
Setelah menjauh dari lorong yang membuatnya merinding tadi,Raka berhasil menemukan Mili.
"Itu dia." Raka senang akhirnya bisa menemukan gadis itu.
"Kenapa Mili justru muncul sekarang?" geram Banu. Dia tidak ingin mereka bertemu.
"Mili!" teriak Banu yang bersamaan dengan Raka yang langsung menangkap lengan gadis ini.
"Kak Raka?" Mili terkejut.
"Ikut aku," ujar Raka. Itu bukan permintaan, tapi sebuah perintah. Karena setelah kalimat ajakan itu, Raka langsung menarik tangan Mili. Banu mendelik melihat itu.
"Kenapa, Kak? Ada apa?" tanya Mili heran.
"Lepaskan tanganmu dari lengan Mili, Raka! Aku bisa memecat mu kalau tidak melepaskan tangan Mili!" teriak Banu.
Bola mata Mili juga melihat ke Pak Banu yang menyusul di belakang mereka. Dia melebarkan mata pada pria ini, guna mendapatkan jawaban atas tingkah Raka saat ini.
Mili berdecih melihat Pak Banu histeris. Karena itu percuma. Yang bisa mendengar hanya dia saja.
"Ikut saja. Aku akan mengatakannya setelah keadaan sepi." Ternyata Raka membawa gadis ini ke ruangan kerjanya.
"Ada apa, Kak? tiba-tiba saja menarik ku ke ruangan ini?" tanya Mili yang kini sudah berada di dalam ruangan.
"Duduklah. Kita akan bicara serius."
Meskipun bingung, Mili patuh dan duduk. Raka pun duduk juga. Gadis ini mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan.
"Aku harus mulai dari mana ...." Raka bingung memulai percakapan ini. Mili melihat Raka.
"Soal apa, Kak?" tanya Mili. Raka diam menatap gadis ini.
"Jadi kamu masuk ke perusahaan ini lewat jalur khusus, Mili?"
Deg! Jantung Mili langsung terasa ditohok. Dia tidak menduga pria ini akan bertanya seperti itu.
__ADS_1
Mili terperangah kaget. Namun ia langsung mengganti ekspresi wajahnya. Mili langsung tersenyum. "Jalur khusus apa, Kak? Memangnya di perusahaan ini ada jalan seperti itu?" Mili mengelak. Bereaksi apa yang di katakan Raka itu lucu.
"Untuk ini, kamu bisa terbuka padaku. Direktur Cahaya sendiri yang mengatakan soal itu padaku," ungkap Raka membuat bola mata Mili melebar.
"D-direktur Cahaya?" Ini lebih mengejutkan daripada pertanyaan Raka tadi.
"Ya. Aku mendapatkan informasi melalui beliau," kata Raka. Mili menggigit kukunya. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Pak Banu. Namun pria itu hanya diam saja.
"Pasti Kak Raka hanya bercanda saja."
"Tidak. Bahkan aku di beri perintah untuk membimbing mu dalam bekerja." Mendengar kalimat Raka, Mili mengerutkan kening. "Kamu bisa menemui Bu direktur jika tidak percaya. Atau ... aku telepon beliau jika kamu butuh kebenaran itu."
Mili pikir Raka bermain-main. Namun saat melihat pria ini memegang ponsel untuk menelepon seseorang, Mili percaya. Ia juga melihat ke arah Pak Banu. Pria ini masih diam.
"Ba-baiklah. Aku mengaku, Kak. I-iya. Aku masuk ke perusahaan ini bukan murni usahaku." Mili mengambil keputusan sendiri untuk mengaku.
"Apa itu termasuk kamu yang berbohong pada direktur kalau mengenal keponakannya? Mengenal Pak Banu." Inilah alasan Raka ingin bertemu dengan gadis ini segera.
"D-direktur juga mengatakan hal itu?" tanya Mili terkejut. Tidak di sangka semua rahasia itu di ungkap sendiri oleh direktur Cahaya.
"Jadi kamu bohong demi mendapatkan menjadi karyawan Mandala?" tanya Raka dengan kerutan pada keningnya.
"Tidak. Untuk itu aku bicara jujur, Kak. Aku benar mengenal Pak Banu."
"Dari mana kamu mengenal Pak Banu?"
"Emmm ... " Bola mata Mili melirik ke samping, lali menggaruk pelipisnya. Ia ragu untuk bicara soal itu. Kali ini tidak ada bantuan dari Banu. Setelah mengatakan sesuatu tadi, Pak Banu menghilang. "Aku pernah bilang sama Kak Raka, kalau aku mengenal roh Pak Banu. Bukan tubuhnya."
"Kamu bicara itu lagi." Raka menghela napas.
"Karena aku memang kenal dengan roh Pak Banu, Kak. Coba pikir, darimana aku bisa kenal Pak Banu? Dia orang kaya. Tampan. Berpendidikan tinggi. Lingkungan dia dan aku sangat berbeda."
"Maaf Mili, tapi aku tidak percaya. Bicaralah yang masuk akal."
"Kode brankas yang ada di sudut adalah ..." Banu menyebutkan kombinasi angka angka. Mili melirik dan mencoba menyebutkan kombinasi angka-angka yang di sebutkan Banu.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan?" tanya Raka terkejut. Bola matanya melebar terkejut.
"Aku menyebutkan kode brankas di sudut itu," tunjuk Mili. Dia mengikuti kata-kata Banu. Raka menoleh pada brankas di sudut. Ia tahu ada brankas itu, tapi ia tidak tahu apa isi di dalamnya.
"Kamu pasti asal menyebut kode," sangkal Raka.
"Kalau begitu, kamu boleh membuka brankas itu dengan kode yang aku sebutkan tadi," kata Banu.
"Kalau begitu, kamu boleh ..." Mili bermaksud menyuruh Raka membuka pintu brankas sesuai yang dikatakan Banu. Namun ia sadar bahwa itu mungkin akan membahayakan. Ia menoleh lagi pada Banu untuk bertanya. "Boleh?" tanya Mili pada Pak Banu. Raka melihatnya. Ia menatap dengan heran.
Bicara dengan siapa dia?
Raka melihat ke arah yang sama dengan Mili, tapi ia tidak melihat siapapun atau apapun.
"Biarkan saja. Ini ruanganku. Jadi aku tahu di dalam itu tidak ada yang penting. Karena tidak mungkin aku meletakkan hal penting di dalam sana. lebih baik aku membawanya pulang ke rumah," jawab Banu.
Ternyata ini ruangannya?
"Oh, baik Pak. Ya. Kak Raka bisa membuka pintu brankas itu dengan kode yang aku sebutkan. Mungkin dengan begitu Kak Raka akan percaya kalau aku memang melihat roh Pak Banu."
Raka mengerjapkan mata mendengar itu. Ini hal yang mustahil. Sungguh aneh.
"Apa kamu tidak sedang bercanda?" tanya Raka tidak percaya. Ia ragu. Tentu saja! Dengan kewarasan yang masih terkumpul, dia tidak mungkin bisa langsung percaya.
"Tidak, Kak. Ini bukan hal yang bisa di buat bercanda. Karena ini kan ruangan Pak Banu. Kalau aku tahu kode brankas, itu berarti aku akan di tuduh sebagai pencuri. Karena ini sebagai pembuktian kalau aku memang kenal roh Pak Banu, itu adalah salah satu buktinya.
Raka mencoba percaya. Ia juga tahu, bahwa Mili tidak akan berbohong. Dia kenal siapa gadis ini. Akhirnya ia mencoba mengikuti arahan Mili. Setelah berpikir ulang, ia mulai menjulurkan tangannya ke arah pintu brankas.
"Sebutkan kode tadi," kata Raka. Mili menyebutkan lagi kode tadi dengan bantuan Banu. Dengan mengikuti kode yang si sebutkan Mili, pria ini mencoba membuka pintu brankas.
Taraaa!!! Pintu terbuka.
Raka melebarkan mata melihat itu. Ia takjub melihatnya. Lalu ia menoleh pada Mili dengan ekspresi bernuansa horor.
...______...
__ADS_1