
"Tentu saja," jawab Mili cepat. Setelah keluar dari mobil, Mili mencoba merapikan pakaiannya. Yang sungguh patut di syukuri adalah dia tidak memakai baju kerja. Setidaknya ia sudah ganti baju yang lain saat ini.
"Ayo," ajak Banu yang masih melihat Mili belum melangkah.
"Sebentar. Aku harus merapikan diri agar terlihat baik di depan Bu direktur," ujar Mili cemas seraya merapikan rambut. Banu mendekati Mili.
"Kamu sudah cukup baik seperti sekarang, Mili," ujar Banu meyakinkan.
"Tidak. Bu direktur pasti tidak suka kalau aku tampil seadanya seperti ini. Mili benar-benar panik. Banu tidak bisa meyakinkan gadisnya.
Yang Mili hadapi bukan hanya seorang direktur, tapi bibi kekasihnya. Itu tidak bisa di anggap enteng. Dia yang hanya memakai blus lengan tiga perempat dengan aksesoris kancing besar di tengahnya, tidak cukup pantas jika harus bertemu direktur.
"Mili. Kamu datang bersamaku, jadi kamu tidak perlu takut."
"Jujur aku takut. Takut bibi menolak ku." Mili meraih setelan jas kerja yang masih di pakai Banu. Menggenggamnya untuk mencegah Banu mengajaknya masuk. "Aku juga tidak membawa oleh-oleh. Ini seperti tidak menghormati beliau."
"Tidak, tidak. Tidak akan ada yang menolak mu. Aku pastikan itu." Banu berusaha meyakinkan sekali lagi. "Lagipula, kamu sudah cantik meski hanya memakai blus dan tanpa make up," ujar Banu dengan senyuman menggodanya.
__ADS_1
"Bukan kamu, tapi bu direktur," sanggah Mili.
"Hhh ... Kalau begitu ... " Cup! Tiba-tiba Banu mengecup pipi Mili pelan. Wajah gadis ini langsung merah.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mili panik. Tangannya menyentuh pipi yang sudah di sentuh oleh bibir Banu.
"Rona merah itu akan membuatmu makin cantik," ujar Banu dengan tatap mata nakal. Mili mengalihkan pandangannya sejenak dari Banu lalu menatap lurus-lurus pria ini.
"Ini bukan main-main."
"Benarkah?" tanya Mili sedikit percaya.
"Iya. Dia seorang direktur juga bibi dari keponakan yang sudah tidak punya orangtua. Jadi beliau selalu bersikap tegas dan keras untuk mendidik ku," jelas Banu.
"Baiklah. Aku mencoba percaya." Mili pasrah. Mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Bibi, kami datang." Banu menyapa. Perempuan itu menoleh. Bibirnya tersenyum. Dengan dorongan lembut pada bahu Mili oleh Banu, gadis ini maju dan memberi hormat pada beliau dengan kaku.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak membawa oleh-oleh ...," ujar Mili.
"Aku tidak memberitahunya kalau aku ajak makan malam bersama bibi," kata Banu membantu gadis ini agar tidak malu.
"Tidak apa-apa Mili, direktur bukan orang yang akan mempermasalahkan soal itu. Duduklah," kata Haras. Ternyata bibi tidak sendirian. Di sana ada Haras. Mili sedikit lega.
"Terima kasih." Mili duduk ketika Banu menarik kursi untuknya.
"Ini rumah. Kamu bisa bersikap santai padaku, jangan terlalu kaku." Bibi rupanya bisa membaca sikap Mili yang penuh dengan ketegangan.
"Ma-af." Mili menunduk.
"Kamu pasti bisa bersikap tenang. Seperti saat aku memberi mu peringatan untuk menjauhi Banu di toko itu." Rupanya Cahaya masih ingat itu. Mili terkejut. Banu tergelak pelan.
"Gadisku lebih cantik dengan sikap percaya dirinya bukan?" Bukan memutus, Banu malah ikut memperpanjang pembicaraan soal itu. Bibi tersenyum melihat itu.
..._____...
__ADS_1