
Hilda yang ada di samping Pak Dirga juga ikut melirik ke arah mereka, tapi tujuan mereka berbeda. Dia hanya ingin melihat raut wajah sepupunya itu setelah ia memberi info soal rencana Pak Dirga.
Langkahnya hampir sampai di dekat Raka. Pria ini menautkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk kata 'OK'. Menunjukkan bahwa dia dan Pak Banu siap menghadapi Dirga dan orang-orangnya.
Hilda lega. Meskipun awalnya dia tidak peduli, tapi perasaannya tiba-tiba mengatakan bakal ada hal buruk terjadi kalau dia terus berjalan di atas jalan yang sama dengan atasannya itu. Hingga dia memilih untuk mendukung Raka dan Pak Banu.
Merasa ada yang sedang memperhatikannya, Banu yang masih menunduk, kini mulai mendongak. Dia melihat Dirga sudah duduk di kursinya. Berbisik pada manajer operasional sambil menyeringai samar.
Banu hanya tersenyum tipis.
Direktur Cahaya muncul dengan Haras. Mereka semua berdiri dan membungkuk sedikit untuk menunjukkan rasa hormat. Sebagai orang dengan jabatan paling tinggi dalam perusahaan ini, dia selalu di dera oleh rasa cemas dan khawatir ketika rapat mulai di gelar. Karena bisa saja ada protes dan rasa tidak puas atas dirinya dan keponakannya.
__ADS_1
Bukan Cahaya tidak percaya diri atau merasa kurang mumpuni. Dalam satu perusahaan pasti ada saja yang iri dan dengki. Punya banyak cara untuk menjatuhkan siapapun yang menghalangi jalannya. Terutama dia dan Banu pemegang jabatan tertinggi di perusahaan.
Apalagi sekarang ada pengawas dari pusat yang membuat orang-orang itu menggeliat ingin menunjukkan diri mereka masing-masing. Ini bisa juga di sebut sebagai ajang memamerkan diri demi kepentingan pribadi. Karena jika pengawas dari pusat merasa mereka mumpuni, ada jaminan mendapatkan banyak keuntungan. termasuk kenaikan jabatan.
Tidak lama ruang rapat penuh. Semua sudah siap dengan laporan dari divisi masing-masing.
Pintu terbuka lagi. Cahaya melirik Banu. Dia selalu berdoa untuk hal yang paling baik bagi keponakannya. Banu tersenyum tenang.
Hati Cahaya terasa tenang. Ada rasa nyaman yang melintas. Tak di sangka sentuhan samar pria ini membuatnya tenang. Mungkin dia baru sadar sekarang, ketika hatinya sudah terbuka. Padahal pria itu seringkali melakukannya.
Moderator mulai membuka rapat. Bersamaan dengan itu mereka bersiap dengan misi masing-masing. Satu persatu laporan soal setiap divisi mulai di bicarakan. Mereka menjabarkan dengan baik.
__ADS_1
Awalnya tepuk tangan selalu terdengar ketika semua divisi melaporkan kondisi yang baik. Namun Dirga yang sudah merencanakan sesuatu, tidak membiarkan begitu saja keadaan yang aman tentram dan damai ini.
"Terkait dengan kantor cabang kita yang ada di daerah lain, saya rasa itu perlu peninjauan lagi dari kantor pusat," kata Dirga. Dia hendak memulai perbincangan yang menjadi bagian dari rencananya.
"Kantor cabang?" tanya pengawas dari kantor pusat mengernyitkan dahinya. Cahaya melihat ke arah Dirga yang terlihat percaya diri membahas tentang kantor cabang dengan terkejut. Semua orang di dalam rapat juga menoleh pada Dirga. Seakan memfokuskan perhatian mereka pada pria itu.
Kantor cabang? Tanpa sadar Cahaya melirik pada keponakannya. Raut wajahnya tampak cemas. Banu sendiri tetap tenang meskipun Raka di belakangnya cemas dan gelisah.
"Apa yang Anda maksud Pak Dirga?" tanya pengawas melanjutkan kalimat dari pria ini.
..._____...
__ADS_1