Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 11 ° Dia atasanku


__ADS_3

"Tidak mungkin aku tahu sesuatu, Kak. Karena aku adalah orang baru disini. Juga tidak mungkin kan seorang CEO semacam Pak Banu bisa mengenalku," jawab Mili memberi alasan.


"Aku juga berpikir begitu. Karena aku tahu siapa saja yang di temui Pak Banu,” kata Raka. “Ada yang kamu sembunyikan Mili? Aku merasa kalimat kamu yang mengatakan tentang pak Banu itu aneh. Kemungkinan kamu kenal Pak Banu kecil, tapi kamu seperti sudah sangat mengenalnya.” Raka masih curiga.


Mili terkejut mendengar itu. Tentu saja dia mengenal Pak Banu meski belum pernah bertemu sama sekali, karena yang ia temui adalah roh dari pria tampan ini.


Banu sendiri masih di sana dan mendengarkan apa yang di katakan Raka. Bola mata Mili melirik Pak Banu. Seakan ingin meminta bantuan padanya. Namun Pak Banu hanya diam. Mili menghela napas lelah.


“Katakan sesuatu yang bisa membuat aku percaya kamu tidak menyembunyikan sesuatu, Mili,” desak Raka.


Mili mengerjapkan mata.


“Tanyakan, dia ada di pihak siapa, Mili,” ujar Pak Banu. Mili menoleh. Dia ragu untuk menanyakan itu.


"Kamu tidak mau bertanya?" tanya Pak Banu yang akhirnya menoleh ke samping karena Mili tidak mengeluarkan sepatah katapun. Mili menghela napas lagi.


“Ka-kakak ada di pihak siapa?” tanya Mili mengikuti perintah Banu.


“Pihak? Apa yang kamu tanyakan?” tanya Raka seraya mengernyitkan dahi. Pertanyaan itu mengherankan baginya.


“Jawab saja. Kamu pasti tahu Raka,” kata Banu. Mili pun menyampaikan kalimat yang sama. Karena tidak mungkin Banu sendiri yang berkomunikasi dengan pria ini. Jadi Mili jadi penyambung lidah Banu untuk bicara.


"Kak Raka pasti tahu apa yang Mili tanyakan."


Raka diam. Dia tidak mengerti maksud gadis ini.


“Aku adalah orang kepercayaan Pak Banu, Mili. Dia atasanku juga panutan bagiku. Kamu tahu bagaimana aku,” jawab Raka. Banu diam. Mili pun ikut diam.


Jadi mereka benar-benar dekat. Syukurlah ... Mili merasa lega. Dia takut jika nanti dia mendapati kak Raka adalah musuh Pak Banu.


Mili melirik ke arah Pak Banu. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana karena Pak Banu hanya menatap lelaki itu dengan banyak makna. Tidak ada kalimat lanjutan yang di katakan Banu pada Raka.


“Aku tahu siapa kak Raka. Aku harap Kak Raka tetap menjadi orang baik seperti yang aku kenal. Karena jika Kak Raka tidak memihak Pak Banu, mungkin aku tidak akan pernah memaafkan Kak Raka sampai kapan pun,” kata Mili menggunakan hatinya saat bicara. Itu bukan perintah Pak Banu.


Banu menengok ke samping dengan terpana mendengar itu. “Sepertinya ia bisa dipercaya Mili. Katakan saja kamu mengenal tentangku. Mungkin ia bisa jadi sekutu kita.” Setelah mengatakan itu, Banu menghilang.


Hah? Kenapa sekarang malah menghilang? Bagaimana kelanjutannya perbincangan ini? Keluh Mili.


Raka terkejut mendengarnya. Namun secepat kilat bibir itu tersenyum.

__ADS_1


“Aku mengerti.” Raka sempat terkejut mendengar Mili berkata seperti itu. Kalimat Mili bagaikan sebuah ancaman. “Jadi katakan, kenapa kamu bisa mengenal Pak Banu?” tanya Raka.


“Sebenarnya aku bukan benar-benar mengenal Pak Banu. Aku hanya mengenal roh Pak Banu,” kata Mili ingin mengungkap semuanya. Karena ia butuh bantuan pria ini juga. Namun kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Raka bengong mendengar kata-kata Mili.


“Kamu sedang bercanda Mili?” tanya Raka.


“Tidak. Aku serius mengatakan ini. Aku memang mengenal roh Pak Banu. Bahkan dia tinggal di rumah ku,” kata Mili masih berupaya untuk menjelaskan.


Ia mendekat dan mengelus kepala Mili.


“Aku baru tahu daya imajinasi mu begitu tinggi. Namun soal Pak Banu jangan di buat bahan olok-olokan Mili. Aku sangat mengaguminya. Dia menjadi panutan ku. Meskipun orangnya dingin, dia berhati malaikat. Jadi jangan mengatakan itu lagi," kata Raka.


Aku yakin Pak Banu adalah orang baik. Mili merasa senang mendengarnya.


“Tapi aku serius Kak Raka.”


“Sudahlah ... Tidak apa-apa. Aku tidak akan bertanya lagi kenapa kamu mengenal Pak Banu.” Raka tersenyum memaklumi. Mili hanya bisa bengong mendengar itu.


...******...


 


“Halo Haras. Apa ada Bibi Cahaya di dalam?” tanya Dirga yang berdiri di depan pintu.


“Siapa Haras?” tanya Cahaya. Dari tempat duduknya, perempuan berumur sekitar 40 tahunan ini tidak bisa melihat siapa yang datang.


“Direktur Dirga,” sahut Haras.


Ada apa Dirga menemuiku?


“Aku pikir aku bisa langsung masuk menemui Anda. Ternyata masih ada penjaga di depan pintu.” Yang di maksud Dirga adalah Haras. Orang kepercayaan Cahaya. Dirga tengah mengejek Haras.


Cahaya melirik Haras. Dia tahu Dirga selalu mengolok-olok pria itu.


“Setiap orang yang mau masuk ke rumah orang lain harus punya tata krama dan adab bertamu. Meskipun tuan rumah tidak punya penjaga pintu, dia harus tetap mengetuk pintu dan menunggu empu rumah membuka pintu untuknya," balas Cahaya. Dia membela Haras.


Dirga mendengus.


"Duduklah, Dirga," kata Cahaya seraya menunjuk sofa untuk mempersilakan pria ini duduk. "Ada apa?"

__ADS_1


Dirga membuka kancing jasnya dan duduk.


“Soal penggantian Banu,” kata Dirga tanpa basa-basi. Cahaya diam sedikit menggeram di dalam hati.


“Apa kamu tidak terlalu terang-terangan mengatakan itu padaku, Dirga?” tanya Cahaya seraya menatap pria ini tajam.


“Tidak. Karena semua eksekutif juga ingin mendengar kejelasan soal posisi Banu. Posisi itu kosong, direktur.” Dirga terdengar santai.


“Kenapa kamu bilang itu kosong? Ada Banu di sana.” Cahaya tidak setuju kalau Banu di anggap tidak ada.


“Itu sebelum kecelakaan itu terjadi, direktur. Namun sekarang ... Banu yang belum bangun dari tidur panjangnya tidak akan bisa memimpin. Harus ada penggantinya.” Dirga mendesak Cahaya untuk membuat keputusan.


“Tidak ada protes yang di layangkan untuk Banu. Jadi posisi itu biar saja kosong sementara waktu.” Cahaya mengambil keputusan dengan segera.


“Sampai kapan?” tanya Dirga.


“Sampai Banu pulih.”


“Kapan tepatnya Banu akan pulih?” desak Dirga. Cahaya terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Terakhir saja dia menjenguk keponakannya itu, dokter bilang keadaannya tidak berubah. Malah terkesan tidak ada perkembangan. “Tidak pasti bukan?” tanya Dirga penuh kemenangan.


Cahaya masih diam. Kemudian beliau melipat tangan.


“Haruskah kamu mendesak soal ini padaku yang sedang tertimpa musibah, Dirga?” tanya Cahaya.


Dirga menaikkan alisnya. “Maafkan aku direktur, tapi perusahaan tidak bisa menunggu.” Dirga tetap tenang ketika mengatakannya.


“Tunggu pendapat banyak orang saja. Aku akan mengadakan rapat para eksekutif. Dari sana baru kita bicara lagi," ujar Cahaya tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini. Di luar dugaan pria ini tersenyum.


..._____...



 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2