Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 72 ° Kenapa tidak menyangkal?


__ADS_3

Seringkali di saat orang menyerang dan menginginkan orang lain jatuh, mereka mengharapkan sedikit drama dalam prosesnya. Yaitu penyangkalan akan tuduhan yang sudah di layangkan dari pihak yang di tuduh.


Itu menjadi sebuah kepuasan bagi mereka yang menyerang. Bahwa kini lawannya sudah kalah dengan nasib sudah ada di ujung tanduk. Penyangkalan itu sendiri sebuah pertunjukan yang mereka inginkan. Karena dengan begitu, mereka akan bisa terus menuduh dan mendesak orang lain.


Namun jika orang itu justru cepat mengaku salah, kesenangan dari menyerang itu perlahan pudar. Karena cerita ini cepat usai. Jadi, ketika raut wajah panik dan takut karena tuduhan itu tidak nampak, kesenangan untuk membuat lawan kalah kini berubah menjadi sebuah kebingungan.


Dalam imajinasi mereka, Banu yang selama ini terlihat kuat dengan harga diri yang tinggi akan terus menyangkal tuduhan itu. Namun kenyataannya, dengan mudah Banu meminta maaf. Ini justru tidak membuat mereka senang. Karena kesenangan mereka adalah menyiksa pria ini dengan tuduhan lainnya.


Raka di tempatnya juga tidak habis pikir dengan tindakan yang di ambil atasannya ini.


Ada apa dengan Pak Banu? Membungkukkan badan dan kepala? Meminta maaf? Itu bukan gaya pak Banu. Karena aku tahu bagaimana beliau bekerja. Jadi dia tidak akan semudah itu membungkuk pada orang-orang yang mengunggulkan keserakahan.

__ADS_1


“Minta maaf? Berarti Anda mengakui kesalahan ini?” tanya tim pengawas menyipitkan matanya. Mereka saling pandang. Tidak percaya tidak ada kalimat bantahan dari Banu.


“Benar. Saya mengakui salah jika ternyata saya tidak peduli pada kantor cabang yang Pak Dirga maksud," ucap Banu.


“Anda tidak membantah?” tanya pengawas yang lain merasa ini tidak mungkin.


“Percuma saya membantah karena sudah ada bukti soal kelalaian Saya,” jawab Banu dengan tetap menundukkan kepalanya sedikit demi terlihat sebagai orang yang bersalah.


"Anda tahu akibatnya jika Anda mengaku salah?" tanya pengawas masih tidak percaya kalau Banu menyerah pada tuduhan rekan-rekannya.


Tidak Banu. Bukan seperti ini. Meskipun mereka sudah menutup semua celah untuk kamu menyangkal, seharusnya kamu bisa membalikkan semuanya menjadi serangan. Cahaya menggigit bibir dalamnya.

__ADS_1


"Anda akan di turunkan dari jabatan. Anda karena di anggap tidak becus dalam memimpin sebuah perusahaan, Pak Banu." Mereka menyebutkan hukuman yang akan di jatuhkan.


"Tidak. Pak Banu pasti punya alasan sendiri, Pak." Cahaya menyela. Dia tidak ingin putusan mereka keluar dan membuat Banu menyingkir dari kursi CEO-nya. "Katakan kamu menyangkalnya, Banu," kata Cahaya emosional.


Banu melihat ke arah bibinya. Tenanglah Bibi.


"Ya." Terdengar suara salah satu pengawas. Banu kini mengalihkan pandangan dari bibinya ke arah tim audit untuk mendengarkan mereka bicara. "Pasti Anda punya alasan. Jadi silakan bicara,” kata tim pengawas.


Pengawas yang lain setuju dengan itu. Mereka tidak mudah begitu saja membiarkan Banu menyerah tanpa menjelaskan apapun.


Apalagi? Orang-orang ini tidak percaya? Mereka tetap ingin Banu menyangkal padahal aku menyerahkan sejumlah bukti yang memberatkan kesalahan itu? Dirga menipiskan bibir seraya mengetatkan rahangnya.

__ADS_1


Bibir Banu tersenyum samar lagi. Dirga yang mengawasi Banu merasakan debaran kencang karena gelisah.


...______...


__ADS_2