Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 96 ° Rencana selanjutnya


__ADS_3

Pintu ruang rias terbuka. Banu muncul. "Pengantin wanita sudah siap?" tanya pria itu.


"Ya. Bibi sudah siap," sahut Mili. Banu mendekat dan menatap bibinya takjub.


"Bibi cantik sekali," ujar Banu memuji. Mili ikut tersenyum.


"Ah, kamu bisa saja." Cahaya memukul lengan keponakannya pelan karena tersipu.


Lalu Banu mengganti pandangannya pada Mili yang mengenakan baju berwarna dusty purple. Bola mata Mili bergerak gugup ketika pria ini mengamatinya dengan seksama. Apalagi dengan tatapan intens dan penuh arti itu.


"Kamu cantik," ujar Banu terkesima. Cahaya menoleh pada Mili dan tersenyum geli. Pipi Mili merah karena tersipu.


"Padahal Mili baru tampil seperti ini kamu sudah terpukau. Apalagi nanti kalau dia memakai gaun pengantin. Mungkin kamu tidak bisa berkata apa-apa lagi," ujar Cahaya.


"Mungkin bibi benar." Banu setuju. "Ayo, bibi harus cepat keluar. Sejak tadi Haras kebingungan bibi tidak muncul. Dia tidak tahan untuk melihat istri cantiknya." Tangan Banu terulur. Cahaya tersenyum. Tangannya terulur. Banu menerima dan menggenggamnya. Ujung mata Banu melirik mesra pada Mili untuk mengikutinya. Mereka bertiga keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


***


Tujuh bulan berlalu ...


Tidak perlu menunggu waktu lama, Banu juga melakukan pernikahan. Sebenarnya pria ini ingin melangsungkan pernikahan lebih dulu daripada bibinya. Karena takut bibi mendapat cibiran karena telat menikah dan di dahului olehnya, dia menahan diri untuk melakukannya.


Semua persiapan sangat matang karena jauh-jauh hari Banu sudah merencanakannya. Semuanya sungguh tidak memerlukan campur tangan Mili. Banu membebaskan gadis kesayangannya itu. Dia hanya memberi Mili waktu untuk menentukan tema pernikahan yang sesuai dengan impiannya. Lalu semuanya di serahkan pada WO.


"Aku dan Mili harus melihat gaun pengantin yang sudah di pesan waktu itu, ada apa Bi?" tanya Banu saat tiba di depan gang rumah Mili. Sebelum kakinya sampai di depan rumah Mili, Cahaya menelepon.


"Tidak. Aku mungkin lama pulangnya," tolak Banu.


"Kamu tidak kasihan pada keponakanmu?" tanya Cahaya merajuk. Bibir Banu menipis. Ia tahu bibinya tengah hamil tiga bulan sekarang.


"Aku kasihan, tapi aku lebih kasihan pada puding itu jika aku tidak langsung membawanya pulang," ujar Banu geram. "Lagipula pesan antar lebih praktis daripada titip padaku, Bi. Karena aku banyak acara hari ini. Bibi mau membuat pernikahanku tidak berjalan lancar?" ancam Banu.

__ADS_1


"Hhh ... Iya, iya. Sudah jangan mengomel."


"Suruh saja Haras untuk mengambilnya. Kenapa harus aku?" tanya Banu gusar.


"Rileks Banu. Tenangkan dirimu. Kamu pasti menikah dengan Mili," ujar Cahaya setengah meledek.


"Tentu saja harus. Aku sudah menunggu lama untuk ini. Jadi aku tidak mau gagal," tekad Banu. Mili sudah muncul di depan gang. Dia menghampiri Banu yang masih menempelkan ponsel pada telinganya. Mili paham pria ini sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Jadi dia menunggu Banu menyelesaikan perbincangannya.


"Ya sudah. Aku urus sendiri puding ku," ujar Cahaya.


"Memang seharusnya seperti itu," ketus Banu membuat Cahaya tergelak. Mili menoleh cepat karena melihat wajah masam pria yang dicintainya. Ia menatap dengan cemas. "Hhh ..." Banu menghela napas.


"Kenapa?" tanya Mili akhirnya, setelah ia menahan diri untuk bertanya karena Banu masih bicara dengan seseorang di telepon.


...____...

__ADS_1


__ADS_2