Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 18 ° Rasa sakit menyerang Pak Banu


__ADS_3

"Tidak. Bapak harus pulang. Bapak harus istirahat di rumah. Aku juga akan pulang dan menjaga Pak Banu," ajak Mili tegas. Dia tidak mau pria ini kesakitan. Jika rasa sakit ini sama seperti yang waktu itu, Mili yakin kalau Pak Banu akan pingsan juga.


Raka yang selesai menelepon masuk lagi ke dalam ruangan.


"Kita harus cepat pulang," kata Mili mendadak. Raka yang merasa masih belum lama berada di sini heran.


"Kamu sudah ingin pergi? Kita belum mengobrol banyak dengan Pak Banu. Mungkin itu bisa membuat Pak Banu sadar dari koma, Mili," tunjuk Raka pada tubuh Pak Banu di atas ranjang.


Mili ikut menoleh ke arah ranjang.


"Ya aku tahu, tapi ada yang lebih penting dari itu. Bagaimana kalau aku pulang dan kakak tinggal di sini," usul Mili.


"Hal penting? Apa itu?" tanya Raka penasaran.


"Aku tidak bisa mengatakannya langsung. Tidak ada waktu. Aku harus pulang," kata Mili seraya berjalan menuju pintu.


"Aku ikut denganmu. Karena kamu datang denganku. Jadi pulang juga harus denganku, Mili." Raka memilih mengantar Mili. "Maaf Pak Banu, saya pergi."


Mereka pun bergegas pergi. Meskipun Raka ingin bertanya banyak hal karena tidak tahu apa-apa, tapi ia tidak mengatakannya. Karena wajah Mili tampak pucat dan penuh kekhawatiran.


**


Mobil Raka sampai di rumah Mili. Pria itu turun dari mobil dan mendekati Mili.


"Aku akan mengantarmu," kata Raka ke dalam.


"Tidak perlu di antar, Kak. Sebaiknya aku langsung masuk. Terima kasih sudah mengajak aku menjenguk Pak Banu. Terima kasih juga sudah mengantar. Permisi, Kak." Mili langsung memutus niat baik Raka tanpa basa-basi. Lalu memutar badan dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia yakin Pak Banu sudah tiba di rumahnya sejak tadi.


Brak!


Mili membuka pintu rumahnya dengan keras. Karena ia yakin Pak Banu sudah berada di rumah. Saat masuk, ia mendapati Pak Banu di sofa. Merintih kesakitan.


"Pak Banu, saya datang. Maaf lama," ujar Mili seraya mendekat ke sofa. Dia melemparkan tas dan sandal begitu saja karena terburu-buru dan panik.


"Mi-li," panggil Pak Banu dengan suara merintih lemah.


"Saya di sini Pak Banu." Mili langsung menggenggam tangan pria ini. Bibir Pak Banu berusaha tersenyum sambil menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Maafkan aku sudah merepotkan mu, Mili."


"Tidak, tidak." Bola mata Mili berkaca-kaca.


"Arggghhh!!" erang Pak Banu. Mili panik.


"Tenang, Pak. Mili di sini," kata Mili sambil mencoba memeluk tubuh pria ini. Pak Banu menekuk tubuhnya menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya. Air matanya tidak lagi bisa di bendung. Mili merasa ikut kesakitan. Ia menangis.


Tangan Pak Banu memegangi dadanya. Sepertinya rasa sakit ini persis seperti waktu itu.


"Argghhh!!" teriak Pak Banu.


"Pak!" teriak Mili. Bruk! Tubuh itu melemah dan jatuh ke dalam pelukan Mili. "Pak Banu. Pak Banu," panggil Mili seraya menyentuh pipi pria ini. Tubuhnya tetap dingin. Sepertinya pria itu pingsan. Mili meletakkan kepala Pak Banu perlahan di atas sofa bututnya.


Setengah berlari, ia menuju ke kamar untuk mengambil bantal. Dengan sangat hati-hati, Mili menempatkan bantal itu di bawah kepala Pak Banu. Juga menyelimutinya. Meskipun aneh, tapi di mata Mili. Semua tindakan dan perlakuannya wajar. Karena ia bisa melihat dengan jelas pria ini.


Mili memilih duduk di lantai untuk menemani Pak Banu. Matanya masih sembab meskipun tidak lagi meneteskan air mata.


"Bapak kenapa? Bukannya Pak Banu itu roh, seharusnya enggak kesakitan dan pingsan kan?" tanya Mili lirih. Tangannya mengusap-usap pipi Pak Banu. Kemudian menyandarkan kepalanya pada sofa seakan tidur di sampingnya. "Kalaupun Pak Banu senang berada di dekatku sekarang, bukannya Pak Banu harusnya kembali ke tubuh tampan itu segera? Meskipun aku senang Pak Banu tetap tinggal di sini denganku, tapi aku juga ingin bertemu dengan Pak Banu dalam tubuh hangat itu ...," lirih Mili.


Tak terasa gadis ini pun terlelap.


**


"Pak Banu. Pak Banu." Mili menoleh ke sekeliling. Lalu ia berdiri dan mencari pria itu di setiap sudut yang sebenarnya dia sendiri tidak paham bagaimana seharusnya mencari pria itu.


Tidak ada siapapun di dalam rumah. Saat melihat jam dinding, ia sadar bahwa dia harus segera mandi dan berangkat kerja.


"Aku harus siap-siap berangkat. Mencari Pak Banu nanti saja. Seperti biasanya, dia menghilang dan muncul kembali. Bukankah dia roh?" Mili mengedikkan bahu menyadari itu. Ia pun menyambar handuk di jemuran kecil dekat dapur, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Saat mandi pun Mili masih memikirkan Pak Banu. Ia yang melihat dengan kepala sendiri Pak Banu yang kesakitan, tentu tidak tega jika membayangkannya.


"Jika Pak Banu bisa kesana-kemari, itu artinya dia sudah sembuh. Rasa sakit itu tidak menyerangnya lagi. Syukurlah kalau begitu."


***


Saat berjalan di lorong perusahaan, Mili bertemu dengan direktur Cahaya dan sekretarisnya, Haras.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu direktur," sapa Mili seraya menundukkan kepala.


"Oh, Mili selamat pagi."


"Saya sangat berterima kasih pada ibu direktur sudah mengijinkan saya untuk menjenguk Pak Banu," ujar Mili tulus.


"Oh, soal itu. Ya, Raka meminta ijin untuk mengajak kamu ikut dengannya menjenguk. Aku pikir karena Banu sepertinya dekat denganmu, jadi aku perbolehkan," kata Cahaya sambil melihat ke sekitar. Takut ada orang-orang di sana.


"Sudah saya pastikan sepi, direktur," kata Haras cekatan. Itu membuat Cahaya lega.


"Terima kasih Haras."


"Saya sangat berterima kasih atas kesempatan itu," ujar Mili.


"Ya, tapi ingat. Jangan katakan pada siapapun soal keadaan Banu," kata Cahya.


"Saya mengerti."


"Tetap semangat bekerja, juga ... doakan keponakanku itu akan sadar," pinta Cahaya dengan wajah penuh harap.


"Saya selalu mendoakan Pak Banu bangun dari koma, Bu."


"Terima kasih, Mili. Kita harus pergi Mili, ayo Haras."


"Ya," sahut Haras. Mili membungkukkan badan memberi hormat sebelum beliau pergi. Mili berjalan menuju ruangannya. Tatkala itu di dekat air mancur, Raka memanggilnya.


"Mili!"


Kaki gadis ini berhenti dan menoleh. "Oh, Kak Raka. Selamat pagi."


"Selamat pagi, Mili. Bagaimana keadaanmu?" tanya Raka cemas.


"Baik. Ada apa?"


"Enggak. Kemarin kamu terlihat tergesa-gesa. Aku pikir ada hal gawat yang terjadi di rumah."


"Oh, itu." Mili baru ingat kalau dia mengabaikan pria ini karena Pak Banu.

__ADS_1


..._____...



__ADS_2