
Banu menyentuh satu persatu barang di dalam ruang baca milik Dirga. Dia ingin tahu apapun yang ada di sana. Mungkin saja ia mendapatkan petunjuk. Klek! Pintu ruangan terbuka. Sesaat Banu terkejut seperti ada orang yang akan menangkap basah dirinya.
Banu berniat bersembunyi. Namun ia baru sadar sesuatu. Ternyata dia lupa kalau dia bukan manusia, melainkan roh. Jadi tidak akan ada masalah dia berada di ruangan ini.
"Bodoh. Bukankah dia tidak bisa melihatku," maki Banu pada dirinya sendiri. Lalu dia memilih melihat Dirga dengan tenang.
Pria itu duduk di kursi kerjanya. Menyentuh dagunya dan mendengus.
"Rapat eksekutif perusahaan? Huh. Direktur ada-ada saja. Apa dia tidak tahu kalau semua orang sudah berkomplot denganku untuk menghancurkan keponakannya yang angkuh itu." Dirga tersenyum sinis.
Banu berdiri tepat di depan Dirga. Sambil melipat tangan, Banu memperhatikan pria ini. Entah kenapa dia tidak terkejut saat pria itu mengakui bahwa dirinya adalah orang jahat. Mungkin Banu sudah mengira karena hubungan mereka yang kurang harmonis selama ini.
"Aku akan membuang bocah sombong itu dan menggantikannya. Dengan itu, aku tidak bisa lagi di remehkan oleh bocah itu atau siapapun," kata Dirga geram. Tangan pria ini menarik pintu laci meja. Lalu mengangkat sebuah benda kecil di tangannya. "USB ini akan aman di tanganku. Jadi tidak ada yang tahu bahwa kecelakaan itu adalah perbuatan ku." Dirga tersenyum miring lalu memasukkan kembali ke dalam laci.
Banu menatap pria ini tajam.
"Jadi memang kamu yang merencanakan semuanya? Ambisi mu besar juga," dengus Banu.
...****...
Esok hari. Pagi yang cerah.
Tok! tok! Raka yang sedang merapikan dokumen di rak, menoleh. Ia melangkah mendekat ke pintu tanpa menduga siapapun yang akan berada di depan pintu.
"Bu direktur?" Raka terkejut melihat kemunculan beliau.
"Boleh aku masuk?" tanya Cahaya.
"Ya. Silakan masuk, Bu." Raka mempersilakan. Ada banyak pertanyaan mengenai kemunculan direktur kali ini. Haras mengikuti langkah Cahaya di belakangnya.
"Silakan duduk. Sebentar, saya akan menyuruh ..."
.
"Tidak. Aku tidak perlu apa-apa. Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu," cegah Cahaya yang tahu Raka akan menyuruh seseorang untuk membuatkan minuman untuknya. Beliau duduk di sofa saat Raka masih berdiri di dekat pintu
"Oh ya, Direktur." Raka ikut duduk di sofa.
Ini mungkin bukan pertama kalinya, Raka berjumpa dengan direktur di dalam ruangan ini, tapi mungkin ini pertama kalinya beliau sengaja mendatanginya seperti ini.
"Aku tahu kamu adalah orang kepercayaan Banu selama dia masih sehat. Jadi aku berpikir untuk memintamu menjenguk keponakanku itu. Mungkin saja dengan begitu, dia akan bangun. Karena aku sudah kebingungan dengan keadaan Banu." Direktur Cahaya memegangi kepalanya.
"Direktur tidak apa-apa?" tanya Haras cepat.
__ADS_1
"Ya," sahut Cahaya.
"Kalau begitu, apa boleh saya mengajak seorang lagi yang dekat dengan Pak Banu, Direktur?" pinta Raka.
"Dekat? Banu jarang dekat dengan banyak orang. Siapa itu?" Kening Cahaya mengerut. Dia tahu benar keponakannya seperti apa.
"Saya akan mengajak Mili. Bukannya dia juga dekat dengan Pak Banu?"
"Oh, dia. Hmmm ... Apa kamu yakin juga dia tidak mengatakan pada banyak orang?" tanya Cahaya mendadak ragu. "Karena aku belum yakin jika dia benar-benar dekat dengan Banu. Banyak hal tidak masuk akal padanya. Hanya saja aku sempat percaya waktu itu. Seperti ada seseorang yang membisiki ku untuk menerimanya di sini," jelas direktur cantik ini.
"Melihat kita berdua sudah kenal lama, dia mungkin bisa di percaya juga Direktur," kata Raka.
"Baiklah. Kamu bisa mengajaknya ke rumah sakit. Ingat jangan sampai banyak orang tahu, kalau Banu di rawat di sana," pesan Cahaya. "Kalian harus hati-hati."
"Siap, Direktur."
***
Selesai makan siang.
"Halo, Mili," sapa Raka di pintu ruangannya.
"Kak Raka?" Mili terkejut dengan kedatangan Raka di ruangannya. Itu membuat semua orang melihatnya. Pasti tidak ada yang berpikir kalau anak baru ini dekat dengan orang kepercayaan CEO mereka. Gadis ini panik.
"Kenapa bisik-bisik?" tanya Raka heran.
"Tentu saja karena aku tidak mau mereka mengawasi kita," jawab Mili. Raka melihat ke sekelilingnya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Raka pada semua orang yang memperhatikannya. Sapaan ini justru membuat mereka spontan untuk berbalik dan fokus pada pekerjaan mereka.
Mereka serempak saat melakukannya.
"Kita bicara di luar saja." Raka meminta waktu. Mili mengangguk.
"Ada apa, Kak?"
"Nanti pulang kerja, ikut aku ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Orang penting. Kamu akan tahu siapa itu nanti." Raka bicara penuh dengan misteri. Mili mengangguk saja.
****
__ADS_1
Sepulang kerja, Raka menunggu Mili di area parkir. Dia sudah mengirim pesan pada gadis itu. Hilda yang melihat Raka berdiri di dekat mobilnya mendekat.
"Kenapa masih ada di sini?" tanya Hilda.
"Ya, aku masih ada pekerjaan. Kamu mau pulang?" tanya Raka pada sepupunya ini.
"Ya."
"Kamu bawa mobil kan?" tanya Raka.
"Bawa."
"Ya, sudah. Cepat pulang sana. Mendung tebal. Bahaya di jalanan kalau hujan," ucap Raka memberi nasehat.
"Oke. Aku pulang dulu."
Tak lama muncul Mili.
"Maaf, Kak. Aku baru selesai menyelesaikan pekerjaanku." Terlihat Mili terengah-engah.
"Kamu pasti lari saat ke sini," tebak Raka.
"Hehe ... Iya." Mili menggaruk lehernya.
"Atur dulu napas mu. Setelah tenang, kita berangkat."
Mili mengangguk. Gadis ini mengambil napas panjang dan membuangnya pelan. Dia mulai bisa bernapas normal. "Kita bisa berangkat, Kak." Mili tersenyum.
"Baiklah, ayo masuk ke dalam mobil," ajak Raka. Dia melangkah membuka pintu untuk Mili. Ini membuat Mili tidak enak hati. Setelah itu Raka ikut masuk lewat pintu lain.
Mereka tidak sadar kalau Hilda yang penasaran masih di sana. Apalagi ketika melihat Raka dan Mili bersama, gadis itu terus saja mengamati mereka.
"Raka dan Mili? Aku pikir ada pekerjaan itu apa, ternyata mereka mau kencan. Huh. Dasar Mili. Dia tahu siapa Raka, makanya dia mendekatinya." Hilda mencibir lalu menjauh dari mereka.
"Mili dan Raka berkencan?" tanya Banu yang muncul di sana. Raut wajahnya kesal. Ia berniat mengikuti mereka. Namun saat sampai di rumah sakit, Banu heran. "Rumah sakit? Kenapa mereka kencan di rumah sakit?" Banu tidak mengerti.
"Jadi Pak Banu ada di sini, Kak?" tanya Mili seraya melihat ke arah rumah sakit besar ini. Banu yang berada di sana tapi bersembunyi dari pandangan Mili, tertegun.
"Aku? Jadi mereka berdua mau menjengukku?" Banu mendongak menatap gedung rumah sakit. Ia tidak sadar rumah sakit yang mereka tuju adalah rumah sakit tempat dia di rawat.
...____...
__ADS_1