
Sebuah mobil berhenti tepat di area parkir toko roti tempat Mili bekerja. Lalu jendela terbuka menampakkan wajah seorang perempuan. Dia mencoba melihat ke sekitar. Sepertinya dia mencari seseorang. Namun karena orang yang di tunggunya tidak muncul, perempuan cantik itu memilih turun.
Dari pintu belakang toko, Mili tergesa-gesa keluar dan menghampiri bibi Cahaya. Perempuan itu menoleh terkejut.
"Mili? Kenapa terburu-buru?" tanya Cahaya ketika melihat gadis itu terengah-engah menuju ke arahnya.
"Iya, aku takut bibi kebingungan mencari ku," ujar Mili beralasan.
"Kenapa sampai kebingungan? Kamu kan hanya ada di dalam toko roti ini," ujar Cahaya menggelengkan kepalanya. Mili tersenyum tipis. "Siap berangkat?" tanya Cahaya dengan senyum indahnya.
"Ya." Mili mengangguk antusias. Mau kemana mereka hari ini? Mobil berhenti tepat di bridal house. Ternyata Mili dan Cahaya sedang menuju kesana untuk melihat gaun pengantin. Karena Haras sibuk dengan pekerjaan, dia mengajak Mili menemaninya.
Sungguh gaun itu indah sekali. Mili sampai terpukau melihat gaun yang di pajang.
"Bagaimana Mili, apa ini bagus aku pakai?" tanya Cahaya seraya mematut diri di cermin.
"Ya. Itu sangat cocok untuk Bibi. Apa Pak Haras yang memilih itu?" tebak Mili.
__ADS_1
"Ya, benar. Dia yang memilih untukku," jawab Cahaya dengan senyum bahagia. Mili takjub melihat indahnya gaun pernikahan itu. "Bagaimana kalau kamu juga memilih satu."
"Untuk apa, Bi?" tanya Mili terkejut.
"Bukannya kalian akan menikah juga."
"Eh, ya itu ..."
"Pasti Banu tidak segera mengajak mu menikah demi aku," ujar Cahaya tanpa menunggu kalimat Mili utuh. Bibir Mili diam karena kurang tahu. Banu tidak pernah cerita apapun. Pria itu hanya mengatakan ingin menikahinya tapi entah apa kelanjutannya, dia tidak tahu. "Tolong bungkus gaun ini ya ...," kata Cahaya pada karyawan bridal house.
"Mungkin Banu menutup mulut untuk cerita, tapi aku yakin dia tidak ingin melangkahi ku." Cahaya mulai mendekat pada Mili dan duduk di sofa bersamanya. "Aku yang mengabdi penuh pada perusahaan dan ingin merawat keponakannku yang yatim piatu, terlihat tidak ingin menikah. Banu tidak ingin aku hidup sendirian dan hanya memikirkan dirinya. Maka dari itu, dia yang akhirnya menemukan mu dan ingin hidup bersama, tidak tega jika aku masih sendiri. Dia selalu menunjuk Haras yang sudah lama denganku sebagai sekretaris."
"Banu yang menjodohkan Bibi?"
"Hmmm ... Mungkin aku sudah lama nyaman dengan Haras jauh sebelum dia menjodohkan ku dengannya." Cahaya tersipu.
***
__ADS_1
Pernikahan Cahaya di laksanakan hari ini. Acara ini sekaligus sebagai tempat Banu mengumumkan pertunangannya dengan Mili.
Cahaya tampak cantik di depan cermin. Mili yang di minta untuk menemani di sampingnya takjub.
"Bibi ... cantik sekali," ujar Mili tulus.
"Ah, terima kasih Mili." Bibir perempuan ini tersenyum tersipu malu.
"Pak Haras pasti sangat bersyukur bisa mendapatkan Bibi."
"Tidak Mili. Kamu salah. Sebenarnya aku yang bersyukur mendapatkannya," ujar Cahaya dengan mata menerawang. Mili mengerjap. "Dia orang yang benar-benar memahami ku. Begitu banyak pria tampan, tapi dia yang paling bisa memahami ku sejak dulu."
"Pak Haras teman bibi?" tanya Mili yang tidak tahu sama sekali tentang sekretaris itu.
"Bukan. Kita hanya tidak sengaja bertemu. Di tempat dan waktu yang tepat. Dimana aku begitu membutuhkannya." Cahaya tersenyum dengan cantik.
..._____...
__ADS_1