
Mendekat?
Mili sedikit panik saat mendengar itu. Senior memilih menjauh dari pos kasir saat perempuan itu berjalan ke arahnya. Mili kembali tegang ketika perempuan dan sekretarisnya itu mulai mendekat.
Ternyata Cahaya berhenti di rak roti di sebelah meja kasir.
Bola mata Mili melirik. Namun dia mengabaikan kemudian. Dia tidak bersalah. Bukan dirinya uang mendekati Pak Banu.
Kakinya melangkah mendekat. Tangannya mengambil nampan berwarna putih yang memang di gunakan untuk membawa roti yang mau di beli, lalu di berikan pada Bu Cahaya.
"Anda bisa memakai ini sebagai keranjang belanja." Mili menawarkan dengan ramah. Cahaya menoleh. Menatap wajah Mili, lalu menundukkan pandangan ke arah nampan. "Ini memudahkan Anda untuk memilih bermacam roti." Mili menambahkan penjelasan.
"Terima kasih," kata Cahaya yang langsung menerima nampan yang di tawarkan. Karena kasir masih sepi, Mili tetap berada di dekat rak roti.
"Meski aku tidak suka kamu dekat dengan Banu, tapi ini tidak membuatku benci rasa roti dari toko ini," ujar Cahaya tanpa menoleh pada Mili. Pandangannya hanya fokus ke jajaran roti yang enak di depannya.
__ADS_1
Mili hanya mengangguk samar.
"Jujur, rasa roti di sini begitu lezat. Rotinya lembut." Kali ini Cahaya mengangkat wajahnya untuk menatap Mili. "Jika tidak melihat dengan kepala sendiri, tidak akan percaya kalau roti ini dari toko yang tidak begitu besar."
"Terima kasih," tanggap Mili.
Setelah selesai memilih, Cahaya membawa nampan itu ke kasir. Mili kembali ke posnya juga. Dia memasukkan semua barang belanjaan ke dalam kresek bening dengan logo toko, lalu menyebutkan nominal pembelanjaan pada Cahaya.
"Aku berterima kasih jika kamu mengerti untuk menjauhi Banu. Dia harus punya pasangan yang kuat dalam segala hal. Karena Banu punya banyak musuh. Dia di incar untuk di hancurkan," kata Cahaya sebelum dia pergi.
Setelah itu Cahaya keluar dengan Haras.
"Sayang sekali gadis itu bukan dari golongan orang yang bisa menguatkan posisi Banu. Jika di lihat dari tatap matanya, dia gadis yang tangguh," ujar Cahaya sambil sesekali menoleh ke belakang. Ke arah dinding kaca yang bisa melihat isi dalam toko. Dia melihat Mili sekali lagi dan pergi.
Di samping dinding bougenville patisserie, ada seorang pria yang sedang bersembunyi. Dia Raka.
__ADS_1
Sebenarnya sudah tadi ia muncul di depan toko. Namun saat melihat Presdir bersama Haras, Raka urung masuk ke dalam. Apalagi saat itu ia melihat Mili duduk dalam satu meja dengan mereka.
Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, tapi di tahan dulu menunggu mereka pulang. Setelah melihat mereka telah pergi dari toko, Raka segera masuk.
Klinting! Suara lonceng berbunyi. Mili yang masih ada di meja kasir menoleh. Tangan Raka terangkat untuk menyapa. Mili tersenyum menanggapinya.
Kaki Raka berjalan mendekat ke meja kasir.
Pria ini terlalu penasaran hingga tidak bisa menunggu gadis itu menuju ke mejanya. Karena bisa saja gadis lain yang menghampirinya.
Dia berniat akan memesan langsung di kasir untuk makan siang. Juga sekaligus bertanya soal kedatangan Presdir menemuinya.
"Ada apa presdir datang ke toko ini? Mereka bukan hanya membeli roti kan?" tanya Raka yang dengan wajah cemas.
..._______...
__ADS_1