Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 32 ° Rencana untuk Banu


__ADS_3

"Ya. Gadis itu bernama Mili. Dia teman sepupu saya," kata Raka menjelaskan. Banu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Apa aku pernah mengenalnya? Kamu pernah menyebut nama itu di depanku," kata Banu.


"Anda mengingatnya?" tanya Raka terkejut.


"Ingat? Apa yang harus aku ingat?" tanya Banu heran. "Apa yang kamu maksud pertemuan kita di toko roti?"


"Bukan. Sebelum itu." Raka tergugah untuk mendesak Pak Banu bisa mengingat Mili.


"Jadi ... Kamu melihat kita bertemu saat di pemukiman yang dekat dengan area toko roti?" Banu juga masih mengingat pertemuan mereka pertama kali. Dimana Mili menyebut mereka berciuman. "Saat gadis itu bilang ... Ah sudahlah. Kenapa aku harus mengingat-ingat tentang dia?" Banu mengakhiri sesi tanya jawab ini.


Meskipun penasaran, Raka tidak bisa memaksa Banu melanjutkan kalimatnya. Pria ini adalah atasannya. Ia memilih berhenti dan ingin kembali ke ruangannya.


"Oh, ya Raka." Mendengar Banu menyebut namanya, langkah Raka berhenti. Lalu membalikkan badan menoleh pada Banu.


"Ya, Pak?"


"Terima kasih sudah menerima kedatanganku di toko roti waktu itu," kata Banu. Raka mengangguk. Lalu pria itu menutup pintu.


**


Kepala Banu melongok ke dalam laci nakas kamarnya. Tidak ada. Lalu mencari ke dalam saku kemeja dan celana yang ia pakai tadi. Tetap tidak ada.


"Kemana KTP gadis itu?" Banu coba diam sejenak seraya mengingat-ingat dimana ia meletakkan kartu identitas itu. "Benar. Aku meletakkannya di laci meja kantor. Hhh ... bikin panik saja. Bisa gawat kalau kartu ini bisa hilang." Banu mengeluh. "Gadis itu. Bukannya menenangkan pikiranku, dia malam membebaniku dengan menyerahkan KTP-nya. Dia tidak takut aku membuangnya apa?" Banu menggeram kesal.


Ia menghempaskan tubuhnya pada sofa. Menghela napas dan meletakkan kepala di bahu sofa. Memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan rasa lelah.


Tok, tok. Pintu ruang baca di ketuk. Banu menoleh. Pintu terbuka perlahan.


"Ini bibi." Ternyata itu Cahaya.


"Oh, bibi. Ada apa?" Banu tersenyum menyambut bibinya. Dia bangun dari bersandar malas pada badan sofa. Wanita itu mendekat ke sofa dan duduk.


"Bibi mau membahas perihal kestabilan perusahaan ini, Banu."


"Apa itu?" Banu mengerutkan kening.

__ADS_1


"Itu Banu ..." Bibi Cahaya tampak ragu. "Bibi rasa, sebaiknya kita menjalin hubungan baik dengan perusahaan Maxim yang besar itu."


"Maxim?" tanya Banu heran. Dia tahu benar perusahaan itu milik siapa. "Hubungan baik bagaimana, Bi?"


"Ya ... hubungan baik. Kamu bisa menjalin ikatan dengan putri keluarga mereka." Cahaya memberi contoh.


"Mova?" Banu menyebut nama Putri keluarga mereka yang sebaya dengannya. "Aku sudah mengenal baik dirinya. Kita memang berteman Bibi."


"Aku tahu itu Banu. Bibi mengerti kalian sudah mengenal sangat baik. Justru itu adalah jalan untuk menuju hubungan yang lebih baik lagi." Cahaya tampak menggebu-gebu.


"Hubungan baik apalagi, Bi?" tanya Banu mendesak. Dia merasa ada hal yang tidak beres. Bibinya terlihat sedang mengulur-ulur pembicaraan.


"Menikahlah dengannya, Banu," pinta Cahaya membuat Banu melebarkan mata.


"Menikah?" tanya Banu terkejut.


"Ya," sahut Cahaya lembut.


"Kenapa aku harus menikah dengannya, Bi?"


"Posisi kita tidak stabil Banu. Aku tidak bisa selalu melindungi perusahaan ini. Saat ini banyak orang yang ingin menghancurkan mu. Bahkan Dirga sudah mendekati semua orang untuk menjadi sekutunya." Cahaya tampak sangat cemas.


"Tidak perlu langsung menikah. Kamu cukup mengikat Mova dengan ikatan pertunangan terlebih dahulu."


"Kita tidak bisa seenaknya mengatur seperti ini, Bi."


"Bisa. Bibi yakin Mova setuju."


"Kenapa bibi yakin sekali? Apa bibi sengaja melakukan kesepakatan di belakang ku?" desak Banu. Tatap mata Banu menjadi tajam.


"Tidak. Bukan bibi, tapi keluarga mereka. Mereka ingin mendekatkan hubungan putra putri dua keluarga ini," jelas Cahaya panik.


"Bibi tidak berbohong? Aku akan marah dan benci pada bibi jika ternyata aku tahu itu rencana bibi lebih dulu," ancam Banu.


"Bukan. Bukan bibi. Kalau kamu tidak setuju, bibi akan mengatakan pada keluarga Maxim bahwa kamu menolak." Cahaya mengambil keputusan sendiri.


"Tidak perlu. Aku akan menemui Mova sendiri," kata Banu.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Cahaya beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Aku akan lihat kondisinya nanti Bibi. Jika memungkinkan, aku akan coba menuruti bibi untuk melakukan pendekatan," kata Banu membuat Cahaya menoleh tidak percaya.


"Benarkah?"


"Jangan berharap banyak. Aku sangat tidak ingin pernikahanku di atur-atur. Aku ingin mencari sendiri calonnya Bi," sahut Banu.


"Ya. Terima kasih," kata Cahaya senang. Setelah Bibi Cahaya menutup pintu, Banu menghela napas makin berat. Meskipun sangat tidak setuju dengan usulan bibi, tapi dia tidak tega jika melihat bibinya berwajah murung.


Hhh ... Banu kembali meletakkan kepalanya pada badan sofa. Dia kembali gelisah.


"Apa kegelisahan ku ini karena sudah waktunya aku menikah?" tanya Banu pada dirinya sendiri. "Apa karena aku kesepian butuh seorang pendamping?" Banu menekan pangkal hidungnya. "Huh, lucu. Mana mungkin aku kesepian. Hidupku terlalu sibuk untuk memikirkan hal itu. Aku harus bekerja keras agar perusahaan tetap kuat, tapi ... hh. Sudahlah. Kita lihat saja nanti."


**


Malam ini di sebuah cafe. Dari pintu itu muncul seorang perempuan dengan tinggi semampai. Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai indah. Itu Mova. Teman sekolahnya.


Wanita itu datang menghampirinya.


"Aku hampir jantungan melihat ada pesan darimu, Banu," kata Mova sambil menatap remeh pada Banu.


"Ya, aku juga perlu memukul kepalaku sendiri berkali-kali untuk yakin bahwa aku ternyata menghubungi mu lebih dulu," sahut Banu sambil tersenyum tipis. "Duduklah. Aku sudah menunggu mu sejak tadi."


"Tanpa kamu suruh duduk, aku juga akan duduk Banu," tepis Mova. Banu menipiskan bibir. Saat itu seorang pria dengan celana dan kaos hitam muncul di belakang Mova.


"Dia bersama mu?" tanya Banu menunjuk pria itu. Mova menoleh ke belakang.


"Ya. Dia orang ayahku."


"Oo ... Dia pengasuh mu?" ejek Banu.


"Ku cincang mulutmu," timpal Mova sadis. Banu tergelak remeh. Dia tahu itu bodyguard yang di tempatkan ayah perempuan ini.


"Kata-katamu masih saja sadis. Itu tidak mencerminkan wanita baik, Mova," kata Banu menasehati. Wanita itu hanya mengangkat alisnya. Saat itu tidak sengaja Banu melihat ke dinding kaca di dekat mereka.


Mili! Gadis itu tengah berada di keramaian jalanan dengan scooter-nya. Semuanya masih tampak sama. Mungkin hanya waktunya saja yang berbeda.

__ADS_1


"Kamu mengundangku tapi mata itu terus saja melihat ke arah lain. Apa lebih baik aku pulang saja?" tegur Mova yang tahu Banu terus saja melihat keluar.


..._____...


__ADS_2