Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 12 ° Wanita idaman Haras


__ADS_3

Seakan menunggu kalimat ini muncul dari bibir Cahaya, Dirga tersenyum. “Rapat eksekutif?" tanya Dirga sambil menyentuh dagunya. Mengusapnya pelan dan mengangguk-anggukkan kepala.


“Ya.” Dengan berat Cahaya menjawab.


"Baiklah. Itu memang cara terbaik untuk menentukan bagaimana sebenarnya keinginan mereka." Dirga terlihat senang dengan ide Cahaya. Sepertinya itu adalah yang di tunggu-tunggu oleh pria ini. "Kalau begitu, saya permisi, direktur,” pamit Dirga.


"Ya, buka pintu untuknya Haras," perintah Cahaya pada Haras yang ada di dekat pintu.


Dirga beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu. Haras yang berada di dekat pintu membuka pintu untuk pria ini. Dirga melirik ke arah Haras sambil berdecih.


“Lindungi direktur kalau kamu bisa, Haras,” bisik Dirga sambil menyeringai. Haras hanya menanggapi dengan anggukan kepala sopan. Dia tidak perlu terpancing emosi.


"Selamat bekerja, Pak Dirga," sapa Haras.


"Huh," dengus Dirga. Dia pun keluar dari ruangan ini dengan pongah. Haras menunduk sambil menutup pintu.


Pintu tertutup dengan sempurna. Haras membalikkan tubuh dan mendapati Cahaya terpekur di kursi kerjanya.


Wanita itu memijit kepalanya pelan. Matanya terpejam merasakan sakit di kepala juga gelisah yang tak kunjung reda. Haras di tempatnya berdiri memperhatikan.


“Duduklah Haras. Kita harus bicara,” pinta Cahaya sambil tetap dengan mata yang tertutup. Haras mendekat dan duduk. Kelopak mata Cahaya terbuka. “Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Cahaya takut.


“Seperti yang Anda katakan tadi, direktur. Kita harus mengadakan rapat para eksekutif,” jawab Haras.


“Tapi dengan begitu, keponakanku akan tersingkirkan. Kemungkinan mereka setuju tentang pergantian CEO karena Banu belum sadar dari koma,” kata Cahaya dengan wajah takut dan cemas campur jadi satu.


“Tidak ada jalan lain. Kalau Anda tidak segera mengadakan rapat, semua orang akan menyerang Anda dari dalam. Saya yakin ada banyak orang yang mengincar posisi Pak Banu sekarang, Direktur," kata Haras.

__ADS_1


Cahaya menggigit bibirnya cemas. Dia merasa kepalanya pening.


“Kalau begitu panggil Raka. Kamu bilang dia tidak terlihat dekat dengan banyak orang. Kemungkinan mereka tidak mendekati Raka dan memanfaatkannya. Aku yakin dia masih bersih. Karena dia sekretaris Banu," perintah Cahaya.


“Sekretaris Pak Banu memang tidak terlihat dengan eksekutif lainnya, tapi saya melihat dia dekat dengan Mili,” kata Haras. Pria ini memang mendapat perintah untuk selalu mengawasi gerak-gerik sekretaris keponakannya itu. Jadi dia tahu.


“Mili? Gadis itu?” Cahaya terkejut.


“Benar direktur.” Haras mengangguk.


Cahaya terdiam.


“Mungkin benar gadis itu adalah teman Banu. Namun aku tidak menduga kalau dia juga dekat dengan Raka. Gadis seperti itu sepertinya jadi populer di kalangan pria muda sekarang. Apa benar seperti itu Haras?” tanya Cahaya yang berumur tujuh tahun lebih tua dari Haras. Dia tidak menoleh pada pria ini. Masih memijit kepalanya sambil memejamkan mata.


“Saya tidak tahu, direktur.”


Sepertinya bicara tentang hal lain selain pekerjaan dengan Haras membuatnya lebih rileks.


“Saya tidak terlalu peduli dengan hal itu,” jawab Haras.


“Jadi tipe wanita yang kamu inginkan bukan gadis manis seperti Mili?” selidik Cahaya yang sepertinya mendapat angin untuk menanyakan pertanyaan pribadi pada orang kepercayaannya ini.


Haras hanya tersenyum. Dia tidak menjawab. Kesenangan Cahaya buyar.


“Jawab saja Haras. Anggap saja aku seperti sedang bertanya soal Mili yang ku perintahkan untuk kamu awasi,” kata Cahaya.


Haras diam. Mungkin ia keberatan ditanya hal semacam itu.

__ADS_1


“Baiklah. Tidak perlu kamu jawab. Itu pertanyaan konyol. Kamu bisa panggil Raka kesini. Kita akan bicara.” Cahaya tersenyum tipis. Ia merasa lucu dengan kesenangannya barusan.


“Saya menyukai wanita dewasa yang bekerja dengan giat. Mandiri dan penuh keyakinan bahwa dia bisa mengubah banyak hal. Karena wanita yang seperti itu adalah yang sulit di raih. Maka dari itu saya juga harus lebih mandiri dan yakin dari wanita itu,” kata Haras tiba-tiba. Padahal Cahaya sudah berencana mengabaikan pertanyaannya, tapi ternyata Haras menjawab pertanyaannya dengan baik.


“Oh, begitu ya ... Keren sekali wanita itu.” Cahaya tersenyum membayangkan ada wanita seperti yang dikatakan Haras. “Semoga kamu bisa mendapatkan wanita idaman kamu, Haras.”


Pria ini hanya diam seraya menatap Cahaya yang langsung menarik ponsel yang ada di atas meja setelah mengatakan itu.


“Sekarang kamu bisa panggil Raka kemari,” perintah wanita ini tanpa menoleh. Ia tengah membalas pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.


...____...


Pesawat telepon di ruangan Pak Banu berbunyi. Raka yang ada di sana mendekat ke nakas tempat di di letakkanya pesawat telepon itu.


"Halo."


"Ini Haras. Bisa datang ke ruangan direktur?"


"Oh, Pak Haras? Ruangan direktur?" Raka tidak percaya dengan indra pendengarannya.


"Ya. Direktur sedang menunggumu sekarang."


"Oh, baik. Saya akan segera kesana."


...______...


__ADS_1


__ADS_2