Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 79 ° Memelukmu


__ADS_3

Banu menemukan alasan wajah gadis ini menjadi merah. Itu karena jarak sempit antara tubuh mereka. Mili tidak mampu lagi untuk mengelak. Karena wajah dia memang memerah karena itu.


Manik mata gadis ini bergerak gugup. Bibir Banu tersenyum. Dia tahu itu. Bukannya menjauhkan tubuhnya dari gadis ini, Banu malah memeluk erat tubuh Mili.


"Pak Banu?" pekik Mili tertahan. Dia terkejut dengan pelukan ini. Bola matanya langsung melirik ke kanan dan kiri, takut ada orang toko yang melihat mereka. Beruntungnya tidak ada teman-teman dari toko roti.


“Diamlah. Biarkan aku memelukmu. Aku benar-benar sedang butuh pelukan,” kata Banu. Mili mendongak. Menatap rahang tegas milik pria ini dari sisi bawah. Akhirnya Mili pun pasrah. Lagipula, pelukan pria ini terasa begitu hangat di malam yang dingin.


“Ya,” sahut Mili pelan.


Banu tersenyum penuh dengan kemenangan menatap Mili.


“Aku benar-benar ingin langsung menemui mu Mili,” ujar Banu.


“Pak Banu tidak fokus bekerja? Itu curang. Karena kalau Bapak seorang bawahan, itu akan di anggap kesalahan,” ujar Mili protes meski dalam pelukan pria ini.

__ADS_1


“Sayangnya aku bukan bawahan. Aku seorang CEO, jadi tidak akan ada yang berani menegurku dan mengatakan aku tidak kompeten," pungkas Banu dengan kesan angkuh yang konyol. Namun Mili tahu itu kenyataannya.


“Makanya sangat pas kalau aku bilang Pak Banu itu curang.”


“Hmm ... “ Banu tersenyum. Setelah puas memeluk Mili, kini Pak Banu berganti menggenggam tangannya. "Sebaiknya aku menggenggam tanganmu saat kita jalan pulang ke rumah, Mili," ujar Pak Banu. Mili menunduk melihat ke arah jari-jarinya yang kini dalam genggaman tangan besar milik pria ini. Hatinya berdesir.


"Ya, silakan," sahut Mili mempersilakan. Jantungnya berdegup kencang. Ini terlihat sederhana, tapi terasa manis dan sangat membahagiakan. Sepanjang jalan mereka sama-sama tersenyum. Tidak sengaja mereka saling pandang secara bersamaan, lalu membuang muka karena kaget bersamaan pula. Ini sungguh lucu dan menggemaskan.


"Kenapa aku jadi malu-malu juga?" tanya Banu baru sadar. Mili tergelak pelan. Menyadari bahwa mereka sama-sama bertingkah polos tadi.


"Ya, itu wajar. Bukannya aku sedang bersama gadis yang aku cintai?” Alis Banu bergerak menggoda Mili. Gadis itu hanya tersenyum tipis dengan rona merah di pipinya. “Kadang aku bisa malu-malu seperti tadi, kadang aku juga bisa menggila tidak terkendali,” lanjut Banu.


"Menggila?" tanya Mili tidak mengerti.


"Ya."

__ADS_1


"Seperti apa itu, Pak?"


"Kamu ingin tahu?" Kali ini Banu yang mengerjapkan mata karena terkejut Mili penasaran. Kepala Mili mengangguk. Banu terdiam sesaat. Lalu berpikir sejenak.


Mili menatap pria tampan ini dari samping. Tampaknya penjelasan dari pertanyaan ku tadi sangat sulit. Buktinya Pak Banu terlihat berpikir keras sekarang.


"Tidak, tidak.” Banu menggelengkan kepalanya tiba-tiba. Dia tengah berbicara pada dirinya sendiri.


“Kenapa Pak?” tanya Mili. Kepala itu menoleh padanya. Sepertinya baru tersadar dari mimpi.


“Aku tidak ingin menunjukkan diriku yang seperti itu. Tidak terkendali itu sangat berbahaya." Banu benar-benar merasakan hawa berbahaya. Membayangkan saja membuat tubuhnya panas dingin tidak karuan.


"Ah, begitu ya ..." Mili mengangguk mencoba paham.


Dia tidak kecewa, bukan? Karena kalau aku menunjukkan sisi gila ku padanya, itu akan ...

__ADS_1


...______...


__ADS_2