Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 78 ° Aku rindu


__ADS_3

Usulan Mili di terima dengan baik oleh Banu. Bahkan pria ini sangat setuju dengan usulan itu. Jadi dia tidak perlu khawatir tidak bertemu dengan gadis ini. Karena dia pasti pulang ke rumah.


Jam dinding menunjukkan pukul 22.15. Mili keluar dari pintu belakang toko.


"Sudah ya, Mili. Aku pulang dulu," kata senior yang sudah siap dengan motornya.


"Oke senior."


"Apa kamu ingin tumpangan untuk pulang?" tawar senior.


"Tidak. Tidak perlu. Terima kasih. Rumah ku kan dekat. Tidak apa-apa," tolak Mili karena ia tidak ingin senior tahu kalau Pak Banu ada di rumahnya.


"Oh, baiklah. Aku pulang dulu, Mili."


"Ya. Hati-hati di jalan senior." Akhirnya Mili sendirian karena yang lain juga sudah pulang lebih dulu dengan motor mereka. "Sepertinya Pak Banu istirahat dengan tenang. Dia tidak mengirim pesan karena membutuhkan sesuatu. Hhh ..." Mili menghela napas. Saat dia mendongak, betapa terkejutnya ketika mendapati Pak Banu sudah muncul di ujung jalan. Pria itu tersenyum padanya.


"Pak Banu?"

__ADS_1


Pria itu berdiri di dekat pot bunga besar yang sengaja oleh pemerintah daerah di letakkan di jalanan agar terlihat asri. Langkah kaki Mili makin cepat untuk segera sampai ke tempat Pak Banu.


"Kenapa Bapak ada di sini? Bukannya saya meminta Bapak untuk menunggu saya di rumah?" tanya Mili.


"Aku bosan. Meski senang karena kamu menyuruhku menunggu di rumahmu, tapi aku bosan."


Bodoh! Kenapa aku menyuruhnya ke rumah sewa? Bukannya di sana jauh dari kehidupan pak Banu biasanya. Mili menyadari kekeliruannya.


"Pasti Pak Banu bosan karena di rumah saya tidak seperti yang ada di rumah Pak Banu ya ... Suasananya kan beda." Mili sedikit berkecil hati. Meski tadi sudah membersihkan rumahnya, jika di bandingkan dengan rumah Pak Banu ... Itu sangat tidak nyaman.


Mili diam sejenak.


Banu mendesah. Lalu menarik tubuh Mili dan mendekatkan pada tubuhnya. Ini membuat Mili melebarkan bola matanya terkejut. Hampir saja tote bag di tangannya lepas.


"P-pak Banu."


"Aku rindu, Mili. Makanya aku tidak sabar bertemu denganmu. Menunggu itu menyiksa," ucap Banu menjelaskan lagi kenapa ia bisa muncul di sini. Namun Mili justru menunduk.

__ADS_1


Dia marah? Banu bingung.


"Kamu marah?" tanya Banu. Mili menggeleng pelan. "Lalu kenapa tidak mau menatapku?" Banu sungguh tidak mengerti. Tangan Banu mencoba meraih dagu gadis ini dan menengadahkan padanya.


Wajah itu merah.


"Kamu sakit?" tanya Banu panik dan cemas bersamaan. Ia langsung memeriksa kening Mili.


"B-bukan." Dengan gugup Mili berusaha menjelaskan. Bukan Mili tidak mengerti saat Banu menjelaskan. Bahkan Mili justru kebingungan.


"Ya. Sepertinya tubuh mu tidak panas. Lalu kenapa wajah mu memerah?" tanya Banu menatap gadis ini lurus-lurus. Mili tidak langsung menjawab karena masih harus memenangkan degup jantungnya.


Dia bukan sakit. Karena jarak tubuh mereka begitu dekat, Mili kelabakan. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa karenanya. Bahkan wajahnya memerah.


"Oh, aku tahu. Pasti itu karena jarak tubuh kita yang begitu dekat?" tebak Banu menemukan alasan gadis ini memerah. Mili mengerjapkan mata berulang kali.


...____...

__ADS_1


__ADS_2