
Dengan mengikuti kode yang di sebutkan oleh Mili, pria ini mencoba membuka pintu brankas. Rupanya brankas berhasil di buka dengan mudah.
Raka melebarkan mata melihat itu. Ia takjub melihatnya. Lalu ia menoleh pada Mili dengan ekspresi bernuansa aneh.
"Terbuka, kan?" Mili tersenyum saat berbicara. Dia sempat was-was tadi. Namun ia perlu yakin kalau itu benar. Karena Pak Banu pasti tahu segalanya tentang ruangan ini. Tempat ini adalah miliknya.
"B-bagaimana kamu tahu?" tanya Raka tidak percaya. Bahkan dia sampai terbata-bata. Matanya menyipit karena beribu tanya ada di dalam benaknya sekarang.
"Aku tidak tahu Kak Raka. Pak Banu yang memberitahu ku," kata Mili.
"Pak Banu?" ulang Raka.
"Ya. Aku tahu dari roh Pak Banu. Bahkan sekarang beliau sedang berdiri di sebelah kak Raka, untuk melihat ke dalam brankas yang di buka tadi," kata Mili seraya melihat ke arah yang di maksudnya. Tentu saja ekspresi gadis ini layaknya sedang melihat ada orang di sana.
Raka menoleh ke sampingnya dengan horor. Mili cekikikan melihat raut wajah pria ini.
"Kamu tidak bercanda?"
"Untuk hal penting seperti ini aku tidak akan bercanda. Meskipun kakak tidak mempercayai aku, tapi inilah buktinya," kata Mili menunjukkan brankas tadi. Raka melihat ke arah brankas dan Mili bergantian dengan mata menyipit. "Kakak tidak curiga aku belajar kode itu untuk membobol brankas bukan? Karena isinya tidak penting." Mili menoleh pada isi brankas yang Pak Banu bilang bukanlah barang penting.
"Baiklah. Jika memang kamu tahu ini dari roh Pak Banu ..." Raka menjeda kalimat karena tidak terbiasa dengan kata roh tersebut. "Karena itu, jangan bicarakan ini pada siapapun. Bisa saja ada seseorang yang akan memanfaatkan mu." Raka menyentuh kedua lengan Mili untuk menekankan nasehat ini.
Mili menoleh pada Pak Banu. Pria itu menggeram kesal melihat tangan Raka menyentuh kedua lengan Mili.
"Baik, Kak."
***
Mili sudah tiba di rumah. Membuka pintu dan berjalan perlahan seraya berbicara.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Pak? Kenapa Ibu Cahaya membeberkan semua pada Kak Raka?" tanya Mili dengan tanpa sekalipun menoleh pada Pak Banu.
"Karena Dirga memaksa bibi untuk menurunkan aku dari jabatan CEO," jawab Banu.
__ADS_1
"Pak Dirga?" tanya Mili sangat terkejut. Dia sampai membalikkan tubuhnya dan berhenti melangkah. Duk! Kepalanya menabrak dada Pak Banu. Mili meringis.
"Ya." Tangan Banu terulur untuk menahan tubuh Mili. Lalu mengusap kening Mili yang menabrak dadanya. Gadis ini tertunduk menyadari perlakuan manis Pak Banu.
"Jadi pria itu benar-benar musuh dalam selimut?" tanya Mili setelah Banu selesai mengusap keningnya.
"Ya. Sudah aku katakan padamu, dialah yang orang yang benar-benar menginginkan kematian ku." Pak Banu emosional saat mengatakannya.
"Oke, jadi Kak Raka berada di pihak Pak Banu. Itu berarti akan ada banyak dukungan untuk Anda, Pak. Itu berita baik."
Kaki mereka tiba di depan kamar Mili. Pak Banu tentu tahu diri tidak mengikuti gadis ini kesana.
Sementara itu, di dalam sebuah mobil yang melaju mulus di jalanan.
Ada Cahaya duduk di belakang. Sementara Haras duduk di belakang kemudi. Kepalanya mendongak sebentar ke kaca di atasnya. Terlihat pantulan perempuan itu di sana. Hanya lewat cermin kecil ini, Haras bisa memandang Cahaya dengan tanpa rasa takut. Karena jika ketahuan, bisa saja ia berdalih sedang melihat situasi di belakang mobil.
"Apa sebaiknya aku juga memberitahu Raka soal rumah sakit dimana Banu di rawat?" tanya Cahaya mendadak cemas. Ia mendongak. Dengan cepat Haras memalingkan pandangan menjadi lurus ke depan.
"Jika menurut Anda Raka bisa di percaya, saya rasa itu hal baik," jawab Haras.
"Semakin kita bertambah sekutu, mungkin memudahkan Anda mempertahankan posisi Pak Banu," kata Haras.
"Ya. Aku butuh banyak dukungan, untuk Banu." Cahaya menatap jalanan dengan sedih. "Apa black box di dalam mobil Banu sudah ketemu, Haras?" tanya perempuan ini. Masih dengan menatap jalanan.
"Belum, direktur. Pihak kepolisan tidak menemukan apapun di dalam mobil yang ringsek itu. Jadi bukti adanya kemungkinan kecelakaan ini adalah campur tangan dari orang yang ingin membahayakan Pak Banu tidak ada."
"Kenapa para polisi itu tidak bekerja lebih keras lagi. Aku sudah membayar mereka mahal untuk melakukannya." Cahaya menoleh ke depan dengan ekspresi marah, kecewa, dan sedih.
Haras diam.
"Anda ingin tidak pulang dulu, direktur?" tanya Haras.
"Ya?"
__ADS_1
"Mungkin saja Anda ingin minum atau makan sesuatu terlebih dahulu sebelum pulang?" tawar Haras. Cahaya terdiam. Kemudian menghela napas.
"Jika kamu bisa menemukan tempat yang orang lain tidak bisa menemukan aku, aku mau." Itu adalah syarat mengajak perempuan ini minum untuk saat ini.
"Ya. Saya bisa menemukannya."
**
Ternyata tempat yang Haras katakan adalah warung sederhana.
"Ini?" tanya Cahaya tidak yakin saat mereka masuk ke dalam. Cahaya melihat ke kanan dan kiri dengan cemas.
"Orang di dalam sini tidak mungkin mengenal Anda. Karena hampir tidak ada orang besar dan sepenting Anda datang ke tempat seperti ini," jelas Haras. "Meskipun kelihatan sederhana, warung ini terkenal enak masakannya." Haras tersenyum saat mengatakannya.
Cahaya mengerjapkan mata. Ini pertama kalinya ia melihat senyum pria ini tulus. Mungkin tempat ini adalah tempat favorit pria ini.
"Ya. Bisa aku tunjukkan makanan dan minuman favoritmu?" tanya Cahaya.
"Bisa Direktur." Haras tampak bersemangat meskipun tetap menunjukkan kesopanannya Cahaya tersenyum menyadari itu.
**
Malam ini Banu sengaja menghilang dari rumah Mili. Ia ingin datang ke apartemen milik Dirga. Rasa curiganya harus terbukti benar. Karena percuma jika itu hanya dugaannya saja.
Kepala Banu menoleh ke kanan dan kiri. Dia belum hapal betul letak rumah milik pria itu. Mengikuti insting, dia menemukan ruangan yang ia yakini adalah ruang baca.
Saat masuk, ternyata benar dugaannya. Banu berusaha mencari sesuatu yang ia yakini bisa di jadikan barang bukti. Karena samar-samar ingatannya soal kecelakaan itu muncul. Yaitu seseorang yang sengaja menabrakkan kendaraan pada mobil yang dikendarainya waktu itu.
Banu berusaha mencari sesuatu yang ia yakini bisa di jadikan barang bukti.
Klek! Pintu ruang baca di buka seseorang. Ternyata itu empu rumah ini. Dirga masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi yang letaknya tepat di depan jendela.
"Rapat eksekutif perusahaan? Huh. Direktur ada-ada saja. Apa dia tidak tahu kalau semua orang sudah berkomplot denganku untuk menghancurkan keponakannya yang angkuh itu." Dirga tersenyum sinis.
__ADS_1
...________...