
Di ruang rapat saat ini.
Suasana di ruang rapat kali ini sangat tegang jika di bandingkan dengan rapat yang sudah berlalu. Akan ada perubahan besar pada perusahaan Mandala. Karena posisi CEO yang banyak di incar banyak orang kosong. Pemiliknya masih tidak berdaya di rumah sakit.
"Bagaimana, Direktur? Apa voting pemilihan CEO yang baru bisa di mulai sekarang?" tanya seorang karyawan yang di tunjuk as sebagai pelaksana voting. Rapat soal saham naik dan turun sudah di bahas tadi, inti tema rapat yang paling di nanti sudah tiba.
Tanpa banyak kisruh, para eksekutif itu langsung mengatakan ingin mengganti CEO lama. Rupanya tidak butuh waktu banyak, Cahaya kalah telak. Pihaknya tidak punya banyak dukungan.
"Tidak perlu voting. Kita sudah punya calon CEO baru sendiri," celetuk salah satu petinggi perusahaan.
Cahaya menoleh. "Anda pribadi atau semua orang di sini?" tanya Cahaya ingin jelas.
"Itu adalah pilihan semua orang di sini, Direktur!" seru salah satu petinggi yang duduk agak jauh dari Cahaya. Yang lain pun berseru yang sama. Bibir Dirga tersenyum melihat direktur perempuan ini kewalahan.
Serahkan saja dengan mudah, Direktur. Itu akan membuat mu lebih berwibawa dan dipercaya semua orang daripada mempertahankan keponakanmu. Meski saham terbesar milik keluargamu, tapi jika banyak para eksekutif memberi protes keberatan soal posisi CEO yang kosong, kamu akan kesulitan.
Dirga bermonolog di dalam hati penuh dengan kemenangan.
Rahang Cahaya mengetat. Ia sudah tahu bahwa semua akan mengatakan itu. Tidak akan ada lagi kesempatan ia mengulur waktu. Inilah saatnya ia harus ikhlas berhenti berjuang untuk keponakannya.
"Baiklah. Silakan kamu umumkan saja secara langsung, siapa pengganti CEO Banu." Cahaya pasrah.
Jika memang semua sudah sepakat menentukan siapa orang yang pantas untuk menggantikan Banu, percuma di adakan voting. Dia tidak ingin berlama-lama di ruangan ini. Ia ingin segera menyingkir dan melihat keadaan keponakannya di rumah sakit.
Haras melirik ke arah Direktur. Dia mengerti perempuan ini sudah lelah. Beliau pasrah. Mereka tidak menyadari ada seseorang yang mendekati petugas voting. Bola mata petugas itu membola saat di bisikkan sesuatu.
"Maafkan atas kelancangan saya menunda pengumuman ini," kata petugas itu mengejutkan.
"Menunda? Apa yang kau katakan? CEO baru sudah siap. Kita punya satu suara, jadi apalagi yang di tunggu?!"
__ADS_1
Karena penundaan ini, semua berdengung tidak setuju. Suasana kisruh karena ini seperti perlawanan terakhir dari Cahaya untuk mempertahankan Banu.
"Ada apa Haras?" tanya Cahaya tidak paham. "Apa kamu yang menyuruh petugas itu menunda pengumuman ini?" tanya Cahaya.
"Bukan, Direktur. Saya tidak melakukan apa-apa." Haras membantah. Dia juga tidak mengerti kenapa. Cahaya dan Haras sama-sama mencoba mencari tahu ada apa dengan melihat ke sekitar.
"Ada apa ini? Kenapa aku juga belum di umumkan sebagai CEO secara resmi?" tanya Dirga geram pada eksekutif di sebelahnya.
"Maaf Pak Dirga, tapi itu bukan dari kita. Kita semua sudah menyatukan vote dengan nama Anda. Namun entah kenapa petugas yang berkewajiban untuk mengumumkan kemenangan Anda menunda," kata orang itu panik.
"Sial." Dirga memilih mengatasinya sendiri.
"Pak Dirga," cegah salah satu dari mereka. Namun Dirga di buatkan oleh ketamakan untuk mendapatkan posisi CEO. Pria ini terus saja berjalan menuju podium. Pria itu masih saja menunggu sesuatu.
Cahaya dan Haras ikut memperhatikan tindak tanduk Dirga. Semua cemas pria ini akan marah pada petugas itu.
"Kau. Apa yang kau lakukan? Bukannya seharusnya kau sudah mengumumkan hasil voting keseluruhan orang di dalam ruangan ini?" tegur Dirga.
"Tunggu? Apa yang sedang kau tunggu, hah?!" bentak Dirga menyentuh kemeja petugas itu.
Brak! Pintu ruang rapat terbuka. Semua mata melihat ke satu arah. Yaitu pintu yang terbuka itu. Dari sana muncul seorang pria dengan gagah dan penuh wibawanya.
Petugas itu tersenyum seraya berkata, "Beliau yang sedang saya tunggu, Pak. Saya menunggu kemunculan CEO kita, Pak Banu," ujar petugas ini membuat semua orang terhenyak kaget.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Banu dengan senyum. Raka berjalan di belakangnya.
Masing-masing orang di dalam ruangan ini melotot tidak percaya. Bahkan mereka sempat membeku sejenak.
"Banu ...," lirih Cahaya. Di kursinya, Cahaya ikut melebarkan mata. Namun setelah sadar dan yakin itu adalah benar-benar keponakannya, Cahaya berlari ke arah pria itu dan memeluknya. "Banu ..." Tak ayal lagi air mata mulai membasahi pipi perempuan ini.
__ADS_1
"Bibi ... Maafkan aku datang terlambat," kata Banu sambil membalas pelukan bibinya. Haras menganggukkan kepala hormat pada Banu. Raka tersenyum melihatnya dari belakang.
Dirga sendiri masih memegangi kemeja petugas itu dengan mata tertegun. Dia tidak menyangka akan melihat pria yang lebih muda darinya itu di ruang rapat penting ini.
"K-kenapa ..." Dirga urung melanjutkan kalimatnya. Dia sadar bahwa dia sedang berada di ruang rapat. Tangannya turun dan membetulkan kemeja petugas itu. Lalu bertepuk tangan tiba-tiba. Sontak semua mengikuti apa yang dilakukan pria ini.
Plok! Plok! Plok!
Tepuk tangan riuh terdengar di ruang rapat.
"Selamat datang kembali ke perusahaan ini, CEO," kata Dirga memulai ucapan selamat yang langsung di ikuti yang lain. Rupanya Dirga berhasil menyamarkan apa yang sudah ia lakukan tadi.
Cahaya melepas pelukannya. Ia mempersilakan Banu menunjukkan diri.
"Mari Pak," kata Raka mempersilakan Banu untuk menuju podium. Bola mata Banu dan Dirga sempat beradu beberapa detik tadi. Itu sebelum Dirga menjauh dari sana. Kini pria itu kembali duduk di kursinya.
"Terima kasih semuanya. Terima kasih sudah bersedia menunggu saya pulih," kata Banu. "Maaf saya datang terlambat hingga sempat membuat kericuhan tadi." Banu sempat menangkap suasana gaduh tadi.
Cahaya tersenyum senang. Matanya masih sembab. Namun ia harus mengatakan sesuatu untuk mengakhiri rapat ini. Banu paham kalau bibinya ingin menyampaikan sesuatu.
"Ibu Direktur akan menyampaikan sesuatu," kata Banu seraya mempersilakan bibinya naik ke podium.
"Atas kedatangan CEO Banu, semua sudah jelas. Semua masih tetap pada tempatnya. Tidak ada yang perlu di rubah. Jadi saya rasa, rapat ini cukup sekian. Terima kasih atas kedatangan Anda sekalian dalam rapat penting ini. Semoga kita akan di pertemukan lagi dalam rapat yang lebih penting dari ini. Terima kasih."
Semua orang di dalam ruang rapat mengangguk dan tersenyum terpaksa. Mereka yang berpikir akan menang dengan menjadikan Dirga CEO baru mereka, mulai menipiskan bibir kesal.
"Ayo, Banu. Kita ke ruanganku segera. Aku ingin bicara banyak hal padamu," kata Cahaya dengan wajah sangat bahagia. Tanpa permisi, mereka segera menghilang dari ruang rapat.
...______...
__ADS_1
..._____...