Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 19 ° Menunggu


__ADS_3

"Ya, aku memang tergesa-gesa."


"Ada apa? Kamu bisa cerita padaku."


Mili diam. Dia ragu untuk mengatakannya.


"Katakan saja, aku punya banyak waktu untuk mendengarkan mu," kata Raka yang sepetinya sengaja menyediakan dirinya untuk Mili.


"Ini soal Pak Banu," kata Mili.


"Pak Banu?" Raka langsung melihat ke sekeliling. Dia takut ada yang mendengar.


"Ya."


"Ada apa?" tanya Raka pelan.


"Roh, Pak Banu kesakitan tadi malam."


"Bukannya tadi malam dia ada di rumah sakit dengan kita?" tanya Raka yang langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu mendekat pada Mili dan berbisik, "Apa sekarang Pak Banu sedang berada di dekatmu?"


"Tidak. Setelah Pak Banu terus saja berteriak kesakitan tadi malam, pagi ini aku tidak menemukan dia dimanapun."


"Oh, Baiklah. Aku bebas bicara." Raka lega. "Apa ada hal lain yang terjadi?"


"Hal lain?" Kening Mili mengerut. Dia jadi ingat soal ciuman dari bibir dingin pria itu. "Oh, t-tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Mili cepat. Dia tidak mungkin membicarakan hal itu bukan?


"Baiklah kalau begitu. Aku bisa tenang kalau kamu baik-baik saja. Selamat bekerja Mili," kata Raka seraya menjauh pergi.


"Selamat bekerja juga," sahut Mili.


***


Di ruang kerja Dirga.


"Kenapa tidak ada tanda-tanda akan ada pertemuan para eksekutif? Apa direktur ragu karena tidak yakin akan menang? Huh ... seharusnya pimpinan memang tidak perlu di serahkan pada seorang perempuan."

__ADS_1


Tok! Tok! Pintu ruangan di ketuk seseorang.


"Masuklah," pinta Dirga. Seorang perempuan masuk. "Kau sudah mencari tahu apa yang di lakukan sepupumu itu di rumah sakit?" tanya Dirga.


"Ya. Dia mungkin hanya menjenguk. Bahkan Raka bukan datang dengan direktur Cahaya," kata Hilda.


"Bukan dengan direktur? Lalu dengan siapa? Haras?" tanya Dirga mengerutkan keningnya.


"Ya, tapi Pak Haras juga tidak lama. Raka masuk dengan orang lain ke dalam kamar Pak Banu," kata Hilda.


"Siapa? Jangan berbelit-belit, Hilda," desis Dirga.


"Dia bersama dengan karyawan baru."


"Karyawan baru?" Informasi ini sungguh mengejutkan Dirga. "Siapa dia?" tanya Dirga ingin tahu. Hilda maju ke depan seraya menyerahkan selembar foto. Dirga mengamati foto Mili yang di tangannya. Mengerutkan kening dan menyipitkan mata mencoba mencari tahu siapa gadis ini. "Kenapa mereka harus mengajak karyawan baru?"


"Saya tidak tahu, Pak."


Mendapat jawaban tidak pasti ini, Dirga menggeram. Dia meletakkan foto Mili di atas meja dengan kasar. "Seharusnya kamu mencari tahu lebih lengkap soal itu Hilda. Bukan setengah-setengah seperti ini ...," kata Dirga kesal.


"Maafkan saya." Hilda menunduk.


***


Sepulang kerja, Mili langsung mencari lagi roh Pak Banu yang biasa berkeliaran di dalam rumah ini. Namun tetap saja pria itu tidak muncul.


"Kemana Pak Banu ya? Apa dia ke rumah sakit lagi? Kalau benar, aku tidak bisa menjemputnya. Karena itu tempat yang sangat privasi. Tidak banyak orang bisa masuk kesana. Hhh ..." Mili meletakkan pantatnya di atas sofa bututnya.


Ponselnya berbunyi. Ia menoleh ke samping. Mengambil ponsel itu dan melihatnya. Ternyata dari operator. Paketan internetan-nya hampir habis. Mili bangkit dan segera menuju ke kamar mandi.


"Kemana Pak Banu ya?"


Pikiran Mili terus saja ke arah pria itu. Tangannya menyentuh bibir. Dia masih ingat ciuman dengan bibir dingin itu.


"Apa Pak Banu tengah mengalami sesuatu?" Mili tidak bisa berhenti memikirkan makhluk tak kasat mata itu. Dia cemas dan was-was.

__ADS_1


Dengan memaksakan diri, Mili berangkat ke rumah sakit sendirian. Dia berjalan dengan degup jantung tidak tenang di lorong menuju kamar perawatan Pak Banu.


Saat itu Dirga juga sedang berada di lorong yang sama. Bola matanya tertahan oleh keberadaan Mili yang berdiri di pinggir.


"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu," gumam Dirga seraya melirik. Saat itu Mili tengah menunduk gelisah. Dia ingin masuk lagi ke dalam kamar perawatan itu, tapi tidak mungkin karena tidak ada Raka bersamanya. Penjaga di luar itu tidak akan membiarkan dia masuk. Karena larut dalam pikirannya sendiri, Mili tidak sadar tengah di amati oleh Dirga.


Bola mata Dirga melebar. Dia ingat wajah itu. Wajah yang ada di dalam foto yang di tunjukkan Hilda padanya. Kakinya berhenti. Kemudian membalikkan badan.


"Kamu karyawan Mandala?" tegur Dirga tenang. Mili mendongak. Bola matanya melebar.


Pak Dirga! Mili terkejut. Dia langsung panik dan hendak kabur dari sana. Namun pak Dirga menawarkan sesuatu yang menggiurkan. Hingga membuat langkahnya terhenti dan urung pergi.


"Apa kamu mau menjenguk Banu? Kalau iya, aku bisa mengantarmu ke sana. Karena sekalian kita menjenguk bersama," tawar Dirga. Mili diam sambil menatap Pak Dirga.


"S-saya bukan siapa-siapa. Jadi saya rasa ... saya tidak terlalu punya hak untuk masuk ke ruangan Pak Banu di rawat," kata Mili menguatkan diri untuk tidak ikut pria ini masuk ke sana.


"Oh, ya? Aku pikir kamu sangat ingin bertemu dengan Banu, karena ia atasan yang baik. Jadi kamu pasti juga ingin bertemu dan berharap kesembuhannya," kata Dirga sangat apik.


Mili harus sadar bahwa ini tipu daya Dirga. Entah apa yang akan terjadi jika ada yang tahu bahwa dia dan Dirga masuk ke dalam ruang perawatan Pak Banu bersama. Bukannya Pak Banu pernah bilang padanya kalau kemungkinan orang yang mencelakainya adalah Dirga.


Aku ingin bertemu Pak Banu. Mili sangat ingin bertemu pria itu.


"Aku tahu kamu karyawan yang baik. Kedatanganmu ke sini adakah bukti kalau kamu sangat menghormati atasanmu. Bahkan tidak ada karyawan lain yang datang untuk menjenguknya. Hanya kamu. Jadi aku rasa lebih baik kamu sekalian saja masuk denganku," ujar Dirga begitu manis.


Ingat Mili, Pak Dirga adalah orang yang dicurigai Pak Banu. Kamu jangan terkecoh. Kalimatnya itu menunjukkan bahwa dia sudah menandai kamu. Dia mulai menyadari kamu ada hubungannya dengan Pak Banu. Itu berarti ini gawat!


"Aku pikir aku tidak memperbolehkan orang lain berada di area ini." Sebuah suara tegas menegur mereka. Mili dan Dirga menoleh bersamaan ke asal suara. Direktur Cahaya datang bersama Haras.


Direktur! Mili terkejut. Dia langsung menunduk saat ujung mata itu meliriknya tajam. Ia merasa bersalah.


"Oh, direktur. Maafkan kelancanganku. Aku hanya ingin menjenguk Banu. Dia juga temanku bukan?" Dirga langsung bisa mengatasi keadaan.


"Tidak di perbolehkan siapapun datang ke sini tanpa ijinku. Begitu juga kamu," kata Cahaya tegas. Mili sedikit gemetar. Dia juga termasuk orang lain yang tidak di perbolehkan berada di sini tanpa ijin direktur.


Dirga melirik ke arah Mili. Dia tahu gadis itu gemetar karena tatapan Direktur Cahaya.

__ADS_1


...___...



__ADS_2