Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 53 ° Delivery order


__ADS_3

Melihat tingkah Banu yang belakangan ini terlihat berseri-seri, Raka yakin pria itu tengah jatuh cinta. Pada siapa? Tentu saja Mili.


Raka yang waktu itu ingin melihat keadaan gadis itu, urung. Karena Pak Banu ngobrol berdua dengan Mili. Mereka terlihat sama-sama menikmati momen bersama-sama.


Dari sini Raka paham kalau memang tidak ada tempat untuknya. Jadi usahanya mengatakan perihal Cahaya pada Banu berguna. Pria itu segera bertindak.


**


"Mili, sebentar lagi antar pesanan, ya?" perintah senior dari dalam. Mili yang ada di pos kasir menengok.


"Oke."


Tidak ada karyawan khusus untuk pengantar makanan. Jadi siapapun bisa mengantar. Namun karena rasa malas, kebanyakan menyerahkan pada Mili yang begitu aktif. Gadis ini tentu oke-oke saja karena itu artinya dia akan dapat bonus.


Setelah menyelesaikan transaksi beberapa pembeli, Mili berani meninggalkan kasir. Dia segera mengantar roti yang di pesan ke alamat yang di tuju.


Namun sungguh mengejutkan jika ternyata alamat tujuan adalah perusahaan Mandala.


"Di sini? Apa tidak salah?" tanya Mili pada dirinya sendiri. Ia melihat ke arah kertas yang ada di kotak pesanan. Ternyata benar alamatnya. "Kenapa aku tidak teliti membacanya. Hhh ... " Mili menghela napas.

__ADS_1


Dengan sedikit tidak bersemangat, Mili masuk ke dalam perusahaan. Dia tarik topi lebih dalam agar menutupi wajahnya.


Untung saja, semua orang tidak terlalu mengenalnya. Mungkin tidak terpikir oleh mereka, teman baru yang dulu pernah bekerja di sini menjadi tukang antar roti sekarang. Secara Mandala adalah perusahaan elit.


Mili menuju meja resepsionis. Dia ingin meletakkan pesanan di sini. Ia tidak ingin naik ke atas.


"Dari Bougenville patisserie?" tanya sekuriti di depan. Mili mengangguk. Sepertinya orang yang pesan sudah memberitahu lebih dulu pada sekuriti. "Sebentar ya." Pria itu menelepon seseorang lewat pesawat telepon di sana. "Ya, ya. Baik. Akan saya antar ke sana. Siap."


Mili memperhatikan ke sekeliling. Dia terkejut saat itu ada Hilda. Ia memutar tubuh dan mengetatkan topi. Bisa berbahaya bertemu gadis itu di sini. Sedikit menyembunyikan diri.


"Antar ke lantai atas, ya," kata sekuriti.


"Biasanya begitu, tapi karena ini perintah, lebih baik kamu masuk saja." Sekuriti itu bicara. Perintah? Jangan-jangan ...


Benar saja. Sampai di lantai yang di tuju, muncul Banu. Sebelum Mili pusing mencari, Banu sudah menyambutnya. Ternyata pria ini yang memesan roti yang ia bawa.


"Jadi ini pesanan Anda, Pak?" tanya Mili terkejut.


"Ya," sahut Banu tenang.

__ADS_1


"Kenapa tidak datang ke toko saja seperti biasanya?" gerutu Mili.


"Kamu ingin aku datang ke toko?" Banu balik bertanya.


"B-bukan. Maksud Saya ..."


"Karena sudah sampai di sini ... lebih baik kamu ikut denganku." Banu menarik tangan Mili. Ternyata lantai empat hanya samaran Pak Banu agar tidak berpikir kalau itu dia yang memesan.


Namun Banu tidak sadar kalau Mili sudah menebak itu dia.


"Saya tidak bisa ikut Bapak, saya masih bekerja."


"Harus ikut. Karena kamu belum sampai di alamat tujuan."


"Saya sudah sampai di sini. Itu berarti saya sudah memenuhi tanggung jawab saya." Mili menolak. Karena dia merasa tidak nyaman di dalam gedung perusahaan ini.


Saat itu Cahaya muncul dengan Haras.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2