Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 59 ° Informasi


__ADS_3

"Ini pekerjaan yang penting untuk saya, Pak." Mili memohon.


"Kalau kamu menikah denganku, aku pastikan kamu tidak perlu bekerja lagi," ujar Banu enteng. Tentu saja ini membuat Mili membelalakkan mata. Lalu berdecak samar karena gombalan pria ini. Melihat itu Banu tergelak. "Baiklah. Nanti aku akan mengunjungi mu di toko," kata Banu akhirnya.


Mili bukan tidak suka membahas pernikahan. Namun terlalu muluk jika dia langsung berpikir ke sana. Padahal mereka baru saja menjadi sepasang kekasih. Bahkan kencan saja belum pernah.


"Saya permisi dulu." Mili bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu.


"Tunggu, Mili. Apa tidak ada yang tertinggal?" tanya Banu membuat langkah Mili terhenti.


"Tertinggal? Em ..." Mili melihat ke seluruh area duduk. Namun dia yakin tidak ada yang tertinggal. Topi dari toko juga sudah ia pakai. "Tidak. Saya yakin tidak ada," jawab Mili yakin.


"Oh, ya?" Banu berjalan mendekati Mili. Gadis inj mengerutkan kening.


"Kamu salah. Aku yakin kamu melupakan sesuatu," ujar Banu sudah berdiri tepat di depan Mili. Gadis ini tidak paham. Tiba-tiba Banu mendekatkan wajahnya. "Ini. Kamu belum mengecup pipi ku," ujar Banu membuat Mili melebarkan mata.


"A-apa?" tanya Mili tidak percaya.


"Kenapa terkejut?" tanya Banu seakan permintaan itu bukan hal aneh.

__ADS_1


"Kita kan baru menjadi kekasih."


"Lalu?"


"Apa Pak Banu seperti ini pada semua kekasih Bapak?" tanya Mili menyelidiki.


"Tidak. Karena aku belum pernah serius menjalin hubungan dengan wanita," ungkap Banu. Mili terdiam menatap pria ini. "Jika masih berpikir lama, sebaiknya aku saja yang memberi kecupan."


Namun saat Banu mau melakukannya, tiba-tiba pintu terbuka membuat Mili terkejut.


"Pak Banu, direktur bilang ... " Raka terdiam karena orang-orang di dalam ruangan membeku dan menoleh padanya bersamaan.


"Ah, Kak Raka. Sepertinya Pak Banu sudah bisa di ajak bicara. Aku harus kembali ke toko. Keperluan ku disini juga sudah selesai. Silakan Kak Raka masuk dan bicara dengan Pak Banu. Permisi." Mili segera kabur dari sana.


"Mili tunggu!" panggil Banu. Namun gadis itu sudah melesat pergi. Raka terdiam karena merasa salah. Banu menoleh pada Raka. "Ada apa kamu kemari?" tanya Banu sedikit gusar.


"Maaf. Ini soal laporan keuangan bagian divisi yang di pegang Pak Dirga. Ada yang tidak sama dengan laporan yang di berikan pada kita," kata Raka yang langsung membuat Banu mendekat dengan serius. Kepergian Mili terlupakan.


"Tidak sama?"

__ADS_1


"Ya. Ini laporan yang sudah aku selidiki, Pak." Raka menyodorkan kertas yang berisikan laporan keuangan yang sebenarnya.


"Dirga menggelapkan dana?" tebak Banu setelah membaca.


"Sepertinya begitu. Ada juga data rekening beberapa orang yang sepertinya tidak masuk akal. Ini data orang-orang itu." Dirga menyerahkan data lain.


Nama-nama itu adalah orang-orang yang berada di pihak yang berlawanan dengannya. Merekalah yang setuju untuk mencopot jabatan CEO dari dirinya.


Mereka pihak musuh.


"Bibi sudah tahu?" tanya Banu.


"Tidak. Senior Haras melarang aku untuk memberitahu beliau," sahut Raka.


"Oh, begitu." Banu tersenyum menganggap itu lucu. Raka mengerjapkan mata. Kurang mengerti konteks senyum Pak Banu dengan kalimatnya.


"Pasti Haras takut direktur marah besar jika tahu ada penggelapan dana di dalam tubuh perusahaan," kata Raka mengerti.


...____...

__ADS_1


__ADS_2