
Toko roti bougenville.
Siang menjelang sore ini, toko roti tampak ramai. Mili melayani pembeli di depan komputer.
" ... terima kasih sudah berbelanja, ibu," ucap Mili seraya tersenyum. Saat itu pintu toko terbuka dan membunyikan lonceng yang ada di pintu. Mili menoleh. Bola matanya melebar ketika tahu di sana muncul Pak Banu.
Bibir Banu tersenyum ketika tubuh itu sudah duduk di meja favoritnya. Yaitu tepat di depan meja kasir. Mili mengerjapkan mata karena terkejut. Senior yang tahu dengan kemunculan Pak Banu segera mendekat pada Mili.
"Sepertinya kekasih mu sudah datang. Layani dia," bisik senior.
"Aku sedang melayani, senior ...," kata Mili. Tidak mungkin ia sengaja melayani Pak Banu padahal meja kasir tengah sibuk.
"Ganti saja dengan yang lain. Dia bukan hanya kekasihmu, tapi juga pelanggan kita," balas senior. "Ayo, cepatlah. Aku gantikan. Cepat kamu layani dia." Senior memaksa Mili untuk menjauh dari meja kasir, meskipun masih ada beberapa pembeli yang antri.
Karena tidak ingin memalukan di depan pembeli, Mili terpaksa patuh. Dia mendekat pada meja Pak Banu.
"Halo Mili," sapa Pak Banu. Bibir Mili tersenyum.
"Anda mau pesan apa?"
"Kesukaanku," jawab Banu. Mili tahu kalau percuma saja menanyakan pesanan. Karena Pak Banu akan memesan yang sama dengan seperti biasanya.
__ADS_1
"Pesanan akan datang sebentar lagi. Mohon di tunggu, Pak."
"Ya. Aku akan dengan sabar menunggu di sini Mili," ujar Banu tersenyum lagi. Mili menuju ke belakang untuk menunjukkan pesanan pada orang di belakang. Karena ternyata mereka masih sibuk, Mili menolong mereka untuk membawakan pesanan keluar.
Tidak lama pesanan pak Banu datang.
"Pesanannya Pak," ujar Mili. Banu yang sedang mengutak-atik mendongak.
"Terima kasih Mili. Apa kamu sebentar lagi pulang?" tanya pria itu.
"Tidak, Pak. Saya masih lama karena tadi sift siang. Jadi pulangnya nanti malam," kata Mili.
"Bukannya Anda harus kembali ke kantor setelah makan ini, Pak?" tanya Mili heran Pak Banu mau menunggu ia pulang.
"Hmmm ... tidak. Aku tidak kembali ke kantor."
"Pak Banu mau bolos kerja?" tebak Mili.
"Oh tidak."
"Lalu apa? Bukannya pulang kerja masih lama? Kenapa Pak Banu tidak ingin kembali ke kantor?" Mili menyerbu pria ini dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Satu-satu," potong Banu seraya tersenyum. Mili mengerjapkan mata terkejut. Dengan tersipu malu, Mili tersenyum tipis. "Aku sudah meminta ijin untuk tidak kembali ke kantor. Jadi tidak apa-apa, aku tetap di sini."
"Sepertinya Bapak lelah. Sebaiknya jangan tetap di sini. Lebih baik pulang istirahat," ujar Mili menasehati.
"Tidak. Aku ingin bertemu dengan mu."
"Tapi aku masih lama untuk bisa menemani Pak Banu."
"Tidak apa-apa. Aku akan tetap duduk di sini dan kamu bisa melanjutkan pekerjaan mu," kata Banu mengerti. Mili diam.
"Apa Pak Banu mau istirahat di rumah ku? Bapak bisa tidur lebih dulu di sana sampai menunggu aku pulang," usul Banu mengejutkan.
"Istirahat di rumah mu?" tanya Banu tidak percaya.
"Ya. Aku bisa memberikan kunci dan Bapak bisa istirahat di sana."
"Apa boleh?" tanya Banu seraya tersenyum.
"T-tentu saja sebenarnya tidak boleh, tapi aku tidak tega melihat Pak Banu berlama-lama di sini untuk menungguku," ujar Mili.
...______...
__ADS_1