banu pada dirinya sendiri. "Kenapa? Apa dia masih berpikir aku kekasihnya?" Banu berdecak.
Tidak lama Mili muncul. Ia langsung mendekati lemari dokumen di sudut. Lalu mengeluarkan kartu kredit milik Banu yang sudah di bungkus oleh plastik klip.
"Ini kartu kredit Anda." Mili menyerahkan itu dengan menundukkan pandangan dan kepalanya. Seakan gadis ini enggan melihatnya.
__ADS_1
"Masalah kartu kredit ku sudah. Masalah kemeja basahku, aku anggap juga selesai meskipun aku kurang suka. Namun masalah mobilku, kamu belum menyelesaikannya sama sekali," kata Banu.
Pria ini sedikit memiringkan kepalanya, guna bisa melihat wajah Mili. Dia ingin tahu dengan pasti bagaimana raut wajah gadis ini sekarang.
"Soal itu saya minta maaf karena tidak bisa menyelesaikan dengan cepat. Namun pasti saya bayar," kata Mili tetap menundukkan kepala.
Banu mengeluarkan KTP Mili dari dalam dompetnya.
"Aku akan menahan KTP ini meskipun tidak ada gunanya untukku," kata Banu. Mili melirik. Banu menunjukkan KTP itu. Seakan menunjukkan bahwa dia menyimpan kartu itu dengan baik. Lalu ia masukkan lagi ke dalam dompet. "Aku perlu nomor handphone-mu."
"Untuk apa?" tanya Mili. Kali ini dia mendongak. Merasa itu tidak perlu.
"Kamu pikir aku orang yang tidak punya kesibukan jadi harus kesini tiap kali menagih biaya ganti rugi padamu?" tanya Banu tepat. Mili tahu pria ini adalah orang penting.
"Oh, ya. Anda adalah CEO perusahaan Mandala," kata Mili tegas. Seakan menunjukkan kesombongan Banu adalah hal pantas.
"Kenapa kamu tahu aku dari perusahaan Mandala? Bahkan tahu posisi di sana," tanya Banu heran dan terkejut.
Mili mengerjapkan mata karena keceplosan.
"Saya tahu dari Kak Raka," sahut Mili cepat. Dia tidak bisa berpikir lain selain nama itu. Karena itu hal yang paling masuk akal saat ini.
"Raka? Ternyata dia bicara banyak tentang ku padamu," ujar Banu berdecak geram.
Maafkan aku Kak Raka.
"Berikan nomor handphone mu padaku," pinta Banu.
Mili diam. Sedikit gamang untuk memberikan nomor kontak pada pria ini. Karena jika begitu, dia akan tetap terhubung dengan Pak Banu. Itu akan membuatnya ingat terus dengan kisah mereka dulu.
"Kamu juga tidak akan menyuruhku untuk bertanya pada Raka nomor handphone-mu bukan? Karena ini masalah mu denganku," ujar Banu menegaskan.
"Ya. Ini masalah saya dengan Anda." Mili tahu itu. Akhirnya Mili memberikan nomor ponselnya pada pria ini. Mereka saling bertukar nomor.
"Nama kamu Mili kan?" tanya Banu membuat Mili mendengus.
"Ya," sahut Mili cepat.
...____...
__ADS_1