Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 90 ° Ini istimewa untukku


__ADS_3

Banu tersenyum mendengar Mili terburu-buru meralat kalimatnya tadi. Dia menyentuh ujung rambut Mili, lalu memilin pelan dan lembut. Mili melirik tangan pria itu.


"Oh, ya? Jadi apa poin pentingnya?" Pria ini bahkan mengendus rambut Mili. Untung saja dia sudah keramas saat berangkat kerja tadi. Gadis ini bergidik. Dia bergeser sedikit.


"Kenapa kamu menjauh?" tanya Banu melihat sikap Mili.


"Emm ... kamu terlihat menakutkan," ungkap Mili jujur. Ini membuat Banu tergelak.


"Hahaha ... Maaf, maaf." Rupanya dia sempat berangan-angan hal yang indah tadi. "Mendekatlah. Aku tidak akan menakuti mu." Meski begitu, Banu justru yang menarik tubuh Mili hingga begitu dekat dengannya. Bola mata Mili melebar panik. Banu senang dengan kepanikan itu. Namun dia tidak ingin Mili ketakutan. "Kita akan membicarakan makanan ini." Banu menunjuk ke arah meja. "Ini hanya makanan siap saji yang aku panaskan," kata Banu membuka rahasia.


"Kamu ... membelinya?" selidik Mili.


"Ya. Aku berniat memasak, seperti yang kamu sempat bayangkan tadi."


"Bukan," sanggah Mili cepat. Gadis ini jadi terlihat lucu.

__ADS_1


"Iya, iya aku tahu. Maksudnya aku ingin makan malam berdua romantis di rumah, tapi nyatanya hanya seperti ini." Banu tidak puas dengan hasil memasaknya. Ya, meskipun hanya membuat makanan dalam kemasan, ini juga di sebut memasak bukan?


"Aku suka," kata Mili cepat.


"Suka?" tanya Banu kurang jelas.


"Ya. Aku suka dengan semua ini, " ujar Mili mengaku. Dia yang tadinya mencari titik fokus yang lain, kini menatap Banu. Seandainya saja rona merah di atas pipi gadis ini tidak muncul, mungkin bagi Banu itu terdengar hanya cara untuk menghibur dirinya saja. Namun ketika melihat Mili malu-malu saat mengatakannya, Banu yakin kejutan ini menyentuh hati gadis ini. "Karena tidak ada yang pernah menyiapkan sebaik ini dalam hidupku. Ini pertama kalinya aku di perlakukan bagai orang yang istimewa. Jadi meksipun kamu tidak puas, tapi buatku ini sangat istimewa. Aku suka."


Bibir Banu yang terbuka langsung mencium Mili dan mencecapnya dalam kepuasan. Dalam sekejap bibir mungil itu di lahap habis oleh Banu. Mili yang awalnya terkejut dan masih membuka mata, kini perlahan menutup mata mengikuti permainan pria ini. Tangan gadis ini pun ikut melingkar di tubuh Banu.


Ciuman pun usai dan menyisakan napas mereka yang tersengal karena begitu menggebu. "Kamu juga istimewa untukku Mili. Keberadaan mu juga hal terbaik untukku." Kata-kata itu terasa hangat melewati relung hati Mili.


"Terima kasih."


"Jangan berterima kasih. Keberadaan kita sama-sama istimewa. Kita saling membutuhkan," ujar Banu. Mili tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Sebaiknya kita makan malam dulu. Sepertinya jam makan ku sudah lewat. Lagipula makanan ini akan cepat dingin kalau tidak segera di makan," ujar Mili segera ketika bola mata Banu justru tertancap pada bibirnya. Sepertinya pria itu hendak menerkam bibirnya lagi. Dia tidak ingi itu terjadi karena perutnya sudah kelaparan.


"Oh, baiklah." Banu mengerjapkan matanya setuju untuk makan.


Saat itu ponsel Banu berdering. Pria ini mengabaikan.


"Handphone mu berdering," kata Mili memberi tahu.


"Aku sedang kencan, mereka tidak bisa mengganggu ku." Banu tidak peduli.


"Mungkin itu penting."


"Tidak. Kamu yang lebih penting," sanggah Banu. Mili akhirnya meraih ponsel itu.


"Direktur sedang menelepon mu." Mili menunjukkan tulisan pada layar ponsel.

__ADS_1


...____...


__ADS_2