Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 33 ° Kenapa harus terjadi lagi?


__ADS_3

"Apa yang kau bicarakan?" dengus Banu. Meskipun begitu, ia masih mencuri pandang. Banu masih ingin melihat gadis itu. Mova tidak ambil pusing.


"Jadi untuk apa sebenarnya kamu mengajakku bertemu?" tanya Mova.


"Aku hanya meneruskan kata-kata dari bibiku." Banu terpaksa harus mengalihkan perhatian dari Mili. Dia harus bicara dengan Mova. "Apa keluargamu menawarkan ikatan pernikahan pada bibiku?"


"Ughh ... ternyata itu." Mova menggeram kesal.


"Kamu sudah tahu?"


"Ya. Itu ide gila dari ayahku," kata Mova melebarkan mata.


"Aku tidak tahu darimana awalnya, aku tidak ingin itu," kata Banu sangat tegas.


"Kamu pikir aku mau?! Tentu saja tidak Banu," geram Mova. "Menyebalkan. Kata-katamu itu ... seakan-akan aku mau saja dijodohkan denganmu." Mova menunjukkan raut wajah kesal.


"Bagus. Sudah. Aku harus pergi," kata Banu terburu-buru. Laki-laki itu meninggalkan Mova begitu saja. Wanita ini mengerjapkan mata heran. Seakan-akan dirinya sedang di campakkan.


Rupanya Banu segera keluar dari cafe dan mencari-cari Mili.


"Dia sudah menghilang," keluh Banu. Padahal ia sengaja mempercepat bicara agar bisa mengejar gadis itu.


**


Banu muncul lagi di Bougenvil patisserie. Dia ingin menagih janji pada gadis itu. Karena tidak ingin mengganggu jam kerja, Banu datang ke toko roti pagi-pagi sebelum berangkat kerja.


"Toko ini masih tutup," kata Banu setelah sampai di depan toko. Tentu saja begitu. Ini masih jam 8 kurang. Toko buka jam 9. Masih lama. Banu mendongak. Meskipun masih pagi, sinar matahari terasa panas. Langit juga cerah. Hanya berawan sedikit.


"Aku pulang atau menunggu. Atau nanti siang kembali lagi ke sini?" Banu bermonolog. Maksud hati tidak ingin mengganggu jam kerja malah tidak bertemu dengan orangnya sama sekali.


Seorang perempuan muncul dari dalam toko. Banu melongok dan menghampiri.


"Selamat pagi," sapa Banu.


"Pagi," sahut perempuan itu. Namun saat menoleh, perempuan itu terkejut. Hingga akhirnya ... Byurr!

__ADS_1


Timba berisi air kotor dari tangannya terlempar mengguyur Banu.


"Akh!" teriak panik seseorang yang sadar bahwa ada orang lain yang kena guyur air. "Pak Banu?!" teriak Mili terkejut setengah mati. Ia mendekat masih dengan timba di tangannya. "Bapak tidak apa-apa?" tanya Mili panik. "Aduh bagaimana ini ..."


Banu hanya diam merasakan air yang membasahi hampir seluruh pakaiannya. Dia masih terkejut dengan adanya air yang datang tiba-tiba. Tangannya mengusap air di wajahnya. Lalu menggeram kesal.


"Maafkan saya. Maafkan saya." Mili membungkukkan badan berulang kali mengaku salah.


"Seperti ini cara kamu menyambut ku? Setelah merusak mobilku, sekarang kamu menyiram ku dengan air." Banu mengendus air yang mengguyur badannya.


"Itu bukan air cuci piring. Hanya air dari bocoran atap," kata Mili takut-takut. Banu menipiskan bibirnya.


"Jadi apa bedanya air cuci piring dan air dari bocoran atap?" desis Banu. Mili menunduk. Karena tidak menduga akan bertemu Pak Banu pagi-pagi seperti ini, Mili sangat terkejut. Sampai tanpa sengaja dia menyiram pria ini dengan air yang di bawanya.


"Mili, ada apa?" tanya senior yang muncul karena teriakan Mili.


"Oh, senior. Ini ..." Mili tidak langsung menjawab. Dia hanya menunjuk Banu dengan lirikan matanya. Senior melihat apa yang terjadi pada Banu.


"Kamu menyiram pembeli kita?" tanya senior terkejut.


"Oh, apakah Anda ..." Senior ingat sesuatu. "Maafkan kami. Cepat bawa Tuan ini ke dalam." Tiba-tiba senior membungkuk meminta maaf.


"Masuk ke dalam?" tanya Mili tidak paham.


"Aku hanya ingin menemuinya," jelas Banu.


"Ah, ya. Anda bisa menemui dan berbincang dengan Mili di dalam," kata Senior pada Banu. "Cepat suruh dia ganti kemejanya yang basah dan kotor dengan seragam di loker." Kini senior berbisik pada Mili. "Dia pemilik kartu black card yang terjatuh di toko Mili."


Mili lupa itu.


"Ah, ya Pak. Silakan masuk. Anda bisa mengganti kemeja Bapak dengan kemeja baru milik toko kami." Mili tahu maksud senior. Dia takut Pak Banu marah dan menuntut toko roti atas penyiraman ini.


"Aku tidak mau ganti," tolak Pak Banu.


"Anda harus ganti." Mili memakai mode memaksa. Karena ia juga takut jika ini melebar kemana-mana. Apalagi pasti Pak Banu tengah menagih hutang soal mobilnya.

__ADS_1


"Harus?" tanya Banu mengernyitkan keningnya.


"Tolong ikut saya," kata Mili yang langsung menarik lengan Banu untuk ikut dengannya. Jika biasanya Banu masuk ke toko ini lewat pintu depan, kini dia lewat pintu belakang. Bau khas roti tercium. Ternyata meski dari luar terlihat tutup, di dalam sudah ada yang melakukan aktifitas.


Beberapa orang yang bekerja di toko ini melihat dengan heran.


Mili membawa Banu ke sebuah ruang kecil. Sepertinya ini kantor khusus untuk pejabat toko ini.


"Saya ambilkan kemeja putih yang kita punya," kata Mili. Gadis membuka pintu lemari yang berisikan keperluan kantor. Menarik satu kemeja berwarna putih yang tersedia sebagai inventaris.


"Aku tidak memerlukannya," sahut Banu sambil menoleh ke seluruh penjuru ruangan ini. Entah kenapa dia tidak memberontak saat Mili menarik tangannya.


"Saya tahu Bapak tidak memerlukannya karena Bapak bisa membeli kemeja seperti itu." Gadis ini menutup pintu lemari dan memutar tubuhnya menghadap Banu. "Namun ini sebagai tanggung jawab saya sudah membuat pakaian Bapak basah."


"Tanggung jawab? Kalau begitu, berarti kamu mau langsung membayar ganti rugi mobilku yang lecet?" tantang Banu mengungkit lagi.


Aduh! keluh Mili dalam hati. Mili menyesal mengatakan itu.


"Jangan samakan ini dan yang itu, Pak," kata Mili sedikit gusar.


"Apa yang beda? Sama-sama tanggung jawab kan? Karena dua kejadian itu adalah kesalahanmu," tuding Banu.


"Saya tahu, tapi tolong untuk ganti rugi mobil Bapak yang lecet bisa di tangguhkan dulu. Mungkin kalau sekarang, saya bisa mengganti kemeja Bapak karena bantuan dari senior saya. Meksipun ini kemeja murah, tapi untuk mobil Bapak saya benar-benar tidak punya uang untuk itu." Mili sedikit membungkuk meminta belas kasihan.


Banu diam. Mili tidak bisa melihat ekspresi pria itu karena menunduk.


"Baiklah. Melihat mu bersungguh-sungguh, aku akan menangguhkan ganti rugi itu," kata Banu tergugah hatinya untuk memberi kelonggaran pada gadis ini. Padahal dia datang ke toko ini untuk mengakhiri kesepakatan yang di buat sepihak oleh gadis ini, tapi nyatanya ia justru membuat kesepakatan baru.


"Terima kasih Pak, sudah ... Agh," pekik Mili tertahan karena terkejut. Bahkan dia langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Menutupi wajahnya sekilas.


"Ada apa?" tanya Banu dengan tatapan heran.


"Emm ... itu." Mili ragu mengatakannya. "K-kenapa Bapak ... membuka baju?" tegur Mili sambil tetap melihat ke arah lain.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2