
Banu menghela napas.
"Jujur. Sepertinya aku sulit menemukan sosok kamu di masa lalu dalam ingatan ku. Apalagi kamu bilang kalau mengenalku saat aku menjadi roh," kata Banu. Alisnya naik sedikit saat mengatakan itu.
Ternyata pembicaraan tidak masuk akal itu menetap di benak pria ini. Meskipun Banu mengatakan sendiri itu mustahil, tapi pria ini tetap mengingatnya dengan baik. Bahkan memikirkannya. Rupanya ia mendengarkan Mili bicara.
Gadis ini diam mendengarkan.
"Aku juga masih tidak bisa mengingat dirimu siapa sampai sekarang. Namun apa karena itu kamu tidak bisa membuka hati?" tanya Banu.
"Membuka hati?" tanya Mili kurang paham.
"Ya. Aku ingin kamu membuka hati."
"Untuk?" tanya Mili.
"Kamu tidak berpikir aku mendekatimu hanya untuk main-main kan?" selidik Banu.
Mili mengerjapkan mata. "Saya tidak tahu." Mili menarik tubuhnya yang tadi condong karena ingin tahu.
"Aku ini sedang tertarik padamu, Mili. Seperti kata bibi. Aku sepertinya mulai terobsesi padamu," ujar Banu dengan mata penuh binar cinta.
__ADS_1
Mili mengerjapkan matanya lagi.
"Aku bukan hanya ingin tahu kamu siapa. Bukan juga hanya mencari kamu yang hilang di masa lalu ku." Banu menjeda kalimatnya. "Aku tertarik padamu karena kamu adalah Mili."
Bola mata Mili melebar.
"Kamu mau membuka hati mu untukku?" tanya Banu. Bola mata Mili berkaca-kaca. Ia menundukkan wajahnya.
"Membuka hati? Sejak awal hati ku ini hanya untuk Pak Banu," lirih Mili. Banu yang mendengar kalimat itu langsung memeluk Mili.
"Oh, syukurlah. Aku pikir kamu akan menolak ku karena berpikir aku main-main mendekati mu," kata Banu makin memeluk tubuh Mili erat.
"Tidak dan bukan. Bahkan bibi Cahaya juga sudah tahu aku mulai terobsesi dengan mu," ujar Pak Banu. Mili meneteskan air mata. Ia mengusapnya cepat. Mungkin itu air mata bahagia. "Kenapa tidak ikut memelukku juga Mili?" tegur Banu yang belum melepas pelukannya.
"Hah?" Tangan Mili sejak tadi memang mengambang. Ia tidak ikut memeluk tubuh Banu.
Banu pun menarik tangan Mili untuk ikut memeluknya. Dari sini Mili bisa merasakan aroma maskulin yang tidak ia ketahui saat Pak Banu masih menjadi roh. Ini sungguh lebih menyenangkan daripada waktu itu.
"Ternyata kamu suka memeluk ku juga ya?" tanya Banu yang menyadari pelukan Mili makin erat. Mili yang tadinya memejamkan mata, kini terkejut. Ia pun langsung melepas pelukannya.
"Maaf, Pak." Mili menunduk.
__ADS_1
Banu tersenyum. "Kenapa meminta maaf? Aku senang kamu memelukku seperti itu." Ini ungkapan Banu dadi dalam hati.
Mili menggaruk pelipisnya gugup.
“Mulai hari ini kamu kekasihku. Jangan lagi aku melihat kamu dan Raka bicara berdua saja,” tegas Banu memperjelas hubungan mereka.
Kekasih? Pipi Mili panas. Ia senang.
“Oh, sebaiknya aku kembali ke toko. Senior bisa marah aku terlalu lama,” kata Mili baru ingat. Dia sungguh terlena dengan situasi yang membahagiakan sekarang ini.
Gadis ini mulai memasang topinya.
“Berikan nomor senior mu. Aku akan meminta ijin pada senior,” kata Banu.
“Untuk apa?” tanya Mili heran.
“Aku masih ingin berlama-lama dengan mu,” jawab Banu jujur. Wajah Mili merah malu.
“Tidak bisakah lain waktu?” mohon Mili. Ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaan. Ia hidup juga tergantung dari pekerjaan itu.
..._____...
__ADS_1